Selasa, 17 April 2012

KESETIAAN SENJA


Oleh : Mira Pasolong
"Tunggu di sini, ya. Saya tebus obatnya dulu." Seorang nenek berusia sekitar 70 tahun menuntun seorang kakek yang sebaya dengannya untuk duduk di ruang tunggu rumah sakit itu. Mereka berjalan sambil bergandeng tangan. Mereka pastilah sepasang suami isteri. Sang kakek mengangguk lemah, mendudukkan pantatnya di bangku panjang dan melepaskan genggaman tangannya pada sang nenek. Sang nenek lalu bergegas pergi setelah melempar senyum tulus pada suaminya. Tak lama kemudian sang nenek datang dengan wajah sendu.
"Kenapa, Ndi' (1)?" Tanya Sang kakek was- was.
"Uang kita tidak cukup, Daeng (2)." Jawab sang nenek lirih. Ditahannya air mata yang sudah mengambang di pelupuk matanya. Berdua mereka nampak berdiskusi sampai kemudian sang nenek kembali lagi ke loket pembelian obat.
"Secukupnya saja, Nak." Kata sang nenek kepada petugasnya.
"Tidak bisa, Nek. Harus semuanya."  Petugas tersebut menjawab cuek. Sang nenek kelihatan sangat kecewa.
"Kita pulang saja, Daeng. Nanti cari obat di tempat lain saja." sang nenek membimbing sang kakek meninggalkan rumah sakit. Suhu badan sang kakek semakin tinggi. Dia kelihatan sangat lemah. Tapi tak satupun yang ada di rumah sakit itu yang peduli. Sang nenek berusaha keras untuk bisa memapah suaminya. Terseok mereka melangkahkan kaki menuju halte. Dengan erat sang kakek memegang tangan sang nenek, mesra dan romantis di tengah kepiluan yang dengan setia mendera keuzuran mereka. Membuat iri siapa saja yang melihatnya.
            Sesampainya di gubuk reot yang telah mereka tinggali selama bertahun- tahun , sang nenek segera memijat sang kakek. Melumuri badannya dengan obat racikan sendiri, minyak kelapa plus irisan bawang merah. Cahaya matahari senja yang temaram mengintip dari celah- celah dinding bambu rumah mereka, menjadi saksi bisu kebersamaan dan kemesraan sepasang suami isteri  yang sudah diambang senja tersebut.
            Lima puluh dua tahun yang lalu kala sang nenek masih berusia  20 tahun dan sang kakek berusia 23 tahun, mereka berikrar untuk hidup bersama dalam suka dan duka, mengucap seuntai ijab qabul di depan penghulu dengan perhelatan yang sangat sederhana. Binar kebahagiaan tak pernah lepas menghiasi wajah kedua pengantin. Wajah penuh harap akan masa depan yang lebih baik. Berjuta rencana akan hari esok yang manis membangun keluarga Sakinah Mawaddah Wa rahmah dengan anak- anak yang shaleh shalehah.
"Kamu ingin berapa anak, Ndi?" Pengantin pria bertanya malu- malu pada  isterinya. Yang ditanya hanya tersenyum tersipu. Merasa malu dan canggung. Cahaya bulan yang temaram mengintip nakal lewat celah jendela kamar  pengantin baru tersebut. Menambah suasana romantis, dan menjadi saksi terpatrinya kisah kasih dua anak manusia.
            "Saya mau kita bikin kesebelasan, Ndi."Sang suami masih melanjutkan pengharapannya. Kali ini sang isteri mengangguk dan kembali tersipu.
            Empat tahun berlalu, percakapan penuh asa di malam pertama itu belum jua tercapai. Tangis bayi belum juga hadir di tengah- tengah mereka. Tapi mereka tetap mesra dan nampak bahagia. Mereka sadar bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah. Bila sudah waktunya, pasti Allah akan memberinya.
            "Yang penting kita tetap berusaha dan berdoa." hibur sang suami setiap kali sang isteri datang bulan. Dan sang isteripun kembali tenang.
            Tahun terus berganti. Belum juga ada tangis bayi di antara mereka.
            "Sudah sepuluh tahun kita menikah, tapi saya belum hamil- hamil juga. Kalau Daeng sudah bosan menunggu, maka saya ichlas Daeng mencari perempuan lain." Sang isteri lirih berbisik pada suaminya. Ada gurat kelelahan, keputusasaan dan kesedihan di wajahnya yang cantik itu.
"Tidak akan pernah. Saya mencintai kamu. Tidak mungkin saya bisa mencintai orang lain."           
"Cobalah dulu, Daeng. Tak ada yang bisa diharapkan dari saya." Ada butiran bening yang mengambang di pelupuk mata sang isteri.
            "Kaulah harapanku, Ndi. Sepuluh tahun mendampingiku tidak ada sedikitpun cacat yang kulihat darimu."
"Tapi sampai kapan Daeng akan bertahan tanpa seorangpun keturunan? Saya sudah capek. Tak kurang- kurang usaha kita. Doapun tak pernah putus. Tapi Allah belum jua mengabulkannya." Percakapan malam itu berlangsung alot. Masing- masing bertahan dengan pendiriannya.  
Bertahun- tahun hal itu senantiasa menjadi bahan perdebatan bagi mereka. Sampai akhirnya saat sang suami merasa bosan disuruh terus menikah, dan dia pun akhirnya memutuskan untuk mengabulkan permintaan isterinya.
            "Sudah lama kau menginginkan saya menikah lagi. Sekarang saya bersedia menuruti keinginanmu. Saya ingin menikah lagi." Kata suaminya di sebuah malam yang dingin.
            "Iya Daeng. Semoga Daeng bisa segera menemukan calon yang tepat." Lirih Sang isteri. Walaupun sebenarnya itu adalah keinginannya namun hatinya tetap merasa sakit. Sakit yang teramat sangat. Dicobanya menahan air matanya. Dia tak ingin kelihatan sedih. Toh, itu permintaannya sendiri. Dingin semakin terasa. Bulan seakan engggan menampakkan diri, bintangpun tak sudi berkedip. Semua seakan tenggelam dalam lirih yang mendera.
            Maka setelah didapat calon yang tepat, sang suamipun menikah lagi. Tidak seperti pernikahan sebelumnya, penikahan kali ini sama sekali tidak membuat sang pengantin prianya gembira. Kesedihan nampak bergelayut di wajahnya yang sarat penderitaan. Belum sekejappun dia bisa membahagiakan isterinya dari sisi materi, dan sekarang dia harus menghidupi isteri yang lain lagi. Lebih dari itu dia tahu bahwa sebetulnya isterinya sangat terluka dengan pernikahan ini. Hari- hari terlewati dengan penuh warna. Sang suami sering kali kebingungan dan uring- uringan karena dia merasa isteri pertamanya semakin jauh darinya. Padahal sungguh, cintanya tak sedikitpun berkurang padanya.
            "Kenapa kamu menjauhiku?"
"Maaf Daeng. Saya ingin Daeng cepat- cepat punya momongan supaya Daeng bisa bahagia. Janganlah saya jadi penghalang kalian."
"Bahagia katamu? Kebahagiaanku adalah bersama kamu. Jadi mustahil saya akan bahagia jika kita berjauhan begini."
            Hari- hari mereka semakin sulit. Dua tahun sudah sejak pernikahan kedua itu, tapi belum juga seorang anakpun terlahir. Sang suami mulai bosan. Bosan dengan keadaan dirinya. Sang isteri pertama sudah enam bulan pulang kampung, membuatnya setiap hari terlewati dengan merindui sang pujaan. Sementara sang isteri kedua juga tidak bisa memberinya apa- apa. Tidak  cinta, tidak juga anak. Padahal harta mereka yang hanya berupa sepetak sawah yang tidak terlalu luas sudah terjual untuk dipakai berobat ke mana- mana demi mendapatkan seorang anak.             Sang suami semakin kalut. Isteri yang dicintai pergi, sementara isteri yang ada di dekatnya tidak bisa memberinya ketenangan apapun. Pikirannya menjadi kalut.  Dia berusaha untuk menemukan isterinya kembali, tapi isterinya hilang bagai di telan bumi. Akhirnya diapun pasrah. Kmbali ke isteri keduanya, berteman dengan kehampaan.
            Rasa hampa, sedih, putus asa dan beragam rasa lainnya, membuatnya semakin kalut. Dia tidak bisa berpikir waras lagi. Segera diceraikannya isteri keduanya. Dia kemudian meninggalkan kampungnya, mengembara entah ke mana. Dalam pengembaraannya, entah sudah berapa perempuan yang dia nikahi. Namun tak satupun pernikahannya yang bertahan lama. Dia dengan seenaknya saja akan meninggalkan isterinya, jika sudah merasa jenuh. Hal itu dilakukannya selama bertahun- tahun. Dia yang dulunya merupakan lelaki yang sangat menghormati dan menyanjung perempuan, kini berubah total. Semuanya karena luka yang menderanya sepeninggal isteri pertamanya.
            Dalam pengembaraannyapun sebenarnya dia berharap bisa menemukan isterinya lagi. Namun sampai bertahun- tahun kemudian, dia tak juga kunjung bisa mendeteksi jejak isterinya.
            “saya akan tetap mencari kamu, Ndi. Sampai nyawa ini terpisah dari raga.” Sumpahnya.
            Segala hal yang telah digariskan oleh Allah pasti akan terjadi. Karena kehendak Allah jualah akhirnya dia  bisa menemukan isteri pertamanya setelah bertahun- tahun berpisah.
            Sore itu pada sebuah terminal yang tak pernah berhenti berdetak, seperti biasa, dia melakukan pekerjaannya sebagai kuli angkut barang. Dari jauh dia melihat seorang wanita kerepotan membawa barangnya. Diapun segera mendekati dan menawarkan jasanya.
            “biar saya bantu, Bu.” Tawarnya. Perempuan itu mengangkat mukanya. Pandangan mereka bertemu. Mereka saling bertatapan. Lama. Keduanya terpukau tanpa ada yang sanggup berkata. Bahkan barang-barang di tangan perempuan itu terlepas tanpa disadarinya. Sedetik. Dua detik. Detak jantung merekapun seakan berhenti berdetak.
            “Daeng?” akhirnya perempuan itu mampu juga bersuara. Diaturnya nafasnya yang tiba- tiba saja terasa sesak. Bertahun- tahun dia menyembunyikan diri dari lelaki yang sekarang berdiri di depannya. Bertahun- tahun dia menyembunyikan rasa rindunya. Pada akhirnya, Allah mengirim lelaki itu kembali ke hadapannya.
            “Kamu banyak berubah, Ndi.” Lirih suara lelaki itu.
            “Tapi ada satu yang tak berubah. Cintaku pada Daeng.” Suara perempuan itu serak. Air matanya kini menggenang di pelupuk mata, seakan hendak mengabarkan duka yang selama ini dipendamnya.
Maka sejak saat itu, diusia yang sudah menjelang senja, mereka kembali berikrar untuk bersama selalu. Hanya ajal yang bisa memisahkan mereka. Kebahagiaan yang tiada tara mereka rasakan setelah mereka kembali dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang suci.
            Walau senja telah mulai menyapa usia mereka, wajah tak seindah dulu lagi, badanpun sudah mulai rapuh, namun mereka tetap berusaha membingkai rumah tangga mereka dengan cinta dan kesetiaan. Walau tanpa buah hati penerus garis keturunan, namun mereka tetap merasa bahagia. Mereka senantiasa berkhusnu'zon bahwa Allah tidak memberi mereka keturunan karena Allah tidak ingin mereka meninggalkan keturunan- keturunan mereka dalam keadaan lemah dan hanya mewariskan kemiskinan dan penderitaan. Kini mereka sudah lebih dua puluh tahun merajut kembali rumah tangga mereka.
"Sudah agak baikan, Ndi. Suhu badanku sudah turun. Tapi dadaku masih sakit" Kata sang kakek sambil batuk- batuk kecil setelah selesai dipijat.
            "Saya parutkan jahe, ya Daeng. Insya Allah bisa mengurangi sakit di dada." Kata sang nenek sambil berdiri dan menyeret langkahnya menuju dapur. Parutan jahe itu nantinya dibalurkan ke dada. Sang kakek mengangguk sambil merebahkan kepalanya di bale- bale bambo yang berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus meja makan.
 Cahaya matahari sudah tak nampak lagi. Senja telah berlalu meninggalkan malam. Kini sang malamlah yang menemani pasangan renta ini. 
"Daeng, ini jahenya sudah siap." Sang nenek duduk di samping suaminya dan mulai membalurkan parutan jahe yang dibuatnya ke dadanya . Sang nenek tiba- tiba tersentak.Tak ada jawaban atau reaksi apapun dari suaminya.  Dada si kakek juga terasa dingin.
            "Daeeeeeg.... Daaeeeeng ,jangan tinggalkan saya. Saya tidak mau sendirian, Daeeeeng. Saya tidak mau berpisah lagi." Sang nenek berteriak histeris. Suaranya menggema, membahana, memecah keheningan malam yang sudah mulai larut. Hawa dingin yang menusuk tulang menghembuskan angin kesedihan. Bulan yang enggan menampakkan senyum membawa pesan kepedihan. Lolong anjing di kejauhan mengabarkan berita  pilu pada dunia bahwa sepasang anak manusia yang saling mencinta dan saling setia telah dipisahkan oleh sang maut.

Catatan :
(1). Ndi berasal dari kata Andi ; panggilan yang berarti Adik. Biasanya dipakai seorang suami untuk memanggil isterinya.
(2). Daeng adalah antonim dari kata Andi. Jadi Daeng berarti Kakak dan biasanya dipakai seorang isteri untuk memanggil suaminya.

CATATAN : Cerpen ini dimuat dalam buku antology cerpen romantis "LOVE AUTUMN" terbitan DIVA PRESS, 2011

Sabtu, 31 Maret 2012

...................


SIMPUL PERTAMA
Yuliana memarkir mobilnya. Melangkah ke loby hotel D’Maleo, hotel termegah di Sulawesi Barat untuk saat ini. Ada acara ulang tahun Sulawesi Barat. Dia hadir mengantar anak- anak asuhannya yang diminta menarikan sejumlah tarian daerah Mandar. Tiga tarian khas Mandar akan dibawakan oleh penari- penari yang sudah bertahun- tahun dibina di sanggar milik Yuliana.
Yuliana gemar menari sejak kecil. Dia juga gemar membaca dan menulis.  Impiannya adalah mendirikan sanggar tari dan taman bacaan. Dia menyadari betapa di daerahnya masih sangat kurang wahana pengembangan bakat bagi anak- anak muda. Dia ingin memberikan sumbangsih walau mungkin hanya secuil.
Modal? Dia sempat down. Dia hanya orang biasa, walau tidak bisa dikatakan miskin. Ibunya memiliki sebuah wisma yang sudah beberapa tahun ini dikelola Yuliana. Tapi dia tidak ingin mengganggu keuangan perusahaannya karena dia sadar itu adalah milik ibunya. Dia hanya mengelola dan digaji secara profesional. Maka untuk beberapa lama hasrat itu diendapkan dalam ruang harapnya yang paling bawah. Dia harus mencari modal terlebih dahulu.
Membolak balik file- file lama, ketika SMA dan ketika mahasiswa, Yuliana menemukan seberkas cahaya asa yang berpendar. Ditemukannya sebuah outline novel yang ditulisnya ketika masih mahasiswa. Sejak kecil, Yuliana  senang menulis. Tulisan- tulisannya menggunung memenuhi berlembar- lembar kertas HVS. Beberapa tulisan tangan, ketikan manual sampai ketikan komputer. Dari sekedar curahan hati, puisi, cerpen hingga cerita bersambung dan beberapa draft novel. Sayang sekali ketika itu dia tidak punya akses dengan media cetak, sehingga karya- karyanya hanya teronggok dalam laci lemari buku.
Sebuah draft novel menarik perhatiannya. Amnesia, bakal judul novel itu. Yuliana mencoba mengingat- ingat  kenapa  sampai tertarik menulis tentang hal itu. Tak ada bayangan. Tapi Yuliana tetap bertekad untuk menggarap novel tersebut.
Selama beberapa bulan Yuliana berkutat dengan laptopnya. Sesekali dia keluar rumah, melakukan observasi mengenai novel yang digarapnya. Bertanya ke beberapa dokter ahli mengenai penyakit amnesia dan juga  kepada orang- orang yang pernah mengalaminya. Beberapa kali bahkan dia harus ke Makassar untuk mencari data yang lebih lengkap.
Pada akhirnya kerja keras Yuliana berbuah manis. Keringat yang mengucur selama pengerjaan novel terbayar. Jam tidur yang terpangkas akhirnya mampu tergantikan beberapa bulan kemudian ketika sebuah penerbit dari kota Gudeg bersedia menerbitkan novelnya.
Delapan minggu sejak terbit, novel Yuliana naik cetakan kedua.  Novel best seller. Maka lengkaplah kebahagiaan Yuliana. Sejak saat itu dia harus bersiap diri dengan ritme kehidupan yang baru; menjadi terkenal, mengisi acara bedah buku di berbagai kota, mengadakan promosi, dan menghadiri undangan- undangan kepenulisan.
Yuliana jadi yakin bahwa jika niat kita lurus, maka Allah pasti akan memuluskan jalan untuk menggapainya. Tak sampai setahun, cita- cita Yuliana untuk mendirikan sanggar tari dan taman bacaan yang disebutnya sebagai Pusat Kegiatan Belajar Remaja (PKBR), tercapai. Royalti penjualan novelnya dijadikan modal.  Awalnya dia merekrut dua orang relawan, tetapi seiring semakin berkembangnya PKBR tersebut, semakin banyak pula yang menawarkan diri untuk menjadi relawan.
Belum setahun berdiri, sudah ada sekitar seratus anak dari keluarga miskin dan terlantar yang dibina di PKBR yang diberi nama Gerai Bersama. Ada berbagai kegiatan yang rutin dilakukan, sanggar tari, pelatihan menulis, kursus bahasa Inggris, kursus keterampilan rumah tangga dan taman bacaan masyarakat.  Setiap hari Sabtu dan Minggu digelar program anak gemar membaca khusus untuk anak- anak jalanan. Berbagai kegiatan menarik disediakan untuk anak- anak tersebut, seperti lomba mewarnai, lomba mengambar, lomba baca ouisi ataupun sekedar mendengarkan dongeng dari para relawan.
Yuliana sangat bahagia melihat perkembangan pesat  Gerai Bersama. Yuliana berhasrat mendirikan pusat kegiatan belajar tersebut bukan semata karena kecintaannya pada dunia seni dan sastra, tetapi juga karena terdorong rasa prihatinnya terhadap miskinnya literatur- literatur di Mamuju. Masyarakat kesulitan mencari referensi bahan bacaan.
Ketika sekolah dulu, Yuliana beberapa kali mengeluhkan hal ini. Ketika disuruh guru membuat makalah atau membuat klipping, Yuliana harus pontang panting mencari koran atau majalah bekas. Sejak itulah dia memupuk mimpinya untuk kelak suatu hari  mendirikan taman bacaan. Mimpi yang baru menjadi nyata ketika Yuliana menginjak usia dua puluh empat tahun.
***
Yuliana adalah seorang gadis manis yang mandiri. Tempaan penderitaan hidup yang dilakoninya sejak kecil membuatnya kelihatan lebih matang dibanding gadis- gadis sebayanya. Sejak kecil dia sudah bisa menghasilkan uang. Kepandaiannya merangkai kata membuatnya sering dimintai teman- temannya untuk menuliskan puisi cinta ataupun surat cinta. Walaupun Yuliana tidak pernah meminta, namun teman- temannya biasanya memberi uang lelah. Di lain waktu Yuliana juga membuat amplop- amplop yang imut dan menarik. Dia kemudian menjual amplop tersebut kepada teman- temannya.
Sebagian besar temannya di pesantren membeli amplop darinya, jika mereka ingin mengirim surat kepada orang tuanya di kampung. Sosok Yuliana yang cerdas, kreatif dan sopan membuatnya disukai teman- teman dan guru- gurunya. Walaupun Yuliana nyaris sempurna sebagai seorang gadis, tetapi dia tidak sombong. Di manapun dia berada, senyumnya akan selalu merekah. Wajah cantiknya akan semakin berseri- seri jika dia baru saja melakukan sesuatu yang dirasanya berguna bagi orang lain.
Itulah Yuliana. Dia begitu istimewa di balik keterbatasannya sebagai perempuan biasa. Semua orang senang padanya. Semua orang menyayangi dan menghormatinya. Namun tak banyak yang tahu bahwa sesungguhnya hati Yuliana gersang. Dia haus akan kasih sayang orang tua. Ibunya memang selalu ada untuknya, namun itu hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan fisik. Sedangkan kebutuhan psikis sama sekali tak pernah dijamah Ibunya. Tak pernah Yuliana merasakan bermanja- manja di pangkuan ibunya, seperti yang sering dilakukan teman- teman sebayanya. Diapun tak berani untuk curhat pada Ibunya. Ibunya selalu sibuk dan sudah kelelahan ketika tiba di rumah. Maka tinggallah Yuliana sendiri menata hatinya yang selalu kesepian.
Tapi kenyataan itu tidak lantas membuat Yuliana menjadi pemurung. Sebaliknya, hari- harinya selalu diisi dengan keceriaan. Kesedihan dan kesepiannya disimpan di sebuah brankas terdalam di hatinya. Tak ada yang bisa melihatnya, kecuali dia sendiri. Dia berprinsip, kebahagiaan itu terletak pada kebahagiaan orang- orang di sekitar kita. Maka ketika dia bisa membawa keceriaan bagi lingkungannya, itulah kebahagiaannya.
Yuliana, gadis cantik nan semampai, cerdas, berprestasi dan sederhana. Banyak yang ingin memikat hatinya, namun hati Yuliana yang seputih pualam itu belum mau menambatkannya pada siapapun. Dia masih betah sendiri. Dia masih ingin mengepakkan sayap sejauh mungkin. Masih banyak mimpi yang belum diraih.
***
"Sampai kapan engkau akan menolak lamaran Nak Fathir, Yul? Ibu sudah tua, penyakit Ibu semakin parah, Ibu ingin segera menimang cucu." Suara Salma, Ibu Yuliana, halus namun tegas. Yuliana kadang bergidik jika mendengar suara ibunya. Entahlah. Sejak kecil dia tidak pernah merasa aman berada dalam dekapannya. Terkadang bahkan ada pertanyaan aneh berkelebat dalam batinnya. Mungkinkah dia tidak terlahir dari rahim wanita yang selama ini dipanggilnya Ibu? Susah menepis perasaan itu, walaupun Yuliana selalu merasa berdosa setiap kali meragukan ibunya. Atau mungkin itu terjadi hanya karena dia selama ini tidak pernah bisa menyelami perasaan ibunya yang sebenarnya?
Salma terlalu tertutup. Bahkan Yuliana tidak pernah tahu dengan pasti apa sebenarnya profesinya dulu, sebelum akhirnya  mampu membangun wisma seperti sekarang ini.
Setahu Yuliana, dulu ibunya sering pulang larut malam. Kadang diantar oleh lelaki tak dikenal, kadang pula pulang sendiri. Desas desus yang beredar yang kadang membuat Yuliana kecil pulang dari sekolah sambil menangis adalah bahwa ibunya tak lebih hanyalah seorang wanita penghibur.
Tapi  Yuliana tidak pernah menemukan bukti yang membenarkan gosip itu. Setiap kali ditanya, Salma hanya menjawab bahwa dia bekerja di sebuah rumah makan yang buka hingga pukul dua pagi. Yuliana kecil saat itu percaya saja walaupun dia sama sekali tidak pernah melihat tempat kerja ibunya tersebut. Setiap kali dia merengek minta ikut, Salma akan memarahinya dan menguncinya dalam rumah. Saat itu pula, seingat Yuliana, mereka selalu berpindah- pindah tempat tinggal.
            Tamat Sekolah Dasar, Yuliana minta dikirim ke pesantren dan hanya pulang ke Mamuju sekali setahun. Setiap kali pulang, Yuliana menemukan perubahan ekonomi ibunya. Bahkan sejak Yuliana kelas tiga SMP, ibunya sudah bisa membangun wisma walaupun masih sepuluh kamar. Tamat SMA, Yuliana kembali ke Mamuju dan membantu ibunya membenahi wismanya. Sebagai alumni pesantren, Yuliana berusaha sekuat tenaga menerapkan konsep islami dalam mengelola usahanya. Salma sempat protes ketika beberapa karyawan dipecat Yuliana.
"Bu, Ibu tidak ingin kan menjadikan tempat ini pusat maksiat?" tanya Yuliana tak kalah sengitnya.
"Maksud kamu?" Salma sedikit melemah.
"Karyawan yang saya pecat adalah karyawan yang biasa memberikan pelayanan kepada tamu melebihi yang seharusnya.” Salma tidak bisa lagi berkutik.
Selama beberapa tahun tak ada perkembangan berarti dari wismanya. Yuliana tidak putus asa. Dia memutuskan untuk kuliah managemen. Dan selama kuliah dia mempercayakan wisma tersebut kepada sahabat akrabnya di pesantren dulu, Zahra.
Salma sebenarnya tidak setuju. Tetapi karena sudah mulai sakit- sakitan, dia akhirnya hanya menuruti keinginan Yuliana. Terbukti beberapa tahun kemudian wisma tersebut menjadi wisma terlaris di Mamuju. Wisma itu juga terkenal steril dari penyakit masyarakat. Tak ada wanita penghibur di sana. Karyawan wanita  semuanya mengenakan jilbab. Sangat bersahaja.
Sambil mengelola wisma, Yuliana juga tetap konsentrasi mengurus PKBR Gerai Bersama. Diapun masih eksis sebagai penulis. Sudah ada tiga novel yang diterbitkannya. Semuanya laris manis bak kacang rebus.
Ketika itulah seorang lelaki memasuki hidupnya. Yuliana sangat bahagia ketika lelaki itu melamarnya. Untuk pertama kalinya pula Yuliana merasakan betapa hangat pelukan ibu.
"Maafkan Ibu karena selama ini Ibu banyak berbuat salah sama kamu." Bisik Salma tanpa mampu menahan lelehan air matanya.
Hari yang dijanjikan untuk menentukan tanggal pernikahanpun tiba. Yuliana dan Salma deg- degan menunggu rombongan dari keluarga Sang Pangeran.
Namun sesuatu yang di luar rencana dan keinginan manusia tiba- tiba saja terjadi.
"Kau?" mata Ayah Sang Pangeran membulat ketika berhadapan dengan Salma.
"Dia anakmu?" tanyanya. Salma mengangguk ragu. Tanpa memberikan penjelasan apapun bapak itu menarik tangan anaknya meninggalkan Yuliana dan Salma yang hanya bisa menangis.  Yuliana minta penjelasan pada ibunya. Tapi hanya kebekuanlah yang menjadi jawabnya. Yuliana pasrah sambil berharap suatu hari tabir rahasia ibunya akan terkuak. Dan sejak saat itu pula hati Yuliana seakan beku terhadap semua lelaki.
Sekarang ibunya kembali mendesaknya untuk menerima pinangan Fathir. Tapi Yuliana sudah terlanjur terluka. Dia tidak ingin lukanya semakin menganga.
Fathir adalah lelaki yang baik. Dia nyaris sempurna; wajah tampan, gelar akademik tinggi, pengusaha, sabar dan rendah hati. Rasanya tak ada perempuan yang akan sanggup menolak cintanya. Namun hati Yuliana tetap beku. Kesempurnaan Fathir tak mampu mencairkan hatinya. Beragam ketakutan merasuki hatinya. Dia takut dikecewakan lagi. Sampai berbulan- bulan Fathir menunjukkan keseriusannya, namun tetap tak mampu menembus ruang terdalam di hati Yuliana.
"Maaf, Kak. Kita berteman saja." putusnya kemudian. Fathir berat menerima keputusan Yuliana. Sampai beberapa lama dia tetap menebar pesonanya untuk memikat perhatian Yuliana. Sampai kemudian Fathir harus menyerah sendiri setelah diketahui dalam dirinya bersarang leukimia yang sewaktu- waktu bisa saja membuatnya harus rela meninggalkan segala kefanaan dunia ini. Fathir akhirnya meninggal tanpa berhasil mempersunting Yuliana. 
***

Menghempaskan badannya di sofa usang, Romi nampak kelelahan. Kasus pemukulan terhadap rekan wartawan mengusik idealisme jurnalistiknya. Dia tidak bisa diam. Harus ada aksi yang dilakukan untuk menegakkan kebenaran di ranah pers tanah air.
Hatinya menjerit setiap kali melihat rekan- rekannya ditindas. Sama sakitnya ketika dia menyadari bahwa sebagian rekan profesinya juga terkadang melecehkan sendiri profesi jurnalist. Romi benci ketidakadilan. Romi tidak senang ketidakjujuran. Maka dia akan bereaksi ketika pers diperlakukan tidak sebagaimana mestinya.
Suatu hari dia harus berurusan dengan polisi karena memukul teman satu timnya ketika sedang meliput kasus asusila yang dilakukan oleh oknum pejabat. Temannya itu bersikeras tidak ingin mempublikasikan liputannya. Selidik punya selidik, ternyata sang pejabat telah memberikan sejumlah rupiah kepada temannya tersebut agar bisa tutup mulut. Emosi Romi pun memuncak. Dia bahkan memukul rekannya tersebut hingga babak belur yang membuatnya harus berurusan dengan polisi.
             Tapi itu tidak membuatnya kapok. Beberapa kali Romi harus mendekam di tahanan karena pemberitaannya yang kritis dan terkadang menyudutkan pejabat.
"Jika buku dan pulpen adalah modal para pelajar; linggis dan parang adalah modal para petani, maka kejujuran dan keberanian adalah modal bagi para kuli tinta. Maka saya tidak akan pernah menodai kejujuran dan keberanianku." katanya suatu hari di depan penyidik yang memeriksanya.
Romi bahkan tidak pernah peduli sekalipun idealismenya itu membuatnya sering harus berhadapan dengan yang namanya PHK. Dia tidak pernah gentar dipecat. Dia bahkan sering mengundurkan diri dari media tempatnya bekerja karena merasa tidak sevisi.  Pada akhirnya dia memutuskan untuk mendirikan  media cetak walaupun modalnya harus dengan mengorbankan motor antik peninggalan bapaknya.
Maka Romipun menjadi ikon jurnalist idealis. Dia diagung- agungkan oleh para pencinta keadilan, tetapi sebaliknya dibenci oleh para pencinta kecurangan dan kemunafikan.
Sebenarnya tak ada yang istimewa dalam diri Romi, tinggi badannya hanya 165cm, kulit hitam, rambut yang selalu acak- acakan dan hidung yang jauh dari mancung. Kecuali mata elangnya yang telah mampu meluluhkan banyak wanita, dan tentu saja idealismenya yang tak tanggung- tanggung. Dua hal itulah yang menjadikannya istimewa.
Romi dilahirkan dan dibesarkan oleh seorang ibu bersahaja, bernama Hayati. Wanita anggun, cantik, sabar, dan tegar. Pesonanya mampu menghipnotis banyak lelaki. Tapi dia tak goyah. Tetap setia pada suami yang telah lebih dua puluh tahun meninggalkannya tanpa kabar berita. Dia tetap sabar. Pun ketika dia kehilangan anak bungsunya, yang diculik oleh seseorang yang tak dikenal. Dia tetap berusaha tegar. Di tengah penderitaan yang membelitnya, cobaan yang menerpanya dan godaan yang tak pernah usai, dia tetaplah menjadi sosok yang bersahaja.
Romi banyak belajar nilai- nilai kehidupan dari ibunya. Sejak kecil Romi senang ikut ke manapun ibunya pergi. Ke pasar sekalipun. Apalagi setelah anak perempuannya tak kunjung ditemukan, Hayati menjadi takut meninggalkan Romi sendirian di rumah. Maka adalah hal biasa bagi Romi berjalan di tengah terik mentari dari rumahnya ke pasar Terong, tempat ibu Hayati mencari sesuap nasi. Romi kecil dibesarkan di tengah hiruk pikuk pasar dengan segala kekejaman hidup yang ada di dalamnya.
Anak- anak pasar biasanya akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar, berani dan berjiwa keras. Hayati menyadari betul bahwa jika sifat itu tidak diarahkan dengan benar sejak kecil, maka bisa saja Romi, seperti kebanyakan anak- anak pasar, akan berwujud preman nantinya. Karena itulah, bagi Hayati, Romi harus sekolah, harus belajar agama. Romi tidak boleh bergaul dengan anak- anak di pasar.
Setiap saat pula, ketika  Hayati dan Romi bercengkerama, maka tak bosan- bosannya dia menitip harap pada anak semata wayangnya tersebut.
"Saat ini hanya kamulah satu- satunya yang Ibu miliki. Jadi Ibu harap suatu hari kelak kamu bisa menjadi kebanggaan Ibu. Belajarlah yang giat, jangan bermalas- malasan. Beribadahlah karena sesungguhnya dengan ibadahlah hati kita akan tenang." nasehat yang sejak di bangku Sekolah Dasar hingga saat ini ketika usianya sudah menginjak angka tiga puluh, selalu didengarnya keluar dari bibir mungil ibunya. Dan itulah yang dijadikan Romi dasar pijakan dalam melangkah, menyusuri jejak-jejak idealismenya di dunia kewartawanan.
***
Rahang Romi mengatup kuat. Tanda ada emosi terpendam yang sudah hampir meledak. Disobeknya lembaran kertas kusut yang ada di depannya.
“Saya menerima kalian bekerja di sini karena saya kira kalian bisa memahami visi misi media kita ini. Tapi ternyata saya keliru. Kalian tega menjual idealisme kalian." Romi tepekur menatap lantai. Keningnya berkerut. Di depannya dua orang reporternya menunduk. Tak ada sepatah katapun yang mampu terucap dari mulut mereka. Mereka diam. Menunggu vonis.
"Kemasi barang- barang kalian." vonis itu akhirnya keluar juga. Pemecatan.
Mereka memelas meminta Romi menarik keputusannya, tapi Romi tidak goyah. Baginya lebih baik membuang sedikit daging yang busuk daripada menyimpannya dan akhirnya baunya menyebar merusak daging yang masih baik.
Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh dua reporter yang bekerja di media yang dikelola Romi, bukanlah kesalahan besar. Tapi tidak demikian menurut Romi. Baginya menerima amplop dari narasumber adalah sebuah pelanggaran berat. Terlebih jika amplop itu dimaksudkan untuk memelintir berita yang sebenarnya.
Walaupun banyak orang yang memusuhi Romi karena idealismenya tersebut, namun Romi tak bergeming. Menurutnya tugas utama manusia selain mengabdi kepada tuhannya, adalah saling memperingati.
Karena tidak ingin dicap sebagai bos yang otoriter, yang main pecat karyawan seenaknya, maka Romi memperketat persyaratan dan pelaksanaan tes penerimaan karyawan baru. Sejak berdirinya empat tahun lalu, media cetak yang diberi nama Hayumi  News sudah memiliki sekitar lima puluh karyawan, termasuk yang diberhentikan, meminta berhenti sendiri atau yang pindah ke media lain. Romi tidak hanya menerima orang- orang yang berpengalaman. Dia juga sengaja menerima karyawan magang. Setiap tahun Romi membuka lowongan bagi sepuluh orang yang mempunyai minat di bidang jurnalistik untuk magang di Hayumi News. Tidak hanya memeras tenaganya, karyawan magang ini juga digaji dan diberikan berbagai macam pelatihan. Maka setiap tahun Romi bisa melahirkan jurnalist- jurnalist handal.
Hayumi News  berawal dari keinginan Romi untuk memuaskan dahaganya akan sebuah media yang jujur dan bersih. Di awal berdirinya, Romi hanya berdua dengan temannya, Wawan, yang jago fotografi dan juga seorang lay outer. Dari sentuhan idealisme merekalah lama kelamaan Hayumi News dikenal sebagai koran harian penegak kebenaran dan keadilan. Nama Hayumi sendiri merupakan gabungan antara nama Romi dn dua orang wanita yang disayanginya; adik dan ibunya.
Ibarat bayi, Hayumi News melalui proses yang sangat panjang; tengkurap, duduk, merangkak, berjalan hingga bisa berlari seperti sekarang ini. Perjalanan panjang itu diwarnai dengan aneka kisah; manis dan pahit. Itu adalah hal yang lumrah dalam menjalankan sebuah usaha. Ketika pada akhirnya Hayumi News menjadi kokoh, tegar tak tergoyahkan, itu adalah buah karya keuletan Romi dan teman- temannya.
***
            Salma merasakan nyeri di dadanya. Diliriknya jam yang menempel di dinding. Pukul 17.00. Sebentar lagi Yuliana akan pulang. Salma belum menyiapkan makan malam. Walaupun Yuliana tidak pernah menuntut untuk dimasakkan, namun Salma ingin menebus kesalahannya selama ini. Bertahun- tahun dibiarkannya Yuliana tanpa sentuhan kasih seorang ibu. Setiap hari Yuliana kecil hanya makan mie instant dan telur ceplok karena Salma tidak memasak untuknya. Salma hanya memberinya uang jajan dan memintanya membeli makanan apa saja yang ingin dibeli.
            Tak pernah pula Salma mendendangkan sebuah kidung cinta, atau dongeng penuh petuah sebagai pengantar tidur Yuliana. Bahkan bertahun- tahun Yuliana harus puas tidur seorang diri di atas kasur empuk yang disediakan untuknya, tanpa dekapan hangat seorang ibu ketika Yuliana merasa kedinginan.
            Kini Salma bertekad tidak akan membiarkan Yuliana didera rasa takut sendirian ketika mimpi yang setia menyambanginya sejak masih kecil, datang bertandang kembali.

Senin, 30 Januari 2012

INDAHNYA (BUKAN) LELAKI TERINDAH


(Catatan atas pembacaan Novel (Bukan) Lelaki Terindah
Oleh: Mira Pasolong
(Pendidik dan Penulis)
           
Seorang penulis yang baik sudah pasti adalah pembaca yang baik pula. Ungkapan ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah di kalangan orang- orang yang bergelut di dunia tulis menulis. Penulis harus pandai “membaca”. Membaca apa saja yang bisa dilihat, dirasa, dan diraba. Hasil pembacaan yang jeli akan melahirkan sebuah karya yang tentu saja indah.
            Hal itulah yang dilakukan Riyanto El- Harist, penulis novel (Bukan) Lelaki Terindah. Dalam (Bukan) lelaki Terindah, Riyanto El-Harits mencoba membaca ulang (mengkaji) fenomena sosial yang banyak terjadi di sekitar kita, yang terkadang luput dari perhatian kita. Sebagai sebuah karya sastra, seyogyanyalah memang mengangkat masalah- masalah sosial kemasyarakatan. Sebagai mana yang dikatakan oleh Wellek dan Warren bahwa sastra itu sebenarnya adalah institusi sosial dan  institusi kehidupan yang menggunakan bahasa sebagai medianya.
Penulis adalah merupakan elemen masyarakat yang bertanggung jawab menegakkan nilai-nilai kebenaran melalui tulisan- tulisannya. Riyanto El-Harits menyadari betul akan hal itu, dan dituangkannya dalam novel ini. Riyanto El- Harits, dengan  kepiawaiannya merangkai kata, berhasil membuai pembaca  dengan suguhan- suguhan kalimatnya dalam (Bukan) Lelaki Terindah. Seperti novel- novelnya yang terdahulu, novel inipun sarat  makna dan hikmah. Dia mencoba mengungkap kenyataan sosial yang lumrah terjadi, tapi cenderung dianggap tabu untuk dibicarakan. Novel ini bertabur hikmah tentang cinta, persahabatan dan ketulusan, walaupun diangkat dari sebuah tema yang “agak tabu/ bahkan terlarang”.
Membaca Bab pertama, kita disuguhi sajian yang memiriskan tentang korban- korban kebiadan zionis Israel di palestina. Kisah miris ini hanya merupakan bingkai dari sebuah kisah tentang ketulusan. Cinta yang tulus dari seorang wanita Australia bernama Jeanette dan seorang lelaki Indonesia. Sayang sekali kisah cinta penuh romansa ini harus berakhir tragis.
Pada bab- bab selanjutnya, kisah (Bukan) Lelaki Terindah dilanjutkan dengan mem-flashback kisah sang tokoh utama Rudi. Kisah ini menjadi mengharu biru dengan persahabatan “segi tiga” antara Rudi, Aldi dan Emma.” Melalui konflik- konflik kecil diantara ketiganyalah kisah ini dibangun. Mengikuti keseluruhan alurnya, maka akan kita temukan beragam makna kehidupan yang mungkin sudah agak jarang kita temukan pada masayarakat hedonis seperti sekarang ini, cinta dan ketulusan.
Saya terhanyut ketika membaca lembar demi lembar kisah persahabatan antara para tokohnya. Saya ikut merasakan kegundahan dan keresahan Emma, ketika menyadari sahabatnya mungkin berada dalam bahaya. Dengan indahnya Riyanto El-Harits membingkai kecemasan Emma, dengan membiarkan hubungan Emma dan Aldi merenggang. Di sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa sedekat apapun kita dengan seseorang, tetapi tetap ada ruang- ruang privacy yang tidak bisa kita masuki. Berikut cuplikan kalimat yang dilontarkan Aldi kepada Emma, sebagai wujud ketaksukaannya jika Emma terlalu mencampuri urusannya.
Ma, aku tahu kamu sahabat yang paling baik dan peduli padaku. Kamu juga orang pertama yang membuatku merasa lebih dewasa. Tapi bukan berarti kamu bisa mengatur semua hal dalam hidupku……….” ((bukan) Lelaki Terindah, hal. 72).
 Novel inipun sarat dengan nilai- nilai pengorbanan. Sejak memasuki Bab II, kita sudah dihidangkan penderitaan dan pengorbanan seorang Rudi. Secara tersirat, dengan lihainya Riyanto El-Harits menggiring kita pada suatu kesimpulan bahwa Rudi adalah seorang yang  (maaf) menyukai sesama jenis. Tema homoseksual dalam novel ini ditilik dari sudut pandang yang unik dan tidak seperti angggapan masyarakat pada umumnya. Dalam masyarakat kita tertanam anggapan bahwa seseorang yang mengidap homoseksual akan sangat protektif dan posesif terhadap orang yang disukainya. Bahkan sering kali sampai terjadi kekerasan karena hal ini.
Tetapi dalam (bukan) Lelaki terindah, Rudi justru mencoba mengalihkan rasa protektif dan posesifnya secara possitif. Rudi bahkan tidak ingin menjadikan sahabatnya sama seperti dirinya. Kisah mengharu biru Rudi dalam melawan dilema di hatinyalah yang membuat saya, sebagai pembaca , harus berurai air mata. Di sinilah nampak ketulusan nilai- nilai persahabatan yang dibangun oleh Rudi dan Alwi. Bahkan atas dasar ketulusan itulah, pada akhirnya Rudi bisa bangkit melawan ketaknormalannya, walaupun itu terjadi setelah mereka sudah berjauhan.
Banyak sisi- sisi menarik  yang bisa kita temukan dalam novel berhalaman lebih dua ratus ini. Pertama, konflik dibangun dengan lugas, mengalir, tanpa mengada- ada sehingga pembaca seakan- akan merasakan sesuatu yang nyata. Kedua, Riyanto El-Harits, melalui penggambaran tokoh- tokohnya, mencoba mengungkap sebuah nilai ketulusan dalam sebuah hubungan. Melalui novel ini, kita akan menyaari bahwa Insya Allah ketulusan masihlah sebuah keniscayaan di zaman ini.  Ketiga, novel ini merupakan bukti bahwa cerita tentang cinta akan semakin indah jika dibingkai dengan kalimat- kalimat indah, tanpa kevulgaran. Dan keempat, gaya bertutur Riyanto El-Harits yang khas merupakan daya tarik tersendiri, yang membuat pembaca tidak akan beranjak sebelum menamatkannya.
Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa inilah novel tentang cinta yang bisa mendekatkan kita pada kasih sayang-Nya dan membuat kita semakin pandai bersyukur atas segala anugerah-Nya. (Bukan) Lelaki Terindah  adalah novel tentang cinta yang terindah yang pernah saya baca.
(Dimuat di Koran Harian Fajar, Minggu/ 29 Januari 2012)




Rabu, 28 Desember 2011

SOCIOLINGUISTICS MID TEST

Watch two different movies. One is " PRIDE AND PREJUDICE" and the other must be chosen by yourself. PRIDE AND PREJUDICE is a movie that tells about England in 18th century. It shows the traditional culture and language of England. So, you should find a movie that can show us England ( English) nowadays..
Your task :
1. watch the two movies (traditional movie and modern movie). Don't forget to mention the title of the movie you choose.
2.compare the two movies in term of language and culture. analyze them carefully.
3. Type your comparison (your answer) on a piece of paper.
4. Collect next week.
Good luck......................

The Lecturer,


Mirawati,S.Pd, M.Pd.