Selasa, 06 Januari 2015



CATATAN IDEALIS BU RIMA
Oleh : Mira Pasolong
“Kalau bukan kamu, siapa lagi?" suara guru BP membahana, membelai langit yang saat itu sedang mendung.
"Demi Allah, Pak." Rein bersuara setengah menangis. Di luar rintik mulai menitik di atas genteng sekolah yang sudah mulai usang. Diakuinya dia memang sering membuat onar. Tapi untuk kasus yang satu ini, dia sama sekali tidak tahu menahu. Sayang sekali, lidah Rein yang sering begitu lincah berkelit membela diri dari masalah yang membelit, kini tak berkutik. Semua bukti mengarah kepadanya. Yang paling meyakinkan adalah tulisan yang persis sama dengan tulisan tangannya dan juga alibi bahwa dia orang terakhir yang meninggalkan kelas kemarin.
Kepala sekolah menggelar rapat. Seluruh jajaran dipanggil. Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut- larut. Efeknya akan sangat terasa, terutama dalam proses pembelajaran. 
"Pelakunya sudah kita ketahui. Selanjutnya kita akan membicarakan hukuman yang pantas bagi anak ini." kata kepala sekolah.
"Dikeluarkan saja, Pak. Daripada jadi bumerang"
"Cukup diskorsing saja,Pak. Toch tulisannya juga tidak punya tendensi apa- apa.
" Dikeluarkan."
" Kasihan, sudah kelas tiga. Dikasih hukuman yang lain saja."
"Harus diselidiki lebih mendalam sebelum ambil keputusan."
"Dia memang trouble maker, kog. Tetap sekolah di sini juga percuma. Hanya mengganggu sistem."
Bersahut- sahutan guru- guru mengeluarkan pendapatnya. Sebagian besar menginginkan Rein dikeluarkan.
Bu Rima,  guru yang sangat jarang bicara dirapat, tiba- tiba angkat bicara.
"apakah salah kalau seorang anak menyampaikan suatu kebenaran?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan kepada semua yang hadir. Mereka menggeleng lemah. Lalu hening. Di luar rintik sudah menjelma menjadi hujan, menderas menimbulkan gemuruh. Bahkan mungkin sebentar lagi hujan juga akan menghantarkan banjir.
"yang ditulis di papan tulis itu tidak ada yang salah khan? Semuanya sesuai fakta. Jadi mestinya kita bersyukur karena ada siswa kita yang bisa mengkritisi kebobrokan yang terjadi di sekolah ini."
" maksud Ibu ini apa?" Kepala Sekolah sedikit terpancing emosinya.
"kita sendiri khan yang mengajarkan kejujuran kepada anak- anak kita? Nah, lantas kenapa ketika ada yang mencoba jujur, kita harus menghukumnya?"
"dia merusak sistem, Bu." lantang  wakil kepala sekolah.
"sistem apa? Penguasa? Kita ini digaji untuk mencerdaskan generasi bangsa, bukan membantunya untuk menjadi munafik." Bu Rima masih berapi- api.
"Bu, tidak perlu idealis begitu. Nanti malah tertindas zaman dan terlindas sistem. Kita ini orang kecil bisanya apa?" salah seorang guru berusaha menentang Bu Rima. Bu Rima masih ingin bicara, tapi segera dipotong oleh kepala sekolah.
Maka setelah melalui berbagai proses, diputuskan Rein dikeluarkan.
***
Bu Rima berjalan lambat menuju kantin. Sesekali langkahnya terhenti karena harus menyapa siswa yang dilewatinya.
Sudah dua minggu Rein dikeluarkan. Tak ada lagi sepoi angin yang datang membawa berita tentangnya. Rein seakan hilang ditelan badai yang belakangan ini semakin sering mewarnai negeri ini.
Kegelisahan terpancar nyata di balik senyum manis Bu Rima. Sejak Rein dikeluarkan, dia lebih sering termenung di kelas daripada memberikan materi kepada siswa- siswanya. Ada peperangan sengit dalam bathinnya. Dia ingat awal mulanya dia mencintai profesinya.
"ilmu yang diberikan kepada anak didik kita akan dipergunakannya untuk melanjutkan kehidupannya nanti. Jika ilmu itu digunakan untuk kebaikan, maka guru akan memperoleh amal jariah." seorang sepupu jauh Bu Rima menyadarkannya. Sejak itu dia mencoba untuk menyelami setiap hikmah di balik profesinya. Dan sungguh, setelahnya, dia hanya memetik kenikmatan jika sudah menularkan ilmu kepada siswanya.
Maka dia akan sangat tersiksa jika sudah diperhadapkan pada situasi yang cenderung hanya menguntungkan para petinggi. Setiap tahun batinnya bergolak memikirkan ujian nasional yang akan dihadapi siswanya. Betapa tidak, tiga tahun menularkan ilmu, tiga tahun menanamkan  nilai- nilai kejujuran pada siswa- siswanya dan hanya dalam waktu 120 menit semuanya akan pudar. Tak ada lagi kepercayaan siswa pada gurunya.
Ingin menentang? Guru selalu berada dalam dilema. Membangkang berarti harus siap tersisih. Bu Rima memang idealis, tapi dia tidak cukup tegar. Maka dia pun terlibat dalam segala praktek kemunafikan, berdalih menolong generasi bangsa, padahal sebenarnya justru menghancurkan mental anak bangsa. Selembar ijazah  dianggap lebih menjamin masa depan  dibanding kejujuran. Maka jangan heran jika negeri ini dihiasi dengan kecurangan di mana- mana.
Bu Rima ingin berontak. Walau tidak tahu bagaimana caranya. Maka dia hanya mampu mencorat coret isi hatinya di tempat manapun yang dianggapnya bisa dilihat dan dibaca orang.  
Namun kasus Rein seakan melemparnya ke jurang terdalam yang tak kasat mata. Bu Rima merasa sangat bersalah. Tidak semestinya Rein menjadi korban idealismenya yang tak tergapai kenyataan. Dia kejam, telah menghancurkan harapan anak didiknya sendiri.
Yang mengherankan, Rein tidak mau membela diri dan mengatakan yang sebenarnya. Padahal Rein tahu. Rein melihat semuanya. Bahkan Rein pulalah yang telah mengingatkannya untuk menghapus tulisan di papan tulis itu. Tapi kenapa Rein bungkam? Bahkan ketika dia dikeluarkan dari sekolah, dia Nampak tenang- tenang saja.
"tetaplah berjuang untuk kebenaran, Bu." katanya sendu ketika menjabat tangan Bu Rima. Kalimat yang semakin memojokkan Bu Rima. Kalimat yang semakin memenjara hati Bu Rima dalam rasa bersalah yang mendera deras.
***
"Jadi semua ini ulah Bu Rima?" kepala sekolah menggebrak mejanya dengan sekuat tenaga. Dilemparnya buku diary yang tadi diserahkan Bu Rima. Diary tempat Bu Rima mencurahkan semua idealismenya yang selama ini terbungkam. Bu Rima menunduk. Bukan karena takut, tapi karena perasaan bersalahnya terhadap Rein kembali menyiksa.   "Ibu tahu sanksi yang akan Ibu dapatkan?" suara kepala sekolah semakin menggelegar. Ibu Rima mengangguk mantap.
"tahu,Pak. Dan saya sudah siap. Tapi saya harap Rein bisa diterima kembali di sekolah ini karena dia tidak bersalah." Bu Rima tersenyum samar. Menghormat sejenak kepada kepala sekolah, dan meninggalkan ruang kepala sekolah bersama selembar kertas di depannya. Kepala sekolah melirik sejenak tulisan itu:
"untuk apa bersusah payah belajar, kalau toch pada akhirnya, dibantu juga saat ujian. Beginilah cermin pendidikan negeri ini. Hanya mengejar kuantitas, mengabaikan kualitas. Demi melanggengkan tahta kekuasaan???"
Kepala sekolah mendesah dan meremas kuat kertas itu. 

(Dimuat dalam Antologi Cerpen Bintang-Bintang kecil; My Family, terbit tahun 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar