Selasa, 06 Januari 2015



PENGAKUAN
Oleh : Mira Pasolong
            “Menghadapi anak sebaiknya pake hati.” Kataku berusaha setenang mungkin. Bu Sri yang sedang duduk mendadak berdiri. Dirampasnya ponsel yang ada di tanganku.
            “Bu, menggunakan hati hanya akan menciptakan mental manja.” Sergahnya. Aku tersenyum. Tak ada guna membalas dalam suasana panas seperti ini.
            “Biar saya yang menanganinya, Bu. Pasti beres.” Lanjutnya. Aku mengangguk, bergegas meninggalkan ruang BP.
            “Bu, jangan pergi.” Suara rengekan Rara, anak yang sedang divonis bersalah mengambil ponsel dan uang temannya. Langkahku terhenti. Kutatap matanya dalam-dalam. Ada permohonan, ada pula segumpal rasa takut di sana. Hatiku menjadi ragu.
            “Tidak apa-apa, Nak. Kalau memang tidak bersalah, tidak usah takut.” Aku mengelus kepalanya yang tertutupi jilbab abu-abu, lalu meninggalkan ruangan itu.
            Bongkahan rasa yang sulit termaknai membuat dadaku sesak. Rara adalah anak perwalianku. Ia bintang di kelasnya. Cantik, sopan, ramah dan pintar. Dua hari yang lalu, teman sekelasnya kehilangan uang dan ponselnya. Ketika diadakan penggeledahan, barang-barang itu ditemukan di dalam tas milik Rara.
            “Saya tak mengambilnya, Bu. Saya tidak tahu siapa yang menyimpannya di situ.” Isak Rara sambil memohon kepada Bu Sri, guru BP, agar mencaritahu siapa sebenarnya pelakunya. Namun Bu Sri tetap bergeming. Ia begitu yakin, Rara-lah pelakunya. Buktinya sangat kuat. Ponsel dan uang yang hilang tersebut ditemukan dalam tasnya.
            “Tapi tadi saat pelajaran Olahraga, saya dan Rara selalu sama-sama, Bu.” Rindu mencoba membela Rara. Tapi semua tak merubah keadaan. Rara tetap dinyatakan bersalah dan orang tuanya harus dipanggil.
            Aku yang diberitahu keesokan harinya, mencoba mencari keterangan dari teman-teman Rara. Rara sendiri tidak datang ke sekolah. Ketika kutelpon, Ibunya mengatakan Rara sedang tidak enak badan. Aku tahu, Rara hanya beralasan. Pasti ia malu.
            “Kami sedang di lapangan, Bu. Pelajaran olahraga. Rara juga ada di lapangan.” Kata Adi, Sang Ketua Kelas.
            “Rifka yang ada di kelas karena katanya sedang tidak enak badan.” Lapor Sari, Sahabat Rara. Aku menarik nafas panjang. Pada saat yang bersamaan Rifka masuk ke dalam kelas. Ia langsung menundukkan kepala ketika melihat kehadiranku di kelas. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.
            “Dari mana, Nak?” Sapaku. Ia mengangkat kepalanya sedikit.
            “Dari kantin, Bu. Maaf telat.” Jawabnya sambil berjalan ke mejanya.
            “Tidak masalah. Ibu sedang tidak mengajar. Ibu hanya ingin memastikan apakah Rara memang pelakunya. Menurut Rifka, bagaimana?” Aku menatap tajam Rifka. Kucoba tetap menyembulkan senyum, agar Rifka tak merasa tersudut. Entah mengapa, firasatku mengatakan, Rifkalah yang melakukannya. Selama ini Rifka memang dikenal tidak menyukai Rara. Ia iri dengan semua yang dimiliki Rara.
            ‘Aaa… anu, Bu.” Rifka gelagapan, tak mampu menjawab. Aku mendekatinya, lalu mengelus-elus kepala dan bahunya.
            “Kami yakin bukan Rara pelakunya.” Hampir seluruh kelas kompak mengatakan kalimat itu. Dan itulah yang kemudian menuntunku untuk berbicara dengan Bu Sri.
Intimidasi yang dilakukan Bu Sri dengan menyatakan Rara sebagai pelaku, membuat Rara merasa dipermalukan. Ia tidak ingin lagi ke sekolah. Setelah lama dibujuk, barulah ia bersedia ke sekolah. Aku merasa perlu mengkonfrontir semuanya. Namun kemudian, Bu Sri tidak menerima saranku, ketika kuusulkan untuk menghadirkan beberapa saksi, termasuk Rifka, sebagai satu-satunya siswa yang ada dalam kelas, saat pelajaran olah raga. Menurutku, Rifkapun wajar dicurigai.
***
            Sudah beberapa menit aku berdiri di depan pintu ruangan Kepala Sekolah. Aku masih menimbang-nimbang, apakah menyampaikan masalah ini kepada Kepala sekolah, atau aku menyelesaikannya sendiri. Aku kemudian memutuskan untuk mencoba menanganinya terlebih dahulu.
            Aku berjalan menuju kelas. Jam istirahat. Rara masih berada dalam ruang BP. Saat lewat tadi, kudengar ia menangis. Mendengar isak  itu, aku terketuk untuk membela Rara dengan caraku sendiri. Sampai saat ini, aku masih yakin pelakunya bukan Rara.
            “Rifka, boleh Ibu bicara?” Tanyaku lembut pada Rifka. Kutatap wajahnya dengan penuh sayang. Ia nampak menghindari tatapanku.
            “Tentang apa, Bu?” Tanyanya gusar. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Kuminta teman-temannya yang lain keluar ruangan.
            “Rifka baik-baik saja?” Tanyaku yang langsung dijawab dengan anggukan.
            “Tidak merasa terbebani?” Tanyaku lagi. Kali ini Rifka mengangkat kepala menatapku.
            “Maksud Ibu?”
            “Kau mengerti maksud Ibu, Nak.” Kusentuh tangannya. Lalu aku menceritakan kisah tentang seseorang yang akhirnya dimusuhi teman-temannya karena selalu merasa iri terhadap kelebihan orang lain. Aku tegaskan betapa penyakit hati itu jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik.
            Belum usai ceritaku, Rifka langsung memelukku sambil meminta maaf.
            “Saya yang melakukannya, Bu. Saya iri. Saya cemburu pada Rara. Ia disukai semua orang. Cantik, kaya dan berprestasi. Sementara saya?” Pengakuan dari hati. Aku memeluknya, memberi penguatan. Tak perlu memberikan vonis karena Rifka telah mengakui kesalahannya.
            “Ada yang ingin Rifka ceritakan pada Ibu?” Aku menatap matanya. “Bicaralah! Ibu siap mendengarkan.” Lanjutku.
            “Saya malu, Bu.” Rifka menunduk.
            “Tak usah malu. Ceritalah!”
            “Saya cemburu, Bu. Minggu lalu Rara dan Adi jadian. Padahal sejak kelas X saya naksir sama Adi.” Pengakuan polos dari hati yang juga masih polos. Dan benderanglah masalah ini. Masalah klasik yang tak pernah terusik zaman; cinta. Aku tersenyum.
            “Pasti akan ada yang lebih baik dari Adi untuk Rifka.” Aku menyemangati. Dan tanpa kusangka, Rifka berdiri dan lalu mengajakku ke ruang BP.
            “Saya akan membuat pengakuan. Rara tidak boleh dihukum untuk suatu kesalahan yang tak pernah ia lakukan.” Rifka berlari menuju ruang BP. Aku menyusulnya dari belakang. Aku semakin yakin bahwa kejujuran dari seseorang akan ditemukan jika kita mencarinya melalui hati; tanpa intimidasi.
***
 
(Dimuat dalam antologi Cerpen bersama Bintang-bintang Kecil; My Family, terbit tahun 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar