Oleh : Mira Pasolong
Perempuan renta dengan wajah penuh
harap itu duduk di samping meja telepon. Tatapannya lurus ke arah gagang telepon,
tak bergeser sedetikpun. Nampak seperti sedang menunggu telpon dari seseorang.
Perempuan renta itu tinggal
sendirian di gubuk reot yang nyaris rubuh. Dia melewati hari dengan bertanam
sayur-sayuran di pekarangan rumah yang tidak begitu luas. Tomat, lombok, terong
dan bayam berbaris rapi mengisi pekarangannya. Dia membagikan sayur-sayuran
kepada tetangga, yang biasanya akan dibarter dengan nasi dan ikan atau tahu
tempe. Perempuan itu sangat bersyukur dianugerahi tetangga-tetangga yang
penyayang dan baik hati. `Tetangganyalah yang selama ini menghibur dirinya.
Namun perempuan itu tidak bisa
membohongi kata hatinya sebagai seorang ibu. Di lubuk hati terdalam, dia memendam kerinduan yang teramat
sangat. Ada rasa sepi yang enggan terusir hanya dengan kehadiran tetangga-tetangganya.
Maka dari itulah, setiap hari ulang tahunnya tiba, dia menantikan teleponnya
berdering. Sekedar mendengar suara mengucapkan selamat ulang tahun saja mungkin
akan bisa meluruhkan sedikit rindunya.
Tapi sampai siang telah berganti
senja dan senja beranjak malam, telepon
itu belum juga berdering. Perempuan renta itu kecewa. Mengelus dada sambil
menggeleng- gelengkan kepala. Dia beranjak dari tempat duduknya. Dibiarkannya
pintu rumah terbuka lebar. Semilir angin menerbangkan anak-anak rambutnya yang
sudah memutih.
Diseretnya langkahnya dengan
tertatih. Terdengar bunyi lantai berderit.
Lantai rumahnya memang terbuat dari papan yang sebagian balok
penyanggahnya sudah dimakan rayap. Karena itulah jika diinjak akan terdengar
bunyi berderit. Plafonnya sudah hampir
lapuk semua. Di sana sini sarang laba-laba bergelantungan. Seperti tak
berpenghuni.
Perempuan itu menyalakan lampu.
Menuju meja makan. Sepotong ubi rebus plus ikan asin bakar segera berpindah
tempat ke dalam mulutnya. Keadaannya kini lebih tenang. Tidak segelisah tadi
ketika duduk di dekat telepon.
Dipandanginya sebuah foto usang tak
berbingkai yang ditempel di dinding depan meja makan. Gambar sosok lelaki
berusia sekitar lima puluh tahunan. Gagah dan berwibawa. Sambil tetap mengunyah
makanannya, dia berbicara ke arah foto tersebut.
"Aku akan tetap menemanimu di
sini. Nanti kusuruh anak-anak kita memperbaiki rumah ini, agar hujan tak
meleburkan apa yang telah terpatri di sini dan agar terikpun tak memudarkan
semua yang terukir indah di sini." Katanya sambil sekilas mengarahkan
pandangannya ke arah foto yang lain.
Enam lembar foto dengan obyek berkostum sama; memakai toga, terbingkai
indah berjejer di samping foto usang tersebut. Bulir bening mengalir dari sudut
matanya yang sendu. Garis kelelahan dan kepedihan terpancar nyata di wajah
keriput perempuan itu
Ingatannya kini melayang ketika dia
dan suaminya bersama-sama membesarkan anak-anak mereka hingga dari tujuh anaknya,
enam orang berhasil menyandang gelar sarjana. Hanya si bungsu yang bukan
sarjana, karena sejak kelas dua SMP dia harus berhenti sekolah akibat penyakit yang
dideritanya. Si bungsu menderita kelainan jiwa. Sejak suaminya meninggal, oleh
anak-anaknya yang lain, dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Perempuan renta itu
meringis menahan pedih mendengar anak bungsunya berteriak menangis karena tidak
ingin dipisahkan dari ibu yang sudah melahirkan dan merawatnya dengan penuh
kasih selama ini, tapi dia tak berdaya menghalangi niat anak-anaknya, walaupun
dia adalah seorang Ibu.
Bungsu yang disayangi tetap harus
diasingkan di rumah sakit jiwa. Ketika dia masih kuat dan masih bisa berjalan
jauh, hampir setiap hari dia menjenguknya. Tetapi ketika tubuhnya menjadi
renta, diapun tak pernah lagi bisa bertemu anak bungsunya. Entah bagaimana
kabar dia sekarang. Anak-anaknya yang lain pun tak pernah memberitahunya.
Mungkin merekapun tidak tahu bagaimana kabar adik bungsu mereka. Tapi perempuan
renta itu tak mempermasalahkannya. Dia yakin dengan untaian doa yang tak putus
dia kirimkan, anaknya akan baik-baik saja.
Di setiap sudut rumah seakan menyimpan beragam
kenangan indah tentang anak- anaknya. Derai tawa mereka ketika bercanda. Tangis
dan teriakan mereka ketik sedang bertengkar. Rasanya semuanya masih tergambar
jelas dalam memori tuanya. Menjadi sebuah kenangan indah yang melekat abadi
dalam hidupnya. Tak ingin dihapusnya kenangan itu, seberapa pun dia merasa
tersakiti oleh kelakuan anak-anaknya sekarang.
“Mungkin mereka sedang banyak pekerjaan, sehingga lupa
bahwa hari ini ulang tahun ibunya.” Perempuan renta itu menghibur diri.
Sebuah ketukan di pintu memaksanya mengakhiri
lamunannya. Dia berdiri, melangkah ke arah pintu. Ada sumringah di wajah
keriputnya. "Saya yakin mereka pasti datang." Katanya sambil
mempercepat langkahnya. Pintu terkuak.
"Mak, makan di rumahku saja. Tidak usah
masak." Perempuan tua itu menggeleng dan tanpa mempersilahkan tamunya
masuk, dia kembali ke kursi di dekat meja telepon. Belum juga lima menit,
pintunya kembali ada yang mengetuk. Pintu terkuak. Bukan tamu yang tadi.
"Mak, saya sudah siapkan kamar
untuk Mak. Tidur di rumahku saja. Biar rumah ini dikunci saja, ya."
Perempuan itu kembali menggeleng.
Bukannya dia tidak pandai bersyukur ataupun berterima kasih atas semua kebaikan
tetangganya, tapi bukan itu yang diharapkannya.
Kini dia kembali duduk di dekat telepon.
Perhatiannya sekarang kembali tertuju kepada telepon yang sejak tadi tidak
pernah berbunyi. Untuk mengusir sepi, disisirnya rambutnya dengan jemari yang
sudah keriput. Pandangannya tetap awas menatap telepon di sampingnya. Malam
semakin larut. Sesekali perempuan renta itu menguap. Telepon itu tak sekalipun
berdering. Pintunyapun tak ada lagi yang mengetuk. Akhirnya dia tertidur di kursi tanpa sempat
berganti baju.
***
"Selamat ulang tahun, Bu."
Suara manja putri ke enam-nya.
"Selamat hari Ibu, ya Bu."
Kali ini suara berat anak lelakinya menembus tepat di gendang telinganya. Ulang
tahunnya memang bertepatan dengan Hari Ibu, tanggal 22 Desember.
"Pokoknya mulai hari ini Ibu
tidak akan sendirian lagi di sini." Janji putri sulungnya.
"Kami akan menemani Ibu,
menjaga rumah ini, menjaga keabadian cinta Ibu dan Bapak yang banyak tercipta
di rumah ini." Suara tegas putri ketiganya.
"Kami akan mengukir syurga di
kaki Ibu."
"Mulai saat ini Ibu tidak boleh
bersedih lagi."
“Saya janji tidak akan sakit lagi,
Bu. Supaya bisa menemani Ibu di sini selamanya.” Suara gagap putri
bungsunya terdengar begitu merdu.
Satu persatu suara itu menyusup ke
gendang telinga perempuan renta itu. Wajahnya berseri-seri. Ke tujuh anaknya
sekarang bersamanya dan berjanji tidak akan membiarkannya sendirian lagi.
Kesendirian yang telah dijalaninya
selama hampir dua puluh tahun, sejak suaminya meninggal dan satu persatu
anaknya berkelurga dan mengukir larik
kehidupannya sendiri, akan segera berakhir.
Maka sepi yang selama ini setia menemani
mimpi-mimpi perempuan renta itu pun akan segera berganti menjadi kebahagiaan.
Selama ini, dalam kesendiriannya,
dia tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika
anak sulungnya yang seorang dokter hanya memberinya obat generik setiap
kali dia sakit, dia tetap tersenyum dan berterima kasih. Diapun tidak pernah
protes, walaupun anak lelaki satu-satunya yang seorang arsitek, hanya ichlas
membelikan tripleks untuk menambal dinding-dinding rumahnya yang mulai lapuk.
Dia tetap merasa bahagia. Dia
sungguh bahagia melihat ke enam anaknya sekarang sudah berhasil. Walaupun si
bungsu masih tetap harus dirawat di rumah sakit jiwa, namun itu tidak
mengurangi kesyukurannya. Dia memang
tetap betah tinggal di rumahnya karena ingin selalu mengenang kebersamaannya
dengan suaminya, mengenang perjuangannya, bahu membahu dalam mengais rezeki,
hingga di rumah itu berhasil mencetak enam orang sarjana. Sulit dipercaya jika
melihat kondisi perekonomian mereka. Kebahagiaan itu kadang semakin membuncah,
jika ingat betapa tiap tahun jumlah
cucunya bertambah. Dia berharap, suatu saat keceriaan cucu-cucunya akan
meramaikan kembali rumahnya.
Sekalipun begitu, pernah pula satu
dua kali perempuan itu merasakan hampa yang membuat hatinya nyeri dan matanya
membasah. Dia adalah seorang ibu dari enam anak perempuan dan seorang anak
lelaki yang semuanya sudah mempunyai kehidupan matang. Tapi di usia senjanya
dia sendirian. Anak-anaknya sangat
sibuk, sehingga tak bisa meluangkan waktu, pun sekedar menjenguknya. Cucu-cucunya
yang mungkin sudah mencapai angka selusin, bahkan hampir tidak mengenal siapa
neneknya.
Setiap tahun, di hari ulang tahunnya,
dia selalu berharap anak-anaknya akan datang, mengucapkan selamat dan
membanjirinya dengan perhatian dan kasih sayang. Walaupun hanya satu hari itu.
Sungguh, dia sangat ingin diperlakukan istemewa sebagai seorang Ibu yang telah
mengantarkan anak-anaknya hingga bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini.
Sekali lagi, walaupun hanya satu hari itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian
datang. Terima kasih karena kalian sudah rela meluangkan waktu untuk Ibu."
Air mata perempuan itu mengalir. Ada kesejukan mengaliri hatinya ketika dia
merasakan berpasang-pasang tangan memeluk tubuh ringkihnya; tepat di hari ulang tahunnya. Dikecupnya satu
persatu kening anak-anaknya, dibiarkannya cucu- cucunya bergelayut manja di
pangkuannya.
“Lihatlah, Pak. Mereka datang.
Anak-anak dan cucu-cucu kita datang. Mereka juga merindukan kita. Jadi sekarang
saya tidak kesepian lagi.” Katanya sambil kembali mengelus-elus foto suaminya.
***
Suara kokok ayam membangunkan
perempuan renta itu. Dia membuka matanya, menyapu sekelilingnya dengan tatapan
sedih. Di sampingnya teronggok gagang telepon lusuh di atas meja rapuh. Telepon
yang enggan berdering. Ternyata dia masih sendiri dalam rumah yang sudah hampir
rubuh itu. Kedatangan anaknya hanya bisa
terwujud di alam mimpi.
Perempuan renta itu tetap sendiri,
mengukir sepi, menabur asa dalam untaian doa yang tak pernah putus agar suatu
hari kelak anak-anaknya kembali padanya. Doa seorang Ibu yang kesepian.
***
(buat semua IBU… selamat hari Ibu)
(Dimua dalam Antology Cerpen Bersama IBU, Pustaka Puitika, Desember 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar