PENGAKUAN
Oleh
: Mira Pasolong
“Menghadapi anak sebaiknya pake hati.” Kataku berusaha
setenang mungkin. Bu Sri yang sedang duduk mendadak berdiri. Dirampasnya ponsel
yang ada di tanganku.
“Bu, menggunakan hati hanya akan menciptakan mental
manja.” Sergahnya. Aku tersenyum. Tak ada guna membalas dalam suasana panas
seperti ini.
“Biar saya yang menanganinya, Bu. Pasti beres.”
Lanjutnya. Aku mengangguk, bergegas meninggalkan ruang BP.
“Bu, jangan pergi.” Suara rengekan Rara, anak yang sedang
divonis bersalah mengambil ponsel dan uang temannya. Langkahku terhenti.
Kutatap matanya dalam-dalam. Ada permohonan, ada pula segumpal rasa takut di
sana. Hatiku menjadi ragu.
“Tidak apa-apa, Nak. Kalau memang tidak bersalah, tidak
usah takut.” Aku mengelus kepalanya yang tertutupi jilbab abu-abu, lalu
meninggalkan ruangan itu.
Bongkahan rasa yang sulit termaknai membuat dadaku sesak.
Rara adalah anak perwalianku. Ia bintang di kelasnya. Cantik, sopan, ramah dan
pintar. Dua hari yang lalu, teman sekelasnya kehilangan uang dan ponselnya.
Ketika diadakan penggeledahan, barang-barang itu ditemukan di dalam tas milik Rara.
“Saya tak mengambilnya, Bu. Saya tidak tahu siapa yang
menyimpannya di situ.” Isak Rara sambil memohon kepada Bu Sri, guru BP, agar
mencaritahu siapa sebenarnya pelakunya. Namun Bu Sri tetap bergeming. Ia begitu
yakin, Rara-lah pelakunya. Buktinya sangat kuat. Ponsel dan uang yang hilang
tersebut ditemukan dalam tasnya.
“Tapi tadi saat pelajaran Olahraga, saya dan Rara selalu
sama-sama, Bu.” Rindu mencoba membela Rara. Tapi semua tak merubah keadaan. Rara
tetap dinyatakan bersalah dan orang tuanya harus dipanggil.
Aku yang diberitahu keesokan harinya, mencoba mencari
keterangan dari teman-teman Rara. Rara sendiri tidak datang ke sekolah. Ketika
kutelpon, Ibunya mengatakan Rara sedang tidak enak badan. Aku tahu, Rara hanya
beralasan. Pasti ia malu.
“Kami sedang di lapangan, Bu. Pelajaran olahraga. Rara
juga ada di lapangan.” Kata Adi, Sang Ketua Kelas.
“Rifka yang ada di kelas karena katanya sedang tidak enak
badan.” Lapor Sari, Sahabat Rara. Aku menarik nafas panjang. Pada saat yang
bersamaan Rifka masuk ke dalam kelas. Ia langsung menundukkan kepala ketika
melihat kehadiranku di kelas. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.
“Dari mana, Nak?” Sapaku. Ia mengangkat kepalanya
sedikit.
“Dari kantin, Bu. Maaf telat.” Jawabnya sambil berjalan
ke mejanya.
“Tidak masalah. Ibu sedang tidak mengajar. Ibu hanya
ingin memastikan apakah Rara memang pelakunya. Menurut Rifka, bagaimana?” Aku
menatap tajam Rifka. Kucoba tetap menyembulkan senyum, agar Rifka tak merasa
tersudut. Entah mengapa, firasatku mengatakan, Rifkalah yang melakukannya.
Selama ini Rifka memang dikenal tidak menyukai Rara. Ia iri dengan semua yang
dimiliki Rara.
‘Aaa… anu, Bu.” Rifka gelagapan, tak mampu menjawab. Aku
mendekatinya, lalu mengelus-elus kepala dan bahunya.
“Kami yakin bukan Rara pelakunya.” Hampir seluruh kelas
kompak mengatakan kalimat itu. Dan itulah yang kemudian menuntunku untuk
berbicara dengan Bu Sri.
Intimidasi
yang dilakukan Bu Sri dengan menyatakan Rara sebagai pelaku, membuat Rara
merasa dipermalukan. Ia tidak ingin lagi ke sekolah. Setelah lama dibujuk,
barulah ia bersedia ke sekolah. Aku merasa perlu mengkonfrontir semuanya. Namun
kemudian, Bu Sri tidak menerima saranku, ketika kuusulkan untuk menghadirkan
beberapa saksi, termasuk Rifka, sebagai satu-satunya siswa yang ada dalam
kelas, saat pelajaran olah raga. Menurutku, Rifkapun wajar dicurigai.
***
Sudah beberapa menit aku berdiri di depan pintu ruangan
Kepala Sekolah. Aku masih menimbang-nimbang, apakah menyampaikan masalah ini
kepada Kepala sekolah, atau aku menyelesaikannya sendiri. Aku kemudian
memutuskan untuk mencoba menanganinya terlebih dahulu.
Aku berjalan menuju kelas. Jam istirahat. Rara masih
berada dalam ruang BP. Saat lewat tadi, kudengar ia menangis. Mendengar
isak itu, aku terketuk untuk membela Rara
dengan caraku sendiri. Sampai saat ini, aku masih yakin pelakunya bukan Rara.
“Rifka, boleh Ibu bicara?” Tanyaku lembut pada Rifka.
Kutatap wajahnya dengan penuh sayang. Ia nampak menghindari tatapanku.
“Tentang apa, Bu?” Tanyanya gusar. Aku mendekatinya dan
duduk di sampingnya. Kuminta teman-temannya yang lain keluar ruangan.
“Rifka baik-baik saja?” Tanyaku yang langsung dijawab
dengan anggukan.
“Tidak merasa terbebani?” Tanyaku lagi. Kali ini Rifka
mengangkat kepala menatapku.
“Maksud Ibu?”
“Kau mengerti maksud Ibu, Nak.” Kusentuh tangannya. Lalu
aku menceritakan kisah tentang seseorang yang akhirnya dimusuhi teman-temannya
karena selalu merasa iri terhadap kelebihan orang lain. Aku tegaskan betapa
penyakit hati itu jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik.
Belum usai ceritaku, Rifka langsung memelukku sambil
meminta maaf.
“Saya yang melakukannya, Bu. Saya iri. Saya cemburu pada
Rara. Ia disukai semua orang. Cantik, kaya dan berprestasi. Sementara saya?”
Pengakuan dari hati. Aku memeluknya, memberi penguatan. Tak perlu memberikan
vonis karena Rifka telah mengakui kesalahannya.
“Ada yang ingin Rifka ceritakan pada Ibu?” Aku menatap
matanya. “Bicaralah! Ibu siap mendengarkan.” Lanjutku.
“Saya malu, Bu.” Rifka menunduk.
“Tak usah malu. Ceritalah!”
“Saya cemburu, Bu. Minggu lalu Rara dan Adi jadian.
Padahal sejak kelas X saya naksir sama Adi.” Pengakuan polos dari hati yang juga
masih polos. Dan benderanglah masalah ini. Masalah klasik yang tak pernah terusik
zaman; cinta. Aku tersenyum.
“Pasti akan ada yang lebih baik dari Adi untuk Rifka.”
Aku menyemangati. Dan tanpa kusangka, Rifka berdiri dan lalu mengajakku ke
ruang BP.
“Saya akan membuat pengakuan. Rara tidak boleh dihukum
untuk suatu kesalahan yang tak pernah ia lakukan.” Rifka berlari menuju ruang
BP. Aku menyusulnya dari belakang. Aku semakin yakin bahwa kejujuran dari
seseorang akan ditemukan jika kita mencarinya melalui hati; tanpa intimidasi.
***
(Dimuat dalam antologi Cerpen bersama Bintang-bintang Kecil; My Family, terbit tahun 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar