Selasa, 06 Januari 2015



SEORANG LELAKI DAN SEPULUH TANGKAI  MAWAR
Oleh : Mira pasolong

Mentari  begitu menyengat. Para pejalan kaki mempercepat langkah agar segera bisa berteduh di rerimbunan akasia yang berjejer rapi sepanjang jalan. Tapi seorang lelaki berjalan santai sambil  tersenyum-senyum. Tak peduli terik yang membakar kulitnya yang memang sudah legam. Lelaki itu terus berjalan, juga tetap dengan senyum yang mengembang di sudut bibirnya yang nampak pucat. Tanpa memperhatikan sekelilingnya. Bahkan teriakan sopir  angkot pun tak dihiraukannya. Dia terus berjalan.
Di sebuah perempatan dia berhenti sejenak. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya terpaku pada penjual bunga di seberang jalan. Dia kembali berjalan. Kali ini menuju ke penjual bunga tersebut.
" Bunga mawarnya sepuluh tangkai ya."
"Mawar merah atau putih, Pak?"
            "Putih."
Lelaki itu kembali melangkahkan kaki. Digenggamnya sepuluh tangkai bunga mawar yang baru dibeli. Kali ini langkahnya tak seringan tadi. Senyumnyapun sudah tidak nampak lagi. Senyum itu kini tergantikan mendung yang tiba-tiba bergelayut di wajah tirusnya. Sambil berjalan sesekali bunga itu diciumi.
"Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang ke sepuluh, Sayang. Kenapa kamu biarkan aku merayakannya sendirian?" Lelaki itu berhenti berjalan. Kali ini duduk di halte. Bunga itu diciuminya kembali.
" Lagi jatuh cinta ya, Pak?" Usil seorang anak muda yang sejak tadi memperhatikannya.
" Apakah kamu tahu, Anak Muda? Cinta itu hanya datang satu kali. Tak ada cinta kedua, ketiga dan seterusnya. Selain cinta pertama semuanya gombal." Lelaki itu menatap tajam mata anak muda di sampingnya.
"Tapi saya sudah berkali-kali jatuh cinta, Pak."
"Tapi saya yakin hanya satu yang betul-betul kamu cintai, Anak Muda."
            "Tahukah kamu betapa indahnya kesetiaan? Jangan pernah bermimpi menduakan cintamu karena kamu akan sakit hati." Anak Muda itu menatapnya heran. Mungkin mengiranya tidak waras. Tapi dari segi penampilan dia nampak normal-normal saja.
"Maaf, apakah Bapak pernah dikhianati?" Anak muda itu memberanikan diri bertanya.
            "Cinta, benci dan khianat  itu hampir tak berjarak. Ah sudahlah Anak Muda, kamu tidak akan bisa mengerti." Lelaki itu meninggalkan halte, diikuti tatapan heran anak muda tersebut.     Mawar itu digenggamnya erat-erat. Dicabutnya setangkai kemudian bergumam sendiri   "Di ulang tahun pernikahan kita yang pertama, kuberikan untukmu setangkai mawar putih."  Lelaki itu tiba-tiba menghentikan langkah, memperhatikan dua anak muda yang sedang bermesraan.
            "Cinta hanya indah jika ada kesetiaan." Terbayang kembali binar bahagia yang terpancar ketika pujaan hatinya menerima lamarannya. Saat itu hanya dengan modal dengkul, dia memberanikan diri melamar gadis yang sudah bertahun-tahun menjajah hatinya. Kenekatan yang berbuah manis. Dan dia berjanji tak akan pernah menyia-nyiakan pujaannya itu. Dia harus membahagiakannya. Dia tak akan pernah menyakitinya, apalagi sampai mengkhianatinya. Maka dengan bermodalkan pinjaman uang dari bank setelah menggadaikan SK CPNS, mereka pun menikah.***
Pada lembar demi lembar kisah hidupnya tertoreh kebahagiaan yang tiada tara. Terlebih setelah si kecil hadir di tengah-tengah mereka. Setiap ulang tahun pernikahannya, mereka jadikan ajang untuk me-refresh cinta mereka. Cinta dan kemesraan mereka awet, tak lekang oleh usia pernikahan yang semakin bertambah.
" Sentral, Pak." Suara sopir angkot membuyarkan lamunan lelaki itu. Dia segera berdiri dan menggeleng. Dia kembali berjalan. Sesekali dia masih menciumi mawar dalam genggamannya. Kadang disertai tetesan air mata.
"Di ulang tahun ke dua pernikahan kita, akupun hanya bisa memberimu dua tangkai mawar putih. Tapi kamu tetap nampak sangat bahagia. Kamu memelukku manja sambil mengucapkan terima kasih." Ah lelaki itu seakan mendengar desah manja isterinya mengucap terima kasih.
"Terima kasih bunganya, Sayang. Terima kasih pula akan cintanya. " Lelaki itu semakin bahagia. Dia merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia; karier yang semakin mapan, isteri cantik, pintar dengan karier cemerlang, baik hati, sederhana, setia, tulus mencintai dan tidak pernah menuntut apapun darinya.
Bahkan sampai di ulang tahun pernikahan yang ke limapun, kadonya tetaplah bunga mawar. Tapi isterinya tetap menerimanya dengan senyum indah. Barulah pada ulang tahun yang ke enam, enam tangkai mawar putih sudah ditemani oleh selingkar cincin berbentuk hati. Dia mempersembahkannya untuk isterinya, satu-satunya cinta yang dia punya. Isterinya menyambutnya sama seperti tahun-tahun kemarin. Menerima apapun pemberian suaminya dengan rasa syukur. Isterinya masih seperti dulu, tidak pernah menuntut.
Namun kado ulang tahun yang ke tujuh sangatlah mengejutkan. Dirinya khilaf, mencoba bermain api. Dan akhirnya hancurlah kristal hati isterinya yang selama ini selalu dijaga dengan baik. Malam itu setelah memberikan tujuh tangkai mawar  dan sebuah cincin bertahtakan berlian, semuanya menjadi berubah.
"Aku khilaf, Sayang. Maafkan aku. Aku hanya kasihan padanya. Keluarganya sudah tidak peduli. Aku kira dengan menikahinya, maka aku bisa menolongnya. Sekali lagi maafkan aku." Lelaki itu mengiba, bersujud di kaki isterinya.
"Aku maafkan kamu. Bangkitlah." Isterinya kemudian memapah tubuh lelaki itu. Lelaki itu sangat tahu, walau nampak tegar, namun sesungguhnya hati isterinya sangat sakit atau mungkin malah sudah hancur. Lelaki itu menangis. Dia merasa hancur melihat ketegaran yang ditunjukkan  isterinya.
"Sayang, jangan diam saja. Hukumlah aku. Marahilah aku, tapi jangan hanya diam begini Sayang." Lelaki itu mengguncang-guncang tubuh isterinya yang hanya diam tanpa sepatah kata.  
"Katakan sesuatu, Sayang. Jangan diam saja. Kamu mintalah aku melakukan sesuatu agar rasa bersalah ini berkurang"
"Kalau aku meminta sesuatu, apa kamu akan sanggup?"
"Demi kamu, demi anak kita, demi cinta kita, apapun akan aku lakukan ."  
"Baik, kalau begitu ceraikan aku sekarang juga."
            "Tolong, mintalah apa saja. Hukumlah aku. Tapi jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu. Itu tidak akan pernah, Sayang. Mintalah yang lain, Insya Allah akan aku penuhi."
“Tinggalkan wanita itu. "
            "Tapi tidak segampang itu, Sayang. Pertanggungjawabannya terhadap Allah, bukan main- main." 
"Kalau tahu bahwa pernikahan bukanlah permainan, kenapa kamu melakukannya tanpa memikirkan resikonya?"
"Aku minta waktu tiga bulan ya, Sayang. Setelah itu Insya Allah semuanya akan kembali seperti semula."
"Baiklah, aku sepakat."
***
Lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya di trotoar. Betapa rasanya separuh jiwanya melayang, ketika tiga bulan kemudian isterinya pergi karena dia tidak bisa memenuhi permintaan isterinya.
"Berarti aku yang harus pergi." Isterinya pergi membawa semua kenangan tentang mereka. Membawa  buah kasih mereka. Dan lelaki itu hanya terpaku di tempatnya, tak kuasa mencegah.
Tiga tahun berlalu sejak peristiwa itu. Setiap tanggal ulang tahun pernikahan mereka, lelaki itu tetap membeli bunga mawar. Tapi dia tidak pernah tahu di mana isteri dan anaknya. Dia hanya menyimpan bunga mawar itu di kamarnya. Kamar yang begitu sepi sejak isterinya pergi. Pergi dengan membawa semua cinta yang dia punya. Sepeninggal isterinya, lelaki itu tidak pernah lagi merasa tertarik kepada perempuan manapun, bahkan terhadap perempuan yang menjadi penyebab kandasnya rumah tangga mereka. Lelaki itu menceraikan isteri keduanya.            "Aku mohon maaf. Sebaiknya kita berpisah saja karena kamu tidak akan pernah bisa bahagia bersamaku." Dan sebagai wujud tanggungjawabnya, diberikannya sebuah rumah untuk isterinya tersebut. Beberapa bulan kemudian mantan isteri keduanya tersebut sudah menikah lagi dengan seorang duda kaya raya.
Lelaki itu kembali berjalan. Diciuminya lagi sepuluh tangkai bunga yang ada dalam genggamannya."Ke mana aku akan mencarimu, Kinanti? Aku merindukanmu, merindukan putri kita. Aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah mampu memenuhi permintaanmu. Aku memenuhinya hanya satu bulan sejak kepergianmu.  Aku ingin kita seperti dulu lagi."        Matahari sudah hampir condong ke barat. Lelaki itu masih berjalan. Entah ke mana arah yang akan dituju.  Di setiap halte dia berhenti sejenak dan menggumamkan kalimat yang sama,
 "cinta hanya indah dengan kesetiaan." Kemudian dia berlalu. Larut dalam kekhusyukan menciumi sepuluh tangkai mawar dalam genggamannya. Bahkan dia tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit yang lalu, ada wanita anggun dengan sepasang mata yang berbinar rindu mengikutinya dari belakang. Bahkan diapun tidak mendengar teriakan seorang putri cantik berusia sekitar delapan tahun yang bersama wanita itu.
"Kita pulang saja, ya Nak. Insya Allah suatu hari Ayah akan bertemu kita. Yang penting sekarang kamu tahu bahwa Ayah sangat mencintai kita." Wanita itu membalikkan badan, berjalan menjauhi halte ketika tiba-tiba suara teriakan  terdengar. Wanita itu segera berlari ke arah suara tersebut. Seorang lelaki dan sepuluh tangkai mawar di tangannya terkapar bersimbah darah karena tertabrak  mobil.           
****

(Dimuat di Harian Radar Sulbar, 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar