Tampilkan postingan dengan label MY SHORT STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY SHORT STORY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

ISTANA PASIR




Oleh : Mira Pasolong
                Adalah sosokmu, yang datang dan pergi bagai kilat. Sekedar datang menikmati seduhan kopiku, dan lalu menghilang tanpa selarik kata. Sejak saat itu, sejak tak ada lagi ucapan salam di malam ba’da isya, kanvas dan cat warna yang biasa mengukir senyum manis di bibirkupun menghilang.  
            Tak ada yang perlu dipersalahkan. Kau tak pernah tahu, geletar yang ada dalam dadaku pada setiap kemunculanmu di ambang pintu rumahku. Kaupun tak pernah tahu, seberapa sering aku menikmati manis senyummu dari balik gorden pintu tengah rumah. Bahkan kau tak pernah tahu, cinta remajaku masih meremaja hinggan kini.
            “Ada Bapak, Dek?” Selalu begitu sapamu lembut. Dan aku, dengan malu-malu mempersilakanmu masuk, duduk, dan berlalu ke dalam rumah memanggil Bapak.
            Dari balik jendela, aku mendengarkan percakapanmu dengan Bapak. Tentang bara semangat dalam dadamu untuk bersekolah, tentang perkebunan Bapak yang akan dipercayakan untuk kau kelola, tentang betapa kerasnya hidup, dan beragam hal lain. Selalu begitu. Kau ke rumah memenuhi panggilan Bapak. Bukan mengunjungiku.
            Sementara aku, remaja tujuh belas yang sedang meranum, berusaha menahan degup setiap kali kau melempar senyum ke arahku. Seakan tak melihat, padahal hatiku tersenyum sumringah membalasnya.
            Lalu, suatu hari, Bapak nampak gelisah. Di sore mendung itu, Bapak mondar mandir mengelilingi ruangan. Wajahnya kusut, senyumnya tersembunyi entah di mana, sesekali berdehem, di lain waktu batuk-batuk kecil sambil menggumam tak jelas. Anehnya, sejak hari itu pula kau tak pernah lagi menampakkan wajah manismu di beranda rumahku.
***
            “Nak, Bapak sudah tua. Sampai kapan kau akan mempertahankan egomu?” Tanya yang entah sudah berapa kali Bapak lontarkan padaku. Aku bergeming. Tanya itu kuanggap sepoi angin yang hanya mampir menyapa.
            “Lihatlah teman-temanmu. Mereka semua sudah bahagia dengan keluarga kecil mereka. Sementara kamu?” Kali ini suara Ibu. Suara-suara yang lainpun berebutan ingin menyambangiku. Bermaksud mengetuk pintu hatiku.
            Aku lelah sebenarnya. Ah, lelah itu tak selalu terkatakan. Tak ada diksi yang mampu menguraikan dengan tepat kelelahan yang kurasa. Namun siapakah yang harus kupersalahkan jika hatiku tetap beku pada setiap tatap mata yang bernada cinta? Aku bukan menutup diri. Pun tak bermaksud mengekalkan kesendirianku. Aku hanya berusaha jujur pada hatiku.
            Usia empat puluh bukanlah bilangan sedikit bagi perempuan yang masih berstatus gadis. Tak sedikit waktu yang aku habiskan merapal mimpi dalam  sepi tak berujung. Hatikupun harus bertameng baja agar kuat menahan terpaan gosip miring dari lingkungan. Tak banyak yang tahu, betapa di setiap sujud malamku, sajadah lusuh bermandi air mata, hanya untuk memohon pada Tuhan agar sudi mencairkan bongkahan dalam hatiku. Namun, hingga kini, bongkahan itu tetap kokoh.
            Kepergianmu, yang entah ke mana, telah membawa separuh hatiku. Dan separuh yang ada padaku, tak mampu kuimbangi, pun dengan beragam bisik manis kaummu yang mencoba merayu. Aku tetap mengharapmu. Harapan yang entah kapan akan mewujud nyata.
            Sering dalam sepi yang menggigit, kueja namamu, kuteriakkan walau tak mampu melewati tenggorokan. Semuanya lamur dalam bayang tak bernama. Siapakah yang akan mengerti jika kukatakan aku menantimu? Siapakah yang akan percaya jika kukatakan kau sering menyambangi mimpiku, mengabarkan padaku bahwa kau baik-baik saja dan akan kembali di suatu masa yang entah?
            Namun mimpi yang terpupuk bertahun lamanya itu tak kunjung merupa nyata. Entah di belahan bumi mana ragamu bersembunyi, hingga tak satupun penghuni kampung ini yang tahu. Desas desus yang sempat beredar mengatakan bahwa kau merantau ke sebuah negeri nun jauh di seberang. Kau pergi membawa sekerat luka.
            “Bapakmu tak ingin anak semata wayangnya jatuh ke tangan yang salah.” Jawaban Nenek mengambang ketika kutanya luka apa yang mengiring kepergianmu.
            Perkebunan yang dijanjikan Bapak akan kau urus setamat kuliah nanti, kini telah diserahkan kepada seorang pemuda desa pengangguran. Sempat kusampaikan protesku pada Bapak, namun jawabannya justru mencipta gerimis di hati. Betapa Bapak berubah sepeninggalmu. Bagi Bapak, kasta menjadi tolok ukur penerimaannya terhadap seseorang, dibanding dedikasi. Karena itukah kau dicampakkan?
            “Dia memilih sendiri untuk pergi. Saya tak pernah menyuruhnya.” Bela Bapak jika mulai lagi kulayangkan tanya tentangmu.
            Sampai umurku menginjak angka tigapuluh, semuanya masih merupa teka teki. Kepergianmu yang mendadak, keberadaanmu yang entah, dan kegamangan Bapak di suatu sore kala itu. Teka teki itu kemudian terjawab ketika suatu hari, aku tanpa sengaja mendengar pertengkaran Bapak dan Ibu.
            “Turunkan ego Bapak sedikit. Lihat anak kita. Dia akan perawan tua, Pak.” Suara Ibu serak tertahan.
            “Apa yang harus saya lakukan, Bu? Tak kurang dari lima pemuda yang datang meminangnya, tapi anakmu sendiri yang menolak.” Bapak membela diri, seperti biasa.
            “Andai Bapak tak memangkas cintanya waktu itu, pasti sekarang kita sudah menimang cucu.” Isakan Ibu mulai terdengar. Dan tersusun rapilah teka teki itu. Malam sebelum kau pergi, kau memintaku pada Bapak. Tapi Bapak tentu saja menolak, dengan alasan klasik, kau adalah pesuruh di keluarga kami.
            Kegundahan Bapak di suatu sore itu adalah karena kau memutuskan tidak menerima biaya kuliah yang ditawarkan Bapak, dan memutuskan untuk pergi. Aku tahu, sedikit banyaknya, hati Bapakpun teriris dan kehilangan. Tetapi egonya jauh melampaui rasa kehilangan itu sendiri.
***
            Sunyi masih menjadi teman yang paling setia. Mengurung diri di kamar, dan hanya mengintip bulan dari balik jendela adalah rutinitasku saban malam. Kadang kutatap gemintang tanpa kedip, berharap di sana kutemukan senyummu. Angin yang sesekali menyapa lembut belulangku, pun tak membawa kabar apapun darimu. Hanya desisnya yang mampir di gendang telinga, tanpa membisikkan serangkai kata.
            Kau tetaplah ujung penantianku. Seberapa lamapun itu. Bahkan mungkin walau tanpa tepi. Rasa yang tanpa kusadari menggurita dalam hati, sejak masa remaja, tak mampu kuredam. Kepergianmu tak menghilangkan rasa itu. Rasa itu hanya berubah bentuk, menjadi beku. Entahlah, walau beribu kali keping hatiku  serasa tercincang jadi debu karena kabarmu yang tiada kunjung datang, tetap juga rasa ini memihakmu. Bahkan menunggumu di antara amuk badai rinduku tak jua menyurutkan mimpi itu. Pun aku tak tahu kapan haluanmu akan berbalik ke arahku.
            Bukanlah sesuatu yang asing, ketika di malam purnama, aku berjam-jam duduk di teras. Memandang rembulan dan gemintang nyaris tanpa kedipan. Hatiku selalu yakin kau, dari tempatmu berada, juga sedang melakukan hal yang sama. Dan rindu kita terkirim pada setiap kerlip bintang itu.   
Kenapa aku suka purnama? Aku ingat, suatu malam, saat ba’da isya kau bertandang ke rumah. Di langit, Purnama sedang berpendar sangat indah. Kau mengajakku ke teras rumah, menikmati peristiwa sekali sebulan itu.
            “Saya suka semua benda yang ada di langit. Terutama bulan purnama.” Katamu. Aku hanya mengiya tak tahu harus berkata apa. Tapi sejak itu, diam-diam, setiap malam kusempatkan mengintip langit. Dan selalu terselip harap, bulan dan bintang di atas sana sedang berkerlip genit ke arahku. Dan bertahun kemudin, akupun menjadi penyuka purnama.
Malam ini, aku berharap pesan rinduku sampai. Aku berharap kau melihat bintang di langit kita. Kerlipnya indah. Awalnya, kupikir ia datang untuk menyatukan rindu kita. Tapi ternyata aku salah. Tak ada rindumu di sana. Hanya sepi yang membisu dalam senyap rasaku. Ah, berapa lama lagikah kau hendak mengajarkanku cara bersabar? Maka kubiarkan rindu menyeruak pada setiap pembuluh darahku, pada setiap denyut nadiku, pada setiap detak jantungku, hingga akan terasa indah di pertemuan kita nanti. Aku selalu yakin itu. Pun keyakinanku selalu dipatahkan oleh keegoisan Bapak.
Hingga di suatu siang yang terik, di tengah sepoi angin pegunungan, seorang anak kecil berlari-lari mendatangiku, mengabarkan ada seseorang yang ingin menemuiku di ujung kampung. Aku berdebar. Perasaan aneh menjalari hatiku. Tergesa aku mengikuti langkah kecil itu.
            “Masih mengenalku?” sebuah suara mengejutkanku dari belakang, ketika aku masih sibuk mencari-cari di mana gerangan seseorang yang ingin bertemu denganku. Reflex kubalikkan badan. Sosokmu,  yang tak sedetikpun beranjak dari ruang hatiku kini berdiri di depanku. Nampak gagah di usia yang sudah mendekati angka lima puluh. Rambut yang beranjak memutih, sedikit guratan di pipi, menambah wibawa yang terpancar dari dirimu.
            “Kaaaak?” Tak peduli apa anggapan orang-orang kampung, tak peduli berapa mata yang menyaksikan, aku berlari ke dalam pelukanmu. Rindu bertahun yang hampir akan segera menemukan muaranya, menghantarku ke dalam pelukanmu. Kau datang, tepat saat hatiku hampir merupa fosil. Datang menawarkan cinta. Menjelaskan semua ikhwal kepergianmu. Dan hatiku lumer seketika.
            Sayang sekali, pertemuan kita hanya sejenak. Kau harus pergi lagi. Dengan janji akan sering datang menemuiku. Berat rasanya melepas genggaman tanganmu. Tapi aku tak berdaya. Kau tetap harus pergi. Entah ke mana. Tak ingin kau memberitahu, di mana kakimu selama ini berpijak, pun di mana tubuhmu berteduh. Aku pasrah, tak memaksa. Aku sudah cukup bahagia kau datang padaku, dengan dentang rindu yang aku yakin masih sama seperti saat kau pergi dulu.
            Dan sejak saat itu, rangkaian kata-kata kita beterbangan mengangkasa, berkejaran di langit, ingin saling mendahului sampai. Sedetik, entah berapa kata terpancang di ketinggian langit, mengharap dibaca ketika sampai kepada yang dituju. Untaian harap, rangkaian doa, berlomba menyentuh kaki langit. Ah, harapan yang sekejap membuncah, semoga tak pecah dan lalu merupa kepingan.
            Berbulan kita menjalani hubungan bak seorang remaja  sedang kasmaran. Desas desus tentang hubungan kita akhirnya hinggap ke telinga Bapak. Entah siapa yang menyampaikannya.
            “Kau sudah yakin dengan pilihanmu?” Suara Bapak bergetar, seperti sedang menahan sesuatu. Aku tahu, ego Bapak tetap tak bisa menerima kehadiranmu, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tak kuasa untuk menolak sesuatu yang telah lama diimpikan anaknya.
            “Waktu telah menjawabnya, Pak. Insya Allah.” Jawabku. Mantap. Bapak terdiam.  Ibu tertunduk di sampingnya. Entah apa yang berkecamuk dalam dada perempuan penyabar itu.
***
            Kita kemudian menikah, walau restu Bapak hanyalah setengah hati. Aku bahagia. Mimpi itu kini menjadi nyata. Aku bertekad membangun istana cinta kita sekuat candi-candi yang ada di Indonesia. Karena aku yakin kisah cinta kita tak kalah syahdunya dengan kisah cinta yang mengawali keberadaan beberapa candi itu. Candi yang menjadi persembahan cinta.
            Aku bahagia. Rindu yang selama ini beku akhirnya mencair. Honeymoon kita, bagiku, adalah yang terindah di dunia ini. Walau hanya ditemani nyanyian jangkrik diselingi paduan suara katak bila malam menjelang. Sepoi angin gunung, gemuruh ombak yang samar terdengar dari jarak yang kurang satu kilometer, lampu penerangan kampung yang seadanya, bagiku sama romantisnya dengan sebuah kamar hotel yang disulap menjadi ruangan pengantin dengan candle light dinner romantis diiringi lagu-lagu bethoven yang tak lekang oleh zaman.
            Pagiku bermandi ceria saat kudapati diriku berada dalam pelukmu. Aku bahagia. Sungguh. Rasa lelah karena penantian panjang terhapus semburat merah jambu yang kau bawakan untukku. Teras rumah yang selama ini kubiarkan gelap di malam hari, kini kembali temaram. Kita menikmati purnama berdua, di teras. Seperti yang pernah kita lakukan bertahun silam. Duh, sungguh, taman hatiku ditumbuhi ribuan bahkan mungkin jutaan bunga aneka warna. Lebih indah dari pelangi. Rasa yang membuncah ini menjadikanku abai untuk menyelami perasaanmu yang sesungguhnya.
Mungkin hatiku dibutakan oleh luapan cinta yang telah kutunggu demikian lama, hingga melampaui masa remajaku, sehingga tak ada secuil curigapun yang kusematkan padamu. Aku tak pernah menanyakan bagaimana kehidupanmu setelah menghilang lebih dua puluh tahun. Tak sekejappun terlintas dalam alam pikirku untuk mengetahui yang terjadi padamu dalam rentang waktu yang memisahkan kita.
Sebulan setelah pernikahan, kau pamit hendak ke kotamu. Kota yang entah. Kau belum sempat, atau mungkin juga belum ingin memberitahuku, di kota mana sebenarnya selama ini kau melabuhkan hidupmu. Berat melepasmu. Kau separuh hatiku yang belum lama kurekatkan kembali dalam dada. Ada kecemasan, atau bahkan ketakutan akan kehilanganmu lagi.
            “Saya ikut ya, Kak.” Pintaku. Gelengan tegas kepalamu membuatku undur untuk kembali memohon. Aku tahu tabiatmu yang keras. Biarlah, mungkin memang belum saatnya aku mengetahui seluruh sisi kehidupanmu. Mungkin kau merasa belum waktunya aku meleburkan diri dalam hidupmu seutuhnya. Ada sesak yang mengganjal di rongga dada. Aku isterimu kini. Pantaslah jika aku ingin mengetahui ikhwal dirimu seluruhnya. Wajar saja ketika aku ingin mengetahui darimana kau peroleh rezeki untuk menafkahiku. Tapi mulutku selalu terkunci setiap kali beribu tanya hendak terlontar keluar. dan pada akhirnya, aku pasrah. Aku telah membangun kepercayaan padamu sekian lama. Aku tak ingin meruntuhkan kepercayaan itu.
            Hingga pada suatu sore bermandi gerimis, seorang perempuan bersama empat orang anaknya, mendatangiku. Memintaku untuk mengembalikanmu padanya. Aku akhirnya harus menyadari, Istana yang kita bangun tidaklah sekokoh anggapanku. Kita telah membangun istana yang rapuh, tanpa pondasi yang kuat;  kejujuran. Kau tak jujur dengan statusmu yang tak lagi sendiri. Istana kita, bagaikan istana pasir.
            “Saya melakukan ini karena saya mencintaimu. Saya, seperti juga kamu, memupuk rindu bertahun-tahun. Cinta kita terbangun tanpa kata. Kisah kita adalah untold story. Namun kita berdua mampu merasakannya, menjaganya dalam waktu yang sangat panjang.” Kau mencoba membujuk di antara derai air mataku.
            “Kau tak mampu menjaganya, Kak. Kau sudah menjadi miliknya.” Sergahku. Cemburu membara di hatiku, walau kutahu ini tak pantas.
            “Saya laki-laki, Dek. Tidak setegar kamu dalam menjaga diri. Namun percayalah, hatiku tak sedikitpun berpaling.”
“Maaf, Kak. Aku tak hendak membangun istana pasir, indah, namun sekali ombak datang, semuanya akan hancur, tanpa kepingan. Aku ingin membangun candi dalam rumah cintaku, hingga tak lamur oleh usia. Dan itu tak kutemukan bersamamu.” Kataku mantap.
            “Aku tak akan mengulang kesalahanku yang dulu. Aku tak ingin hatimu berpindah pemilik.” Kau masih ngotot. Aku bergeming. Berusaha untuk tidak mencerna kalimatmu.
***
            Tegar itu bukanlah tanpa air mata, tapi ketika air mata mampu diramu menjadi mata air, sumber kekuatan. Jadi jangan takut menangis ketika kantong matamu telah penuh. Tumpahkanlah, maka akan kau temukan kekuatan baru setelahnya. Ah, hidup ternyata masih terus mempermainkanku. Sejak perdebatan itu, kau tak pernah lagi datang. SMS, whatsApp  maupun inbox Facebook memang lancar. Tapi cukupkah itu, untukku yang juga berstatus isteri?
            Isteri? Ada gerimis di hati saat menyebut kata itu. Perempuan macam apakah aku ini, yang tega membangun istana, di atas lahan milik perempuan lain? Di manakah kusimpan hatiku, jika masih terus bermimpi mempertahankanmu, sementara kutahu ada hati lain yang juga merindukan hadirmu?
            Ah, aku sudah terbiasa dengan sepi. Sepi sudah mengaliri setiap nadiku. Walau baru saja kurasakan bahagia sejenak, namun mimpi indah ini memang sudah usai. Akhir cerita kita mungkin tak manis, namun hati kecilku telah menuntunku untuk yakin; inilah yang terbaik. Perpisahan.
            Tak kupedulikan air mata yang terus mengalir. Tak kupedulikan kalimat larangan Bapak dan Ibu, kala kukirimkan pakaian dan semua barang-barangmu yang ada padaku, ke alamat yang diberikan isterimu padaku, saat ia datang membawa keratan hatinya yang telah kau buat berdarah-darah.
            “Kalau Adik tak percaya, datanglah ke alamat ini. Ini rumah kami, sejak lima belas tahun lalu.” Katanya di sela isak sambil menyodorkan sebuah kartu nama. Tertulis indah namamu di sana.  
Aku harus terbangun dari mimpi. Kau tak sendiri lagi. Ada seorang bidadari cantik dan empat malaikat kecil di sampingmu kini. Dan aku, lebih ichlas mengkristalkan hatiku, daripada harus meremukkan hati perempuan lain.
***

(Tergabung dalam Antology Cerpen Bersama "Cinta dalam Bayangan Tuhan", Terbit Desember 2014)

DALAM REMANG




Oleh : Mira Pasolong

            Tajur menguak kenangan. Saat mata kita bersitatap tanpa kata, dan lalu kau menghilang juga tanpa kata. Kini kududuk kembali di sini, pada sebuah bangku tunggu di salah satu sudut Sumber Karya Indah (SKI) yang mulai ramai pengunjung. Sambil menganyam harap, kau akan kembali menemuiku di sini.
            “Pertemuan indah tanpa rencana.” Katamu.
            “Pertemuan yang entah.” Ujarku cepat. Dan kau melongo dengan tatap tak mengerti.
            “Sorry, bisnya sudah mau berangkat.” Lanjutku sambil berlari ke arah bis yang mengangkutku dan 32 teman dari seluruh Indonesia. Kau menyusulku dari belakang.
            “Maksudnya?” Rasa penasaran nyata dalam kalimatmu. Aku tersenyum kecut. Tak menanggapi pertanyaan itu.
            Pertemuan kilat yang tiba-tiba saja mencipta ritme lain di hati kita. Ritme yang mestinya belum bisa dimainkan sebelum ada gelaran ijab qabul. Kita mencoba mengurai rasa itu. Atau menghilangkannya. Kau dan aku tahu, rasa itu terlarang.
            “Lupakan. Toh setelah ini kita juga tidak akan bertemu lagi.” Sergahku.
            “Ya, jadi kita tak perlu bertukar nomor HP, Facebook, BBM, dan apapun itu yang sekiranya dapat menyambung komunikasi?” Balasmu. Aku mengangguk, menyanggupi.
***
            Sampai berpuluh bulan kemudian, mendengar kata Bogor, masih selalu kutemukan ritme aneh itu pada sebuah bilik kecil hatiku. Senyum simpatimupun masih terukir sempurma. Dan kadang, tanpa kusadari, namamu terselip dalam lantunan doaku. Memohon kepada-Nya  agar kita dipertemukan. Kali ini harapku, pertemuan kita adalah pertemuan yang disengaja. Tapi, ah, adakah kau juga masih mengingatku? Atau namaku sudah kau larung di kedalaman rasa bernama lupa?
            Tajur sudah berdenyut sepagi ini. Aku kembali diantar takdir ke tempat ini, setelah 2 tahun lamanya. Pedagang yang membuka toko dan menata dagangan, bersinggung riuh dengan pembeli yang tidak sabar ingin segera memilah-milah barang yang akan dibelinya.
            “Yuk, ke dalam. Tasnya bagus-bagus, lho.” Temanku, Resti, menarik tanganku. Aku menolak halus. Ia sedikit memaksa, namun pada akhirnya pasrah, ketika aku tetap bersikukuh tidak mau belanja.
            Aku hanya ingin duduk di bangku ini, sambil mencoba merasai kembali suara barithonmu menyapa gendang telingaku. Kalimat yang sampai saat ini masih sering terasa semilirnya di kedalaman hatiku.
            “Kau mirip seseorang dalam mimpi-mimpiku.” Katamu dengan tatapan mata elang yang tepat menembus retina, bahkan langsung menancap di hati.
            “Maksudnya?”
            “Aku tak pernah menyangka mimpi itu akan menjadi nyata.” Lanjutmu, mengacuhkan tanya dariku.
            “Aku tak mengerti…” Sergahku.
            “Aku bahkan tahu namamu dan hampir semua tentangmu.” Kau kemudian seolah berteka teki.
            “Paranormal?” Tanyaku. Terselip geli dalam hati, namun senyum hanya kukulum di bibir. Takut menyinggungmu. Wajahmu nampak serius.
            “Aku serius. Kamu biasa dipanggil Rara, kan?” Tebakan yang jitu darimu membuatku terkesima. Dan lanjutan ceritamu tentangku semuanya benar. Hampir tak percaya kalau semua itu hanya kau dapatkan melalui mimpi.
            “Kita sejodoh. Aku yakin itu.”
            Ah, percakapan yang sempat mengombangambingkanku. Lalu saat kita berpisah, aku sudah memancang tekad dalam hati, bahwa tak akan ada lagi namamu dalam kamus hidupku. Pertemuan kita hanyalah kebetulan, seperti pula mimpimu yang hanya bunga tidur.
            “Hei, melamun saja. Ayo kita pulang.” Sapaan Resti, dengan kantong belanjaan memenuhi kedua tangannya, mengagetkanku. Resti membeli beragam oleh-oleh untuk teman-teman di Mamuju. Aku sendiri beberapa hari yang lalu sudah belanja beberapa pernak pernik khas Bogor, juga untuk oleh-oleh. Aku bergegas mengikuti langkahnya.
            “Kenapa melamun terus?” Tanya Resti saat kami sudah di atas taksi, menuju hotel. Aku menggeleng. Tak ingin berbagi resah dengan Resti.
            Come on. Kalau ada masalah, saya bisa diandalkan. Sure.” Resti membujuk. Aku kembali menggeleng. Bukan tak percaya padanya, tapi aku merasa tak ada yang perlu dibagi.
            “Besok jam Sembilan temani saya ke Tajur, ya.” Pintaku pada Resti. Resti tentu saja terkejut. Baru saja aku menghabiskan waktu tak kurang dari tiga jam di Tajur, tanpa melakukan apapun selain duduk di bangku tunggu, dan kemudian aku ingin ke sana lagi besok.
            “Baru kepikiran membeli sesuatu?” Tebak Resti. Aku kembali menggeleng.
            “Lalu…?”
            “Nanti kau akan tahu sendiri.” Sergahku.
***
            Tajur menguak kenangan. Kala kutemukan sosokmu dalam remang. Dan lalu aku sibuk mengurus rindu yang sempat kau titip padaku, di tengah gigil Kota Bogor. Di ambang subuh, aku menjejak lantai dasar hotel tempatku menginap. Resti masih hanyut dalam mimpi yang entah. Tubuh kecilku berbalut jaket abu-abu dengan dalaman baju terusan tanpa lengan. Jilbab hitam menutupi rambut hingga ke dada. Syal yang kusampirkan di leher cukup membantu untuk mengusir dingin yang hampir membuat beku.
            Entah apa yang menggerakkan kakiku, hingga kemudian langkahku berpijak di sebuah taman kota. Taman yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Lalu di sana, kulihat sosok yang membuat jantungku berdetak jauh di atas normal.
            Dan kembali, kenangan di Tajur terkuak. Sosok itu menumpahkan seluruh daya ingatku tentangmu. Baret hitam, jaket kulit hitam dan celana jeans abu-abu. Tampilan yang urakan. Namun tak ada yang menyangka betapa di balik cover dirimu, kau adalah sosok muslim yang baik.
            “Aku tidak ingin pacaran. Karena agama kita melarang. Akupun juga sungguh tak ingin jatuh cinta, sebelum ijab qabul terikrar. Namun pertemuan ini, seakan memburaikan segala idealismeku tentang indahnya pacaran setelah menikah.” Katamu, siang itu, di sebuah bangku tunggu, di salah satu sudut SKI. Ucapan yang kemudian aku bantah. Dan lalu, kitapun akhirnya berusaha untuk tetap dalam idealisme indah itu.
            “Radi?” Ragu kupanggil sosok yang berjalan tak jauh di depanku. Suaraku tercekak di tenggorokan, tak mampu keluar dengan sempurna. Namun sosok itu mendengarnya. Ia berbalik ke arahku. Duh, jantungku berdetak tak karuan. Aku sibuk memikirkan kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk menyapanya.
            “Maaf, aku bukan Radi. Aku Rafa, kembarnya.” Kata sosok itu. Aku tertegun. Sangat mirip. Aku tak dapat membedakannya.
            “Kamu Rara, kan?” Tanyanya. Aku tercengang. Bagaimana mungkin ia mengenalku. Kau yang menceritakan tentangku? Sebegitu detailkah kau mendeskripsikanku, hingga saudara kembarmu mampu mengenaliku?
            “Ya, saya Rara. Tapi bagaiman anda mengenal saya?” Tanyaku. Lelaki yang mengaku saudara kembarmu tersebut menyorongkan sebuah foto ukuran 3R ke tanganku.
            “Lihatlah. Radi selalu yakin suatu hari pasti akan bertemu denganmu. Tapi takdir berkata lain.”
            Aku mengamati foto dalam genggamanku. Ya, ini fotoku dua tahun lalu, saat mengikuti sebuah pelatihan. Di situ pulalah kita bertemu.
            “Di mana Radi sekarang?” Hatiku mendadak tidak enak. Aku merasa, telah terjadi sesuatu padamu.
***
            Dalam remang jelang senja ini. Sebelum aku meninggalkan kota Bogor, aku menyempatkan diri menjengukmu. Ya, aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu. Mungkin kita memang tak berjodoh, tapi kau telah mengisi lembaran-lembaran dalam album kenanganku.
            “Istirahatlah dengan tenang.” Ucapku sambil mengusap batu nisanmu yang masih basah. Kecelakaan bis itu telah merenggutmu dari kefanaan dunia ini, hanya sehari sebelum aku datang. Itu yang aku dengar dari Rafa, saudara kembarmu.
***

 (dimuat di harian Radar Sulbar, Desember 2014)

PELANGI DI HATI IBU




Oleh : Mira Pasolong
            Perempuan renta dengan wajah penuh harap itu duduk di samping meja telepon. Tatapannya lurus ke arah gagang telepon, tak bergeser sedetikpun. Nampak seperti sedang menunggu telpon dari seseorang.
            Perempuan renta itu tinggal sendirian di gubuk reot yang nyaris rubuh. Dia melewati hari dengan bertanam sayur-sayuran di pekarangan rumah yang tidak begitu luas. Tomat, lombok, terong dan bayam berbaris rapi mengisi pekarangannya. Dia membagikan sayur-sayuran kepada tetangga, yang biasanya akan dibarter dengan nasi dan ikan atau tahu tempe. Perempuan itu sangat bersyukur dianugerahi tetangga-tetangga yang penyayang dan baik hati. `Tetangganyalah yang selama ini menghibur dirinya.
            Namun perempuan itu tidak bisa membohongi kata hatinya sebagai seorang ibu. Di lubuk hati  terdalam, dia memendam kerinduan yang teramat sangat. Ada rasa sepi yang enggan terusir hanya dengan kehadiran tetangga-tetangganya. Maka dari itulah, setiap hari ulang tahunnya tiba, dia menantikan teleponnya berdering. Sekedar mendengar suara mengucapkan selamat ulang tahun saja mungkin akan bisa meluruhkan sedikit rindunya.
            Tapi sampai siang telah berganti senja  dan senja beranjak malam, telepon itu belum juga berdering. Perempuan renta itu kecewa. Mengelus dada sambil menggeleng- gelengkan kepala. Dia beranjak dari tempat duduknya. Dibiarkannya pintu rumah terbuka lebar. Semilir angin menerbangkan anak-anak rambutnya yang sudah memutih.
            Diseretnya langkahnya dengan tertatih. Terdengar bunyi lantai berderit.  Lantai rumahnya memang terbuat dari papan yang sebagian balok penyanggahnya sudah dimakan rayap. Karena itulah jika diinjak akan terdengar bunyi berderit.  Plafonnya sudah hampir lapuk semua. Di sana sini sarang laba-laba bergelantungan. Seperti tak berpenghuni.
            Perempuan itu menyalakan lampu. Menuju meja makan. Sepotong ubi rebus plus ikan asin bakar segera berpindah tempat ke dalam mulutnya. Keadaannya kini lebih tenang. Tidak segelisah tadi ketika  duduk di dekat telepon.
            Dipandanginya sebuah foto usang tak berbingkai yang ditempel di dinding depan meja makan. Gambar sosok lelaki berusia sekitar lima puluh tahunan. Gagah dan berwibawa. Sambil tetap mengunyah makanannya, dia berbicara ke arah foto tersebut.
            "Aku akan tetap menemanimu di sini. Nanti kusuruh anak-anak kita memperbaiki rumah ini, agar hujan tak meleburkan apa yang telah terpatri di sini dan agar terikpun tak memudarkan semua yang terukir indah di sini." Katanya sambil sekilas mengarahkan pandangannya ke arah foto yang lain.  Enam lembar foto dengan obyek berkostum sama; memakai toga, terbingkai indah berjejer di samping foto usang tersebut. Bulir bening mengalir dari sudut matanya yang sendu. Garis kelelahan dan kepedihan terpancar nyata di wajah keriput perempuan itu
            Ingatannya kini melayang ketika dia dan suaminya bersama-sama membesarkan anak-anak mereka hingga dari tujuh anaknya, enam orang berhasil menyandang gelar sarjana. Hanya si bungsu yang bukan sarjana, karena sejak kelas dua SMP dia harus berhenti sekolah akibat penyakit yang dideritanya. Si bungsu menderita kelainan jiwa. Sejak suaminya meninggal, oleh anak-anaknya yang lain, dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Perempuan renta itu meringis menahan pedih mendengar anak bungsunya berteriak menangis karena tidak ingin dipisahkan dari ibu yang sudah melahirkan dan merawatnya dengan penuh kasih selama ini, tapi dia tak berdaya menghalangi niat anak-anaknya, walaupun dia adalah seorang Ibu.
            Bungsu yang disayangi tetap harus diasingkan di rumah sakit jiwa. Ketika dia masih kuat dan masih bisa berjalan jauh, hampir setiap hari dia menjenguknya. Tetapi ketika tubuhnya menjadi renta, diapun tak pernah lagi bisa bertemu anak bungsunya. Entah bagaimana kabar dia sekarang. Anak-anaknya yang lain pun tak pernah memberitahunya. Mungkin merekapun tidak tahu bagaimana kabar adik bungsu mereka. Tapi perempuan renta itu tak mempermasalahkannya. Dia yakin dengan untaian doa yang tak putus dia kirimkan, anaknya akan baik-baik saja.
Di setiap sudut rumah seakan menyimpan beragam kenangan indah tentang anak- anaknya. Derai tawa mereka ketika bercanda. Tangis dan teriakan mereka ketik sedang bertengkar. Rasanya semuanya masih tergambar jelas dalam memori tuanya. Menjadi sebuah kenangan indah yang melekat abadi dalam hidupnya. Tak ingin dihapusnya kenangan itu, seberapa pun dia merasa tersakiti oleh kelakuan anak-anaknya sekarang.
“Mungkin mereka sedang banyak pekerjaan, sehingga lupa bahwa hari ini ulang tahun ibunya.” Perempuan renta itu menghibur diri.
            Sebuah ketukan di pintu memaksanya mengakhiri lamunannya. Dia berdiri, melangkah ke arah pintu. Ada sumringah di wajah keriputnya. "Saya yakin mereka pasti datang." Katanya sambil mempercepat langkahnya. Pintu terkuak.
            "Mak,  makan di rumahku saja. Tidak usah masak." Perempuan tua itu menggeleng dan tanpa mempersilahkan tamunya masuk, dia kembali ke kursi di dekat meja telepon. Belum juga lima menit, pintunya kembali ada yang mengetuk. Pintu terkuak. Bukan tamu yang tadi.
            "Mak, saya sudah siapkan kamar untuk Mak. Tidur di rumahku saja. Biar rumah ini dikunci saja, ya." Perempuan itu  kembali menggeleng. Bukannya dia tidak pandai bersyukur ataupun berterima kasih atas semua kebaikan tetangganya, tapi bukan itu yang diharapkannya.
            Kini dia kembali duduk di dekat telepon. Perhatiannya sekarang kembali tertuju kepada telepon yang sejak tadi tidak pernah berbunyi. Untuk mengusir sepi, disisirnya rambutnya dengan jemari yang sudah keriput. Pandangannya tetap awas menatap telepon di sampingnya. Malam semakin larut. Sesekali perempuan renta itu menguap. Telepon itu tak sekalipun berdering. Pintunyapun tak ada lagi yang mengetuk.  Akhirnya dia tertidur di kursi tanpa sempat berganti baju.
***
            "Selamat ulang tahun, Bu." Suara manja putri ke enam-nya.
            "Selamat hari Ibu, ya Bu." Kali ini suara berat anak lelakinya menembus tepat di gendang telinganya. Ulang tahunnya memang bertepatan dengan Hari Ibu, tanggal 22 Desember.
            "Pokoknya mulai hari ini Ibu tidak akan sendirian lagi di sini." Janji putri sulungnya.
            "Kami akan menemani Ibu, menjaga rumah ini, menjaga keabadian cinta Ibu dan Bapak yang banyak tercipta di rumah ini." Suara tegas putri ketiganya.
            "Kami akan mengukir syurga di kaki Ibu."
            "Mulai saat ini Ibu tidak boleh bersedih lagi."
            “Saya janji tidak akan sakit lagi, Bu. Supaya bisa menemani Ibu di sini selamanya.” Suara gagap putri bungsunya  terdengar begitu merdu.
            Satu persatu suara itu menyusup ke gendang telinga perempuan renta itu. Wajahnya berseri-seri. Ke tujuh anaknya sekarang bersamanya dan berjanji tidak akan membiarkannya sendirian lagi.
            Kesendirian yang telah dijalaninya selama hampir dua puluh tahun, sejak suaminya meninggal dan satu persatu anaknya berkelurga dan mengukir  larik kehidupannya sendiri, akan segera berakhir.  Maka  sepi yang selama ini setia menemani mimpi-mimpi perempuan renta itu pun akan segera berganti menjadi kebahagiaan.
            Selama ini, dalam kesendiriannya, dia tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika  anak sulungnya yang seorang dokter hanya memberinya obat generik setiap kali dia sakit, dia tetap tersenyum dan berterima kasih. Diapun tidak pernah protes, walaupun anak lelaki satu-satunya yang seorang arsitek, hanya ichlas membelikan tripleks untuk menambal dinding-dinding rumahnya yang mulai lapuk.
            Dia tetap merasa bahagia. Dia sungguh bahagia melihat ke enam anaknya sekarang sudah berhasil. Walaupun si bungsu masih tetap harus dirawat di rumah sakit jiwa, namun itu tidak mengurangi kesyukurannya.  Dia memang tetap betah tinggal di rumahnya karena ingin selalu mengenang kebersamaannya dengan suaminya, mengenang perjuangannya, bahu membahu dalam mengais rezeki, hingga di rumah itu berhasil mencetak enam orang sarjana. Sulit dipercaya jika melihat kondisi perekonomian mereka. Kebahagiaan itu kadang semakin membuncah, jika ingat betapa tiap  tahun jumlah cucunya bertambah. Dia berharap, suatu saat keceriaan cucu-cucunya akan meramaikan kembali rumahnya.
            Sekalipun begitu, pernah pula satu dua kali perempuan itu merasakan hampa yang membuat hatinya nyeri dan matanya membasah. Dia adalah seorang ibu dari enam anak perempuan dan seorang anak lelaki yang semuanya sudah mempunyai kehidupan matang. Tapi di usia senjanya dia  sendirian. Anak-anaknya sangat sibuk, sehingga tak bisa meluangkan waktu, pun sekedar menjenguknya. Cucu-cucunya yang mungkin sudah mencapai angka selusin, bahkan hampir tidak mengenal siapa neneknya.
            Setiap tahun, di hari ulang tahunnya, dia selalu berharap anak-anaknya akan datang, mengucapkan selamat dan membanjirinya dengan perhatian dan kasih sayang. Walaupun hanya satu hari itu. Sungguh, dia sangat ingin diperlakukan istemewa sebagai seorang Ibu yang telah mengantarkan anak-anaknya hingga bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Sekali lagi, walaupun hanya satu hari itu.
            "Alhamdulillah, akhirnya kalian datang. Terima kasih karena kalian sudah rela meluangkan waktu untuk Ibu." Air mata perempuan itu mengalir. Ada kesejukan mengaliri hatinya ketika dia merasakan berpasang-pasang tangan memeluk tubuh ringkihnya; tepat  di hari ulang tahunnya. Dikecupnya satu persatu kening anak-anaknya, dibiarkannya cucu- cucunya bergelayut manja di pangkuannya.
            “Lihatlah, Pak. Mereka datang. Anak-anak dan cucu-cucu kita datang. Mereka juga merindukan kita. Jadi sekarang saya tidak kesepian lagi.” Katanya sambil kembali mengelus-elus foto suaminya.
           
***
            Suara kokok ayam membangunkan perempuan renta itu. Dia membuka matanya, menyapu sekelilingnya dengan tatapan sedih. Di sampingnya teronggok gagang telepon lusuh di atas meja rapuh. Telepon yang enggan berdering. Ternyata dia masih sendiri dalam rumah yang sudah hampir rubuh  itu. Kedatangan anaknya hanya bisa terwujud di alam mimpi.
            Perempuan renta itu tetap sendiri, mengukir sepi, menabur asa dalam untaian doa yang tak pernah putus agar suatu hari kelak anak-anaknya kembali padanya. Doa seorang Ibu yang kesepian.
***
(buat semua IBU… selamat hari Ibu)
(Dimua dalam Antology Cerpen Bersama IBU, Pustaka Puitika, Desember 2014)