CATATAN IDEALIS BU RIMA
Oleh : Mira Pasolong
“Kalau bukan kamu,
siapa lagi?" suara guru BP membahana, membelai langit yang saat itu sedang
mendung.
"Demi
Allah, Pak." Rein bersuara setengah menangis. Di luar rintik mulai menitik
di atas genteng sekolah yang sudah mulai usang. Diakuinya dia memang sering
membuat onar. Tapi untuk kasus yang satu ini, dia sama sekali tidak tahu
menahu. Sayang sekali, lidah Rein yang sering begitu lincah berkelit membela
diri dari masalah yang membelit, kini tak berkutik. Semua bukti mengarah
kepadanya. Yang paling meyakinkan adalah tulisan yang persis sama dengan
tulisan tangannya dan juga alibi bahwa dia orang terakhir yang meninggalkan
kelas kemarin.
Kepala sekolah
menggelar rapat. Seluruh jajaran dipanggil. Masalah ini tidak bisa dibiarkan
berlarut- larut. Efeknya akan sangat terasa, terutama dalam proses
pembelajaran.
"Pelakunya
sudah kita ketahui. Selanjutnya kita akan membicarakan hukuman yang pantas bagi
anak ini." kata kepala sekolah.
"Dikeluarkan
saja, Pak. Daripada jadi bumerang"
"Cukup
diskorsing saja,Pak. Toch tulisannya juga tidak punya tendensi apa- apa.
"
Dikeluarkan."
"
Kasihan, sudah kelas tiga. Dikasih hukuman yang lain saja."
"Harus
diselidiki lebih mendalam sebelum ambil keputusan."
"Dia
memang trouble maker, kog. Tetap
sekolah di sini juga percuma. Hanya mengganggu sistem."
Bersahut- sahutan guru- guru
mengeluarkan pendapatnya. Sebagian besar menginginkan Rein dikeluarkan.
Bu Rima, guru yang sangat jarang bicara dirapat, tiba-
tiba angkat bicara.
"apakah
salah kalau seorang anak menyampaikan suatu kebenaran?" tanyanya sambil
mengedarkan pandangan kepada semua yang hadir. Mereka menggeleng lemah. Lalu hening.
Di luar rintik sudah menjelma menjadi hujan, menderas menimbulkan gemuruh.
Bahkan mungkin sebentar lagi hujan juga akan menghantarkan banjir.
"yang
ditulis di papan tulis itu tidak ada yang salah khan? Semuanya sesuai fakta.
Jadi mestinya kita bersyukur karena ada siswa kita yang bisa mengkritisi
kebobrokan yang terjadi di sekolah ini."
" maksud
Ibu ini apa?" Kepala Sekolah sedikit terpancing emosinya.
"kita
sendiri khan yang mengajarkan kejujuran kepada anak- anak kita? Nah, lantas
kenapa ketika ada yang mencoba jujur, kita harus menghukumnya?"
"dia
merusak sistem, Bu." lantang wakil
kepala sekolah.
"sistem
apa? Penguasa? Kita ini digaji untuk mencerdaskan generasi bangsa, bukan
membantunya untuk menjadi munafik." Bu Rima masih berapi- api.
"Bu, tidak
perlu idealis begitu. Nanti malah tertindas zaman dan terlindas sistem. Kita
ini orang kecil bisanya apa?" salah seorang guru berusaha menentang Bu
Rima. Bu Rima masih ingin bicara, tapi segera dipotong oleh kepala sekolah.
Maka setelah melalui berbagai
proses, diputuskan Rein dikeluarkan.
***
Bu Rima
berjalan lambat menuju kantin. Sesekali langkahnya terhenti karena harus
menyapa siswa yang dilewatinya.
Sudah dua minggu Rein
dikeluarkan. Tak ada lagi sepoi angin yang datang membawa berita tentangnya. Rein
seakan hilang ditelan badai yang belakangan ini semakin sering mewarnai negeri
ini.
Kegelisahan
terpancar nyata di balik senyum manis Bu Rima. Sejak Rein dikeluarkan, dia
lebih sering termenung di kelas daripada memberikan materi kepada siswa-
siswanya. Ada peperangan sengit dalam bathinnya. Dia ingat awal mulanya dia
mencintai profesinya.
"ilmu
yang diberikan kepada anak didik kita akan dipergunakannya untuk melanjutkan
kehidupannya nanti. Jika ilmu itu digunakan untuk kebaikan, maka guru akan
memperoleh amal jariah." seorang sepupu jauh Bu Rima menyadarkannya. Sejak
itu dia mencoba untuk menyelami setiap hikmah di balik profesinya. Dan sungguh,
setelahnya, dia hanya memetik kenikmatan jika sudah menularkan ilmu kepada
siswanya.
Maka dia akan
sangat tersiksa jika sudah diperhadapkan pada situasi yang cenderung hanya
menguntungkan para petinggi. Setiap tahun batinnya bergolak memikirkan ujian
nasional yang akan dihadapi siswanya. Betapa tidak, tiga tahun menularkan ilmu,
tiga tahun menanamkan nilai- nilai kejujuran
pada siswa- siswanya dan hanya dalam waktu 120 menit semuanya akan pudar. Tak
ada lagi kepercayaan siswa pada gurunya.
Ingin
menentang? Guru selalu berada dalam dilema. Membangkang berarti harus siap
tersisih. Bu Rima memang idealis, tapi dia tidak cukup tegar. Maka dia pun
terlibat dalam segala praktek kemunafikan, berdalih menolong generasi bangsa,
padahal sebenarnya justru menghancurkan mental anak bangsa. Selembar
ijazah dianggap lebih menjamin masa
depan dibanding kejujuran. Maka jangan
heran jika negeri ini dihiasi dengan kecurangan di mana- mana.
Bu Rima ingin berontak. Walau
tidak tahu bagaimana caranya. Maka dia hanya mampu mencorat coret isi hatinya
di tempat manapun yang dianggapnya bisa dilihat dan dibaca orang.
Namun kasus Rein seakan
melemparnya ke jurang terdalam yang tak kasat mata. Bu Rima merasa sangat
bersalah. Tidak semestinya Rein menjadi korban idealismenya yang tak tergapai
kenyataan. Dia kejam, telah menghancurkan harapan anak didiknya sendiri.
Yang mengherankan, Rein tidak mau
membela diri dan mengatakan yang sebenarnya. Padahal Rein tahu. Rein melihat
semuanya. Bahkan Rein pulalah yang telah mengingatkannya untuk menghapus
tulisan di papan tulis itu. Tapi kenapa Rein bungkam? Bahkan ketika dia
dikeluarkan dari sekolah, dia Nampak tenang- tenang saja.
"tetaplah berjuang untuk
kebenaran, Bu." katanya sendu ketika menjabat tangan Bu Rima. Kalimat yang
semakin memojokkan Bu Rima. Kalimat yang semakin memenjara hati Bu Rima dalam
rasa bersalah yang mendera deras.
***
"Jadi
semua ini ulah Bu Rima?" kepala sekolah menggebrak mejanya dengan sekuat
tenaga. Dilemparnya buku diary yang tadi diserahkan Bu Rima. Diary tempat Bu
Rima mencurahkan semua idealismenya yang selama ini terbungkam. Bu Rima
menunduk. Bukan karena takut, tapi karena perasaan bersalahnya terhadap Rein
kembali menyiksa. "Ibu tahu sanksi
yang akan Ibu dapatkan?" suara kepala sekolah semakin menggelegar. Ibu
Rima mengangguk mantap.
"tahu,Pak.
Dan saya sudah siap. Tapi saya harap Rein bisa diterima kembali di sekolah ini
karena dia tidak bersalah." Bu Rima tersenyum samar. Menghormat sejenak
kepada kepala sekolah, dan meninggalkan ruang kepala sekolah bersama selembar
kertas di depannya. Kepala sekolah melirik sejenak tulisan itu:
"untuk apa bersusah payah belajar,
kalau toch pada akhirnya, dibantu juga saat ujian. Beginilah cermin pendidikan
negeri ini. Hanya mengejar kuantitas, mengabaikan kualitas. Demi melanggengkan
tahta kekuasaan???"
Kepala sekolah mendesah dan
meremas kuat kertas itu.
(Dimuat dalam Antologi Cerpen Bintang-Bintang kecil; My Family, terbit tahun 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar