SEORANG LELAKI
DAN SEPULUH TANGKAI MAWAR
Oleh : Mira
pasolong
Mentari begitu menyengat. Para pejalan kaki
mempercepat langkah agar segera bisa berteduh di rerimbunan akasia yang
berjejer rapi sepanjang jalan. Tapi seorang lelaki berjalan santai sambil tersenyum-senyum. Tak peduli terik yang
membakar kulitnya yang memang sudah legam. Lelaki itu terus berjalan, juga
tetap dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya yang nampak pucat. Tanpa
memperhatikan sekelilingnya. Bahkan teriakan sopir angkot pun tak dihiraukannya. Dia terus
berjalan.
Di sebuah
perempatan dia berhenti sejenak. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya
terpaku pada penjual bunga di seberang jalan. Dia kembali berjalan. Kali ini
menuju ke penjual bunga tersebut.
" Bunga
mawarnya sepuluh tangkai ya."
"Mawar
merah atau putih, Pak?"
"Putih."
Lelaki itu
kembali melangkahkan kaki. Digenggamnya sepuluh tangkai bunga mawar yang baru
dibeli. Kali ini langkahnya tak seringan tadi. Senyumnyapun sudah tidak nampak
lagi. Senyum itu kini tergantikan mendung yang tiba-tiba bergelayut di wajah tirusnya.
Sambil berjalan sesekali bunga itu diciumi.
"Hari ini
ulang tahun pernikahan kita yang ke sepuluh, Sayang. Kenapa kamu biarkan aku
merayakannya sendirian?" Lelaki itu berhenti berjalan. Kali ini duduk di
halte. Bunga itu diciuminya kembali.
" Lagi
jatuh cinta ya, Pak?" Usil seorang anak muda yang sejak tadi
memperhatikannya.
" Apakah
kamu tahu, Anak Muda? Cinta itu hanya datang satu kali. Tak ada cinta
kedua, ketiga dan seterusnya. Selain cinta pertama semuanya
gombal." Lelaki itu menatap tajam mata anak muda di sampingnya.
"Tapi
saya sudah berkali-kali jatuh cinta, Pak."
"Tapi saya
yakin hanya satu yang betul-betul kamu cintai, Anak Muda."
"Tahukah
kamu betapa indahnya kesetiaan? Jangan pernah bermimpi menduakan cintamu karena
kamu akan sakit hati." Anak Muda itu menatapnya heran. Mungkin
mengiranya tidak waras. Tapi dari segi penampilan dia nampak normal-normal
saja.
"Maaf, apakah
Bapak pernah dikhianati?" Anak muda itu memberanikan diri bertanya.
"Cinta,
benci dan khianat itu hampir tak
berjarak. Ah sudahlah Anak Muda, kamu tidak akan bisa mengerti." Lelaki
itu meninggalkan halte, diikuti tatapan heran anak muda tersebut. Mawar itu digenggamnya erat-erat. Dicabutnya
setangkai kemudian bergumam sendiri "Di
ulang tahun pernikahan kita yang pertama, kuberikan untukmu setangkai mawar
putih." Lelaki itu tiba-tiba menghentikan
langkah, memperhatikan dua anak muda yang sedang bermesraan.
"Cinta
hanya indah jika ada kesetiaan." Terbayang kembali binar bahagia yang
terpancar ketika pujaan hatinya menerima lamarannya. Saat itu hanya dengan
modal dengkul, dia memberanikan diri melamar gadis yang sudah bertahun-tahun
menjajah hatinya. Kenekatan yang berbuah manis. Dan dia berjanji tak akan pernah
menyia-nyiakan pujaannya itu. Dia harus membahagiakannya. Dia tak akan pernah
menyakitinya, apalagi sampai mengkhianatinya. Maka dengan bermodalkan pinjaman
uang dari bank setelah menggadaikan SK CPNS, mereka pun menikah.***
Pada lembar
demi lembar kisah hidupnya tertoreh kebahagiaan yang tiada tara. Terlebih setelah
si kecil hadir di tengah-tengah mereka. Setiap ulang tahun pernikahannya,
mereka jadikan ajang untuk me-refresh
cinta mereka. Cinta dan kemesraan mereka awet, tak lekang oleh usia pernikahan
yang semakin bertambah.
" Sentral,
Pak." Suara sopir angkot membuyarkan lamunan lelaki itu. Dia segera
berdiri dan menggeleng. Dia kembali berjalan. Sesekali dia masih menciumi mawar
dalam genggamannya. Kadang disertai tetesan air mata.
"Di ulang
tahun ke dua pernikahan kita, akupun hanya bisa memberimu dua tangkai mawar
putih. Tapi kamu tetap nampak sangat bahagia. Kamu memelukku manja sambil
mengucapkan terima kasih." Ah lelaki itu seakan mendengar desah manja
isterinya mengucap terima kasih.
"Terima
kasih bunganya, Sayang. Terima kasih pula akan cintanya. " Lelaki itu
semakin bahagia. Dia merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia; karier
yang semakin mapan, isteri cantik, pintar dengan karier cemerlang, baik hati,
sederhana, setia, tulus mencintai dan tidak pernah menuntut apapun darinya.
Bahkan sampai
di ulang tahun pernikahan yang ke limapun, kadonya tetaplah bunga mawar. Tapi
isterinya tetap menerimanya dengan senyum indah. Barulah pada ulang tahun yang
ke enam, enam tangkai mawar putih sudah ditemani oleh selingkar cincin
berbentuk hati. Dia mempersembahkannya untuk isterinya, satu-satunya cinta yang
dia punya. Isterinya menyambutnya sama seperti tahun-tahun kemarin. Menerima
apapun pemberian suaminya dengan rasa syukur. Isterinya masih seperti dulu, tidak
pernah menuntut.
Namun kado
ulang tahun yang ke tujuh sangatlah mengejutkan. Dirinya khilaf, mencoba
bermain api. Dan akhirnya hancurlah kristal hati isterinya yang selama ini
selalu dijaga dengan baik. Malam itu setelah memberikan tujuh tangkai mawar dan sebuah cincin bertahtakan berlian,
semuanya menjadi berubah.
"Aku
khilaf, Sayang. Maafkan aku. Aku hanya kasihan padanya. Keluarganya sudah tidak
peduli. Aku kira dengan menikahinya, maka aku bisa menolongnya. Sekali lagi
maafkan aku." Lelaki itu mengiba, bersujud di kaki isterinya.
"Aku
maafkan kamu. Bangkitlah." Isterinya kemudian memapah tubuh lelaki itu.
Lelaki itu sangat tahu, walau nampak tegar, namun sesungguhnya hati isterinya
sangat sakit atau mungkin malah sudah hancur. Lelaki itu menangis. Dia merasa
hancur melihat ketegaran yang ditunjukkan isterinya.
"Sayang,
jangan diam saja. Hukumlah aku. Marahilah aku, tapi jangan hanya diam begini Sayang."
Lelaki itu mengguncang-guncang tubuh isterinya yang hanya diam tanpa sepatah
kata.
"Katakan
sesuatu, Sayang. Jangan diam saja. Kamu mintalah aku melakukan sesuatu agar rasa
bersalah ini berkurang"
"Kalau
aku meminta sesuatu, apa kamu akan sanggup?"
"Demi
kamu, demi anak kita, demi cinta kita, apapun akan aku lakukan ."
"Baik,
kalau begitu ceraikan aku sekarang juga."
"Tolong,
mintalah apa saja. Hukumlah aku. Tapi jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu.
Itu tidak akan pernah, Sayang. Mintalah yang lain, Insya Allah akan aku
penuhi."
“Tinggalkan
wanita itu. "
"Tapi
tidak segampang itu, Sayang. Pertanggungjawabannya terhadap Allah, bukan main-
main."
"Kalau
tahu bahwa pernikahan bukanlah permainan, kenapa kamu melakukannya tanpa
memikirkan resikonya?"
"Aku
minta waktu tiga bulan ya, Sayang. Setelah itu Insya Allah semuanya akan
kembali seperti semula."
"Baiklah,
aku sepakat."
***
Lelaki itu
tiba-tiba menjatuhkan dirinya di trotoar. Betapa rasanya separuh jiwanya
melayang, ketika tiga bulan kemudian isterinya pergi karena dia tidak bisa
memenuhi permintaan isterinya.
"Berarti
aku yang harus pergi." Isterinya pergi membawa semua kenangan tentang
mereka. Membawa buah kasih mereka. Dan
lelaki itu hanya terpaku di tempatnya, tak kuasa mencegah.
Tiga tahun
berlalu sejak peristiwa itu. Setiap tanggal ulang tahun pernikahan mereka,
lelaki itu tetap membeli bunga mawar. Tapi dia tidak pernah tahu di mana isteri
dan anaknya. Dia hanya menyimpan bunga mawar itu di kamarnya. Kamar yang begitu
sepi sejak isterinya pergi. Pergi dengan membawa semua cinta yang dia punya.
Sepeninggal isterinya, lelaki itu tidak pernah lagi merasa tertarik kepada
perempuan manapun, bahkan terhadap perempuan yang menjadi penyebab kandasnya
rumah tangga mereka. Lelaki itu menceraikan isteri keduanya. "Aku mohon maaf. Sebaiknya kita
berpisah saja karena kamu tidak akan pernah bisa bahagia bersamaku."
Dan sebagai wujud tanggungjawabnya, diberikannya sebuah rumah untuk
isterinya tersebut. Beberapa bulan kemudian mantan isteri keduanya tersebut
sudah menikah lagi dengan seorang duda kaya raya.
Lelaki itu
kembali berjalan. Diciuminya lagi sepuluh tangkai bunga yang ada dalam
genggamannya."Ke mana aku akan mencarimu, Kinanti? Aku merindukanmu,
merindukan putri kita. Aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah mampu memenuhi
permintaanmu. Aku memenuhinya hanya satu bulan sejak kepergianmu. Aku ingin kita seperti dulu lagi." Matahari sudah hampir condong ke barat.
Lelaki itu masih berjalan. Entah ke mana arah yang akan dituju. Di setiap halte dia berhenti sejenak dan
menggumamkan kalimat yang sama,
"cinta
hanya indah dengan kesetiaan." Kemudian dia berlalu. Larut dalam
kekhusyukan menciumi sepuluh tangkai mawar dalam genggamannya. Bahkan dia tidak
menyadari bahwa sejak beberapa menit yang lalu, ada wanita anggun dengan
sepasang mata yang berbinar rindu mengikutinya dari belakang. Bahkan diapun
tidak mendengar teriakan seorang putri cantik berusia sekitar delapan tahun
yang bersama wanita itu.
"Kita
pulang saja, ya Nak. Insya Allah suatu hari Ayah akan bertemu kita. Yang
penting sekarang kamu tahu bahwa Ayah sangat mencintai kita." Wanita itu membalikkan
badan, berjalan menjauhi halte ketika tiba-tiba suara teriakan terdengar. Wanita itu segera berlari ke arah
suara tersebut. Seorang lelaki dan sepuluh tangkai mawar di tangannya terkapar
bersimbah darah karena tertabrak mobil.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar