Selasa, 06 Januari 2015

DALAM REMANG




Oleh : Mira Pasolong

            Tajur menguak kenangan. Saat mata kita bersitatap tanpa kata, dan lalu kau menghilang juga tanpa kata. Kini kududuk kembali di sini, pada sebuah bangku tunggu di salah satu sudut Sumber Karya Indah (SKI) yang mulai ramai pengunjung. Sambil menganyam harap, kau akan kembali menemuiku di sini.
            “Pertemuan indah tanpa rencana.” Katamu.
            “Pertemuan yang entah.” Ujarku cepat. Dan kau melongo dengan tatap tak mengerti.
            “Sorry, bisnya sudah mau berangkat.” Lanjutku sambil berlari ke arah bis yang mengangkutku dan 32 teman dari seluruh Indonesia. Kau menyusulku dari belakang.
            “Maksudnya?” Rasa penasaran nyata dalam kalimatmu. Aku tersenyum kecut. Tak menanggapi pertanyaan itu.
            Pertemuan kilat yang tiba-tiba saja mencipta ritme lain di hati kita. Ritme yang mestinya belum bisa dimainkan sebelum ada gelaran ijab qabul. Kita mencoba mengurai rasa itu. Atau menghilangkannya. Kau dan aku tahu, rasa itu terlarang.
            “Lupakan. Toh setelah ini kita juga tidak akan bertemu lagi.” Sergahku.
            “Ya, jadi kita tak perlu bertukar nomor HP, Facebook, BBM, dan apapun itu yang sekiranya dapat menyambung komunikasi?” Balasmu. Aku mengangguk, menyanggupi.
***
            Sampai berpuluh bulan kemudian, mendengar kata Bogor, masih selalu kutemukan ritme aneh itu pada sebuah bilik kecil hatiku. Senyum simpatimupun masih terukir sempurma. Dan kadang, tanpa kusadari, namamu terselip dalam lantunan doaku. Memohon kepada-Nya  agar kita dipertemukan. Kali ini harapku, pertemuan kita adalah pertemuan yang disengaja. Tapi, ah, adakah kau juga masih mengingatku? Atau namaku sudah kau larung di kedalaman rasa bernama lupa?
            Tajur sudah berdenyut sepagi ini. Aku kembali diantar takdir ke tempat ini, setelah 2 tahun lamanya. Pedagang yang membuka toko dan menata dagangan, bersinggung riuh dengan pembeli yang tidak sabar ingin segera memilah-milah barang yang akan dibelinya.
            “Yuk, ke dalam. Tasnya bagus-bagus, lho.” Temanku, Resti, menarik tanganku. Aku menolak halus. Ia sedikit memaksa, namun pada akhirnya pasrah, ketika aku tetap bersikukuh tidak mau belanja.
            Aku hanya ingin duduk di bangku ini, sambil mencoba merasai kembali suara barithonmu menyapa gendang telingaku. Kalimat yang sampai saat ini masih sering terasa semilirnya di kedalaman hatiku.
            “Kau mirip seseorang dalam mimpi-mimpiku.” Katamu dengan tatapan mata elang yang tepat menembus retina, bahkan langsung menancap di hati.
            “Maksudnya?”
            “Aku tak pernah menyangka mimpi itu akan menjadi nyata.” Lanjutmu, mengacuhkan tanya dariku.
            “Aku tak mengerti…” Sergahku.
            “Aku bahkan tahu namamu dan hampir semua tentangmu.” Kau kemudian seolah berteka teki.
            “Paranormal?” Tanyaku. Terselip geli dalam hati, namun senyum hanya kukulum di bibir. Takut menyinggungmu. Wajahmu nampak serius.
            “Aku serius. Kamu biasa dipanggil Rara, kan?” Tebakan yang jitu darimu membuatku terkesima. Dan lanjutan ceritamu tentangku semuanya benar. Hampir tak percaya kalau semua itu hanya kau dapatkan melalui mimpi.
            “Kita sejodoh. Aku yakin itu.”
            Ah, percakapan yang sempat mengombangambingkanku. Lalu saat kita berpisah, aku sudah memancang tekad dalam hati, bahwa tak akan ada lagi namamu dalam kamus hidupku. Pertemuan kita hanyalah kebetulan, seperti pula mimpimu yang hanya bunga tidur.
            “Hei, melamun saja. Ayo kita pulang.” Sapaan Resti, dengan kantong belanjaan memenuhi kedua tangannya, mengagetkanku. Resti membeli beragam oleh-oleh untuk teman-teman di Mamuju. Aku sendiri beberapa hari yang lalu sudah belanja beberapa pernak pernik khas Bogor, juga untuk oleh-oleh. Aku bergegas mengikuti langkahnya.
            “Kenapa melamun terus?” Tanya Resti saat kami sudah di atas taksi, menuju hotel. Aku menggeleng. Tak ingin berbagi resah dengan Resti.
            Come on. Kalau ada masalah, saya bisa diandalkan. Sure.” Resti membujuk. Aku kembali menggeleng. Bukan tak percaya padanya, tapi aku merasa tak ada yang perlu dibagi.
            “Besok jam Sembilan temani saya ke Tajur, ya.” Pintaku pada Resti. Resti tentu saja terkejut. Baru saja aku menghabiskan waktu tak kurang dari tiga jam di Tajur, tanpa melakukan apapun selain duduk di bangku tunggu, dan kemudian aku ingin ke sana lagi besok.
            “Baru kepikiran membeli sesuatu?” Tebak Resti. Aku kembali menggeleng.
            “Lalu…?”
            “Nanti kau akan tahu sendiri.” Sergahku.
***
            Tajur menguak kenangan. Kala kutemukan sosokmu dalam remang. Dan lalu aku sibuk mengurus rindu yang sempat kau titip padaku, di tengah gigil Kota Bogor. Di ambang subuh, aku menjejak lantai dasar hotel tempatku menginap. Resti masih hanyut dalam mimpi yang entah. Tubuh kecilku berbalut jaket abu-abu dengan dalaman baju terusan tanpa lengan. Jilbab hitam menutupi rambut hingga ke dada. Syal yang kusampirkan di leher cukup membantu untuk mengusir dingin yang hampir membuat beku.
            Entah apa yang menggerakkan kakiku, hingga kemudian langkahku berpijak di sebuah taman kota. Taman yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Lalu di sana, kulihat sosok yang membuat jantungku berdetak jauh di atas normal.
            Dan kembali, kenangan di Tajur terkuak. Sosok itu menumpahkan seluruh daya ingatku tentangmu. Baret hitam, jaket kulit hitam dan celana jeans abu-abu. Tampilan yang urakan. Namun tak ada yang menyangka betapa di balik cover dirimu, kau adalah sosok muslim yang baik.
            “Aku tidak ingin pacaran. Karena agama kita melarang. Akupun juga sungguh tak ingin jatuh cinta, sebelum ijab qabul terikrar. Namun pertemuan ini, seakan memburaikan segala idealismeku tentang indahnya pacaran setelah menikah.” Katamu, siang itu, di sebuah bangku tunggu, di salah satu sudut SKI. Ucapan yang kemudian aku bantah. Dan lalu, kitapun akhirnya berusaha untuk tetap dalam idealisme indah itu.
            “Radi?” Ragu kupanggil sosok yang berjalan tak jauh di depanku. Suaraku tercekak di tenggorokan, tak mampu keluar dengan sempurna. Namun sosok itu mendengarnya. Ia berbalik ke arahku. Duh, jantungku berdetak tak karuan. Aku sibuk memikirkan kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk menyapanya.
            “Maaf, aku bukan Radi. Aku Rafa, kembarnya.” Kata sosok itu. Aku tertegun. Sangat mirip. Aku tak dapat membedakannya.
            “Kamu Rara, kan?” Tanyanya. Aku tercengang. Bagaimana mungkin ia mengenalku. Kau yang menceritakan tentangku? Sebegitu detailkah kau mendeskripsikanku, hingga saudara kembarmu mampu mengenaliku?
            “Ya, saya Rara. Tapi bagaiman anda mengenal saya?” Tanyaku. Lelaki yang mengaku saudara kembarmu tersebut menyorongkan sebuah foto ukuran 3R ke tanganku.
            “Lihatlah. Radi selalu yakin suatu hari pasti akan bertemu denganmu. Tapi takdir berkata lain.”
            Aku mengamati foto dalam genggamanku. Ya, ini fotoku dua tahun lalu, saat mengikuti sebuah pelatihan. Di situ pulalah kita bertemu.
            “Di mana Radi sekarang?” Hatiku mendadak tidak enak. Aku merasa, telah terjadi sesuatu padamu.
***
            Dalam remang jelang senja ini. Sebelum aku meninggalkan kota Bogor, aku menyempatkan diri menjengukmu. Ya, aku ingin mengucapkan selamat tinggal padamu. Mungkin kita memang tak berjodoh, tapi kau telah mengisi lembaran-lembaran dalam album kenanganku.
            “Istirahatlah dengan tenang.” Ucapku sambil mengusap batu nisanmu yang masih basah. Kecelakaan bis itu telah merenggutmu dari kefanaan dunia ini, hanya sehari sebelum aku datang. Itu yang aku dengar dari Rafa, saudara kembarmu.
***

 (dimuat di harian Radar Sulbar, Desember 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar