Tampilkan postingan dengan label my opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my opinion. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

INDAHNYA (BUKAN) LELAKI TERINDAH


(Catatan atas pembacaan Novel (Bukan) Lelaki Terindah
Oleh: Mira Pasolong
(Pendidik dan Penulis)
           
Seorang penulis yang baik sudah pasti adalah pembaca yang baik pula. Ungkapan ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah di kalangan orang- orang yang bergelut di dunia tulis menulis. Penulis harus pandai “membaca”. Membaca apa saja yang bisa dilihat, dirasa, dan diraba. Hasil pembacaan yang jeli akan melahirkan sebuah karya yang tentu saja indah.
            Hal itulah yang dilakukan Riyanto El- Harist, penulis novel (Bukan) Lelaki Terindah. Dalam (Bukan) lelaki Terindah, Riyanto El-Harits mencoba membaca ulang (mengkaji) fenomena sosial yang banyak terjadi di sekitar kita, yang terkadang luput dari perhatian kita. Sebagai sebuah karya sastra, seyogyanyalah memang mengangkat masalah- masalah sosial kemasyarakatan. Sebagai mana yang dikatakan oleh Wellek dan Warren bahwa sastra itu sebenarnya adalah institusi sosial dan  institusi kehidupan yang menggunakan bahasa sebagai medianya.
Penulis adalah merupakan elemen masyarakat yang bertanggung jawab menegakkan nilai-nilai kebenaran melalui tulisan- tulisannya. Riyanto El-Harits menyadari betul akan hal itu, dan dituangkannya dalam novel ini. Riyanto El- Harits, dengan  kepiawaiannya merangkai kata, berhasil membuai pembaca  dengan suguhan- suguhan kalimatnya dalam (Bukan) Lelaki Terindah. Seperti novel- novelnya yang terdahulu, novel inipun sarat  makna dan hikmah. Dia mencoba mengungkap kenyataan sosial yang lumrah terjadi, tapi cenderung dianggap tabu untuk dibicarakan. Novel ini bertabur hikmah tentang cinta, persahabatan dan ketulusan, walaupun diangkat dari sebuah tema yang “agak tabu/ bahkan terlarang”.
Membaca Bab pertama, kita disuguhi sajian yang memiriskan tentang korban- korban kebiadan zionis Israel di palestina. Kisah miris ini hanya merupakan bingkai dari sebuah kisah tentang ketulusan. Cinta yang tulus dari seorang wanita Australia bernama Jeanette dan seorang lelaki Indonesia. Sayang sekali kisah cinta penuh romansa ini harus berakhir tragis.
Pada bab- bab selanjutnya, kisah (Bukan) Lelaki Terindah dilanjutkan dengan mem-flashback kisah sang tokoh utama Rudi. Kisah ini menjadi mengharu biru dengan persahabatan “segi tiga” antara Rudi, Aldi dan Emma.” Melalui konflik- konflik kecil diantara ketiganyalah kisah ini dibangun. Mengikuti keseluruhan alurnya, maka akan kita temukan beragam makna kehidupan yang mungkin sudah agak jarang kita temukan pada masayarakat hedonis seperti sekarang ini, cinta dan ketulusan.
Saya terhanyut ketika membaca lembar demi lembar kisah persahabatan antara para tokohnya. Saya ikut merasakan kegundahan dan keresahan Emma, ketika menyadari sahabatnya mungkin berada dalam bahaya. Dengan indahnya Riyanto El-Harits membingkai kecemasan Emma, dengan membiarkan hubungan Emma dan Aldi merenggang. Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa sedekat apapun kita dengan seseorang, tetapi tetap ada ruang- ruang privacy yang tidak bisa kita masuki. Berikut cuplikan kalimat yang dilontarkan Aldi kepada Emma, sebagai wujud ketaksukaannya jika Emma terlalu mencampuri urusannya.
Ma, aku tahu kamu sahabat yang paling baik dan peduli padaku. Kamu juga orang pertama yang membuatku merasa lebih dewasa. Tapi bukan berarti kamu bisa mengatur semua hal dalam hidupku……….” ((bukan) Lelaki Terindah, hal. 72).
 Novel inipun sarat dengan nilai- nilai pengorbanan. Sejak memasuki Bab II, kita sudah dihidangkan penderitaan dan pengorbanan seorang Rudi. Secara tersirat, dengan lihainya Riyanto El-Harits menggiring kita pada suatu kesimpulan bahwa Rudi adalah seorang yang  (maaf) menyukai sesama jenis. Tema homoseksual dalam novel ini ditilik dari sudut pandang yang unik dan tidak seperti angggapan masyarakat pada umumnya. Dalam masyarakat kita tertanam anggapan bahwa seseorang yang mengidap homoseksual akan sangat protektif dan posesif terhadap orang yang disukainya. Bahkan sering kali sampai terjadi kekerasan karena hal ini.
Tetapi dalam (bukan) Lelaki terindah, Rudi justru mencoba mengalihkan rasa protektif dan posesifnya secara possitif. Rudi bahkan tidak ingin menjadikan sahabatnya sama seperti dirinya. Kisah mengharu biru Rudi dalam melawan dilema di hatinyalah yang membuat saya, sebagai pembaca , harus berurai air mata. Di sinilah nampak ketulusan nilai- nilai persahabatan yang dibangun oleh Rudi dan Alwi. Bahkan atas dasar ketulusan itulah, pada akhirnya Rudi bisa bangkit melawan ketaknormalannya, walaupun itu terjadi setelah mereka sudah berjauhan.
Banyak sisi- sisi menarik  yang bisa kita temukan dalam novel berhalaman lebih dua ratus ini. Pertama, konflik dibangun dengan lugas, mengalir, tanpa mengada- ada sehingga pembaca seakan- akan merasakan sesuatu yang nyata. Kedua, Riyanto El-Harits, melalui penggambaran tokoh- tokohnya, mencoba mengungkap sebuah nilai ketulusan dalam sebuah hubungan. Melalui novel ini, kita akan menyaari bahwa Insya Allah ketulusan masihlah sebuah keniscayaan di zaman ini.  Ketiga, novel ini merupakan bukti bahwa cerita tentang cinta akan semakin indah jika dibingkai dengan kalimat- kalimat indah, tanpa kevulgaran. Dan keempat, gaya bertutur Riyanto El-Harits yang khas merupakan daya tarik tersendiri, yang membuat pembaca tidak akan beranjak sebelum menamatkannya.
Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa inilah novel tentang cinta yang bisa mendekatkan kita pada kasih sayang-Nya dan membuat kita semakin pandai bersyukur atas segala anugerah-Nya. (Bukan) Lelaki Terindah  adalah novel tentang cinta yang terindah yang pernah saya baca.
(Dimuat di Koran Harian Fajar, Minggu/ 29 Januari 2012)




Kamis, 03 November 2011

Jangan Sering Melarang

Majalah UMMI
Edisi : No.6 Tahun XXI | Rubrik: Dunia Wanita |

Mira Pasolong, Pendidik, tinggal di Mamuju, Sulawesi Barat
"Awas, nanti jatuh, Nak." Kalimat ini hampir selalu menghiasi lisan keseharian para ibu. Tapi buat saya, saya menyadari bahwa usia anak waktunya untuk bereksplorasi, baik dengan dirinya sendiri, lingkungan maupun alam sekitarnya. Maka teriakan, larangan dan kekhawatiran berlebihan hendaknya tidak menjadi konsumsi anak di usianya yang tergolong golden age.
Lalu apa yang harus kita perbuat? Padahal, keluarga amat berperan dalam membentuk tatanan kehidupan bermasyarakat. Ibu adalah manajer dalam keluarga. Tugasnya mengatur dan menata anggotanya. Ibu-lah yang banyak berperan menemani, mengajari dan mengarahkan anaknya tentang dasar-dasar kehidupan Islami. Tak salah jika di tangan ibu tercipta generasi berkualitas. Betapa pun berat tugasnya, namun derajatnya amat mulia di mata Allah swt.
Al-Quran sebagai pedoman umat Muslim telah menuntun kita untuk menjadi orangtua, terutama ibu yang baik, penuh kasih dan mampu menuntun anaknya ke jalan Allah. Nasihat Luqman as kepada anaknya seperti tercantum pada Al-Quran surat Luqman ayat 12-19 menjadi petunjuk paling akurat tentang cara mendidik anak.
Ayat tersebut berbunyi, “Sungguh merupakan tuntunan tentang bagaimana mengarahkan anak, bagaimana mengajarkan anak tentang keesaan Allah, kewajiban untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, kewajiban mendirikan shalat sampai kepada masalah akhlak berpakaian, berjalan, berbicara dan bertingkah laku.”
Kenyataannya, sangat sulit untuk mengaplikasikan hal tersebut. Padahal, disadari atau tidak, kekhawatiran berlebihan akan menghambat pertumbuhan anak secara fisik maupun mental. Anak tak memiliki cukup ruang untuk mengembangkan kreativitasnya. Psikis pun terhambat karena anak merasa kemampuannya untuk melakukan sesuatu tidak diakui. Akibatnya, saat menginjak usia remaja atau dewasa, mereka kurang percaya diri dan tidak maksimal mengaktualisasikan diri dalam lingkungan.
Biasanya, anak akan semakin aktif jika mendapat larangan. Tindakan ini untuk membuktikan dirinya mampu. Tak jarang sikap anak tersebut membuat orangtua marah dan menilainya sebagai anak nakal karena tak bisa diatur. Tutur kata demikian menimbulkan sugesti dirinya memang nakal. Penilaian tersebut akan terbawa hingga mereka dewasa.
Selain itu, anak cenderung mencontoh apa yang dilihat dan dialaminya daripada mengerjakan apa yang didengarnya. Maka, keteladanan orangtua menjadi kunci utama mendidik anak. Mereka tidak bisa melunakkan suaranya jika setiap hari mendengar teriakan orangtua dan orang di sekelilingnya. Kita tak bisa memintanya untuk tidak marah sementara kita mengajarkannya dalam keadaan emosi. Sangatlah mustahil untuk menjelaskan kewajiban shalat padahal kita tidak melakukannya.
Untuk dapat mencetak generasi Rabbani yang mumpuni, mampu bertahan dari godaan duniawi, dan cinta kepada sesuatu yang berbau ukhrawi, orangtua harus mengenalkan anak pada lingkungan yang Islami. Selain itu, orangtua hendaknya mengerjakan amal kebajikan dan menjauhi perbuatan tercela. Perlakukan anak dengan penuh kasih sayang, memberikan pujian apabila anak melakukan hal baik, dan menasihati dengan lemah lembut apabila anak melakukan kesalahan. Semoga generasi Islam yang akan datang menjadi generasi yang teguh pendirian, tangguh dan tawadhu. Amin Ya Rabbul Alamin.

MENJELANG UJIAN NASIONAL

OLEH : MIRAWATI, S.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Mahasiswa Pasca Sarjana UNM)
            Tinggal berbilang hari Ujian Nasional akan segera kita jelang. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh semua elemen yang terlibat di dalamnya. Sekolah- sekolah penyelenggara berbenah diri untuk menyambut pelaksanaannya yang tentu saja sangat diharapkan akan lebih baik dari tahun- tahun sebelumnya.
            Bertahun- tahun sudah Ujian Nasional dilaksanakan. Tetapi selama itu pula objektifitas dan keabsahannya selalu diragukan. Penyelenggaraannya pun tidak banyak mengalami perbaikan walaupun secara teknis sudah mengalami berbagai perombakan. Permasalahan inilah yang sering menggelitik para pemerhati pendidikan, sehingga pro kontra akan pelaksanaan Ujian Nasional tidak pernah reda. Bagi yang pro menganggap bahwa Ujian nasional harus tetap dilaksanakan karena itulah yang menjadi tolok ukur standar pendidikn nasional. Sementara bagi yang kontra menganggap bahwa Ujian nasional hanyalah suatu kemubadziran karena tidak akan bisa meningkatkan mutu pendidikan nasional, sementara anggaran untuk penyelenggaraannya sangatlah besar. Apa gunanya kita mengukur pencapaian pendidikan secara nasional, kalau hasilnya tidak bisa dipakai untuk memperbaiki mutu pendidikan iu sendiri.
            Terlepas dari pro kontra tersebut, kenyataannya Ujian Nasional tetap dilaksanakan walaupun tentu saja juga tetap menuai berbagai protes. Lantas sebenarnya sejauh manakah pengaruh Ujian Nasional terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional? Pertanyaan ini tidak harus dijawab dengan sebuah kalimat, apalagi hanya sekedar kalimat retorik. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan dengan atau pun tanpa Ujian Nasional.
            Sejak mulai diselenggarakan tahun 1993 yang lalu, saat namanya masih EBTANAS, sampai kemudian berubha nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAS) dan kemudian berubah lagi menjadi Ujian Nasional (UN), tidak ada perubahan signifikan yang mengiringi perubahan nama tersebut. Kalaupun ada perubahan mendasar, maka itu adalah standar kelulusan yang setiap tahunnya meningkat.
            Peningkatan standar kelulusan inilah yang tahun demi tahun menjadi momok, bukan saja bagi siswa, tetapi juga bagi guru dan bahkan bagi pemerintah daerah. Beberapa bulan sebelum pelaksanaan Ujian Nasional dilaksanakan, siswa digenjot dengan les di sekolah. Bimbingan belajar pun menjamur di mana- mana sebagai wadah yang siap membantu siswa menyiapkan diri menghadapi Ujian Nasional. Tapi bimbingan belajar tersebut hanya bisa dinikmati oleh segelintir siswa yang mampu secara ekonomi. Bagi siswa yang tidak berduit, maka sekolahlah andalan mereka satu- satunya.
            Dalam hal mempersiapkan siswa menghadapi Ujian Nasional, sekolah selalu siap dengan berbagai programnya. Sayang sekali program tersebut hanya bersifat instan. Taruhlah misalnya program penambahan jam pelajaran di luar jam wajib (les)  ataupun try- out. Semuanya dilakukan beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu sebelum ujian dilaksanakan. Sehingga mereka akan kalang kabut jika terjadi perubahan jadwal seperti yang terjadi tahun ini. Intinya adalah semua progrsm tersebut hanyalah merupakan tujuan jangka pendek yakni mempersiapkan siswa menghadapi Ujian Nasional. Sementara itu tujuan jangka panjang seakan- akan terabaikan. Nah, pada saat sekolah ( dalam hal ini guru) menyadari bahwa siswanya kurang siap menghadapi ujian, sementara di sisi lain sekolah dituntut untuk bisa meluluskan siswanya 100%  demi suatu kepentingan, maka di sinilah rawan terjadi kecurangan yang selama ini sering menodai pelaksanaan ujian nasional. Pun dalam hal ini gurulah yang menjadi kambing hitamnya. Pada hal yakin saja, seorang guru tidak akan nekad melakukan hal tersebut jika tidak ada perintah atau minimal dorongan dari atasan. Karena melakukan hal tersebut sama saja dengan menginjak- injak martabatnya sebagai guru.
            Efek yang paling terasa dengan kecurangan tersebut adalah siswa menjadi ogah- ogahan untuk belajar karena mereka sudah mendapatkan informasi dari siswa sebelumnya yang sudah tamat bahwa mereka akan mendapatkan bantuan. Kalau hal seperti ini yang terjadi dari tahun ke tahun, maka yakin saja tidak akan pernah Ujian Nasional bisa dijadikan tolok ukur peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, bahkan yang terjadi adalah penurunan mutu pendidikan karena siswa tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar giat.
            Alangkah baiknya jika siswa sudah dipersiapkan sejak awal bahkan sejak kelas satu sehingga Ujian Nasional tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Seperti tahun ini, ketika pemerintah memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan Ujian Nasional, hampir semua siswa (kecuali sekolah berstandar nasional dan internasional)  merasa kaget dan cemas. Nah, seandainya persiapan baik secara materi maupun mental sudah dilakukan sejak awal, maka kekuatiran tersebut tidak perlu ada. Semua elemen pendidikan (siswa, guru, kepala sekolah, pemerintah setempat) akan siap secara fisik dan mental. Tetapi karena memang proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah masih cenderung  bersifat jangka pendek sehingga siswa tidak pernah merasa siap sebelum waktunya. Bahkan ketika waktunya tiba pun mereka masih merasa belum siap.
            Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional 2010 dan demi perbaikan mutu pendidikan Indonesia ke depannya, maka sebaiknya kita berhenti mempermasalahkan perlu tidaknya ujian nasional diselenggarakan. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana mutu pendidikan di Indonesia bisa ditingkatkan. Bagaimana paradigma  belajar anak- anak Indonesia yang lebih senang  menghafal bisa dirobah dan diarahkan untuk terbiasa memahami, mengamati dan mengaplikasikan apa yang dipelajarinya. 
Kalaupun misalnya Ujian nasional tetap diadakan, harus ditemukan cara yang tepat agar penyelenggarannya betul- betul objektif dan bisa menghasilkan pengukuran hasil belajar yang valid,  sehingga Ujian Nasional tersebut betul- betul bisa menjadi tolok ukur mutu pendidikan nasional kita. Tentu saja hal ini memungkinkan, jika elemen yang terlibat dalam pendidikan mempunyai keinginan untuk memperbaiki kinerja mereka  dan bekerja sesuai dengan kapasitas mereka masing- masing . Sebaliknya kalau Ujian Nasional ditiadakan, maka harus ada program pengganti yang bisa dipakai untuk mengukur standar pendidikan secara nasional. Dan program pengganti ini harus lebih efektif dan efisien dari berbagai segi dibanding Ujian Nasional.
            Tetapi terlepas dari itu semua yang perlu diingat dan diperhatikan oleh para pelaku pendidikan, penentu kebijakan di bidang pendidikan maupun semua elemen pemerhati pendidikan adalah bahwa ada hal penting yang perlu diberikan kepada siswa sebagai penerus generasi bangsa selain hanya sekedar deretan angka- angka dalam transkrip nilai di ijazah, yaitu ilmu, keterampilan dan moral yang baik. Setelah sekian tahun menempuh pendidikan, alangkah indahnya jika setelah tamat, siswa bisa memadukan antara ilmu, keterampilan  dan moral yang baik. Kalau ini bisa dilakukan, maka apapun tolok ukur yang dipakai untuk mengukur standar pendidikan secara nasional, tidak akan membuat siswa kuatir karena mereka telah memiliki persiapan yang matang, bukan hanya untuk menghadapi ujian akhir di sekolah tetapi bahkan untuk menghadapi persaingan di dunia kerja nantinya.
            Bagaimanapun juga untuk tahun 2010 ini, kita menaruh harapan yang besar terhadap kinerja para penyelenggara Ujian Nasional agar berbagai kendala dan hambatan dan juga kecurangan- kecurangan  yang terjadi di tahun- tahun sebelumnya tidak lagi ditemukan tahun ini. Sebuah harapan yang tulus dari masyarakat yang ingin melihat pendidikan di Indonesia maju. Semoga.

Dimuat di Koran Harian Fajar pada tanggal  19 Maret 2010