Minggu, 24 Agustus 2014

MEMAGUT SEPI



Oleh : Mira Pasolong
(dimuat di Harian Fajar, Edisi Minggu tgl 03 Agustus 2014)
“Sa, untukmu, ujung dunia tak terasa jauh. Aku akan tetap mengejarmu. Itu janjiku.” Kau menjajari langkahku.
            “Maaf kalau belum kurasa seriusmu. Semua masih kabur dalam hijab rasa tak terkata.” Sergahku. Kulewati koridor kampus dengan kecepatan di atas normal. Ingin segera berlalu dari hadapanmu. Tapi kaupun turut memperlebar langkah.
            “Aku tak pernah lupa pada apa yang telah kuikrarkan, Sa.” Daun telingaku memerah. Marah. Tak tahu harus dengan apa mengusirmu dari sini.
            “Jangan keras kepala. Aku tahu, cinta itu masih milik kita.” Kau kembali memaksa. Mencoba menghadirkan bayang cinta monyet masa SMA kita.
Aku berlari-lari kecil. Dari jauh nampak Indra berjalan mendekat. Inilah kesempatan untuk berlalu darimu. Kesalahanmu tak termaafkan. Aku pengagum kesetiaan.
***
            Tapi siapakah yang mampu mengingkari hati? Rindu itu selalu menjelma dalam angan yang memagut sepi. Rindu padamu. Kita diwisuda dan tak pernah lagi ada semilir yang membawa beritamu.
Hingga hari itu, delapan tahun yang lalu, setelah berpisah hampir lima tahun, tanpa rekayasa, kita bertemu kembali pada sebuah acara dialog. Sebuah organisasi kepenulisan mempertemukan kita. Saat berjabat tangan denganmu, ada degup indah yang diam-diam kembali mengguncang dada. Sementara kini, di sisimu, berdiri anggun wanita berparas seindah purnama. Di sampingkupun, mendampingi dengan setia seorang pangeran, Indra.
            “Ini pertemuan yang terlambat, Sa.” Bisikmu saat kita berdampingan di atas forum. Aku yakin, saat itu, mata bidadarimu dan juga mata pangeranku membelalak melihat kita saling berbisik. Atau bahkan mungkin sudah tersulut api dalam dada mereka berdua. Tapi kita acuh. Tetap asyik dengan canda gurih, sebelum moderator mempersilahkan kita, secara bergantian, berbicara.
            Setelah itu, tak ada lagi persinggungan. Pertemuan yang terlambat itu, seakan tanpa kesan. Kita melangkah, menapak di hidup masing-masing. Lebur dalam kesibukan yang tak berujung.
            Namun kalimat terakhir yang kau bisikkan sebelum kita berpisah hari itu, seakan duri yang menggerogoti hati. Betapa binar cinta tak mampu kusembunyikan, betapa degup jantung tak mampu kukendalikan, saat dengan wajah sendu engkau mengucap janji itu. Sebuah janji yang mungkin terlontar di luar kesadaran.
            “Love will lead me back. Believe me!” Bisikmu sepintas saat melangkah di sampingku. Sedetik kemudian, tangan bidadarimu telah kau genggam. Berlalu. Diantar oleh gamang yang kau cipta dalam sekejap. Aku mengawang di alam mimpi. Genggaman tangan pangeranku, yang mengajakku pulang, tak mampu membangunkanku, dari mimpi yang melenakan itu.
***
            Dan aku percaya pada bisikanmu itu. Tetap percaya. Pun jelita purnama telah mengantarai kita berbilang puluh. Tahukah kau? Jingga lembayung senja, rinai hujan, riak sibuk para penjaja makanan, desah ombak, kerlip nakal lampu. adalah kenangan yang selalu mekar merona dalam hati. Kenangan saat kita masih berseragam abu-abu. Saat belum jelas bagi kita bagaimana rupa cinta sejati itu.
Siksakah yang aku undang dalam hidupku, menanti seseorang yang telah bertahta di atas mahligai cinta perempuan lain? Duh, penantian ini tak lagi kuanggap siksa. Ia lebih merupa rutinitas yang melengkapiku. Maka tak ada alasan untuk memalingkan hati hanya karena pengembaraanmu yang entah kapan bermuara di samudera hatiku.
Aku menikmati penantianku sebagaimana orang-orang menikmati kebersamaan dengan orang yang dicintainya. Aku tahu, penantian ini bagaikan menanti setetes air dari langit di tengah kemarau yang menggigit. Hampir mustahil. Tapi bisikanmu sungguh telah tertanam di lubuk hati terdalam. Walau aku sendiri tidak tahu, dengan apa kau akan datang memenuhi janji itu. Meninggalkan bidadarimu, dan kemudian aku berpaling dari pangeranku? Rasanya masalahnya tak akan sesederhana itu. Ada jiwa-jiwa lain yang harus dipikirkan.
Kebahagiaan? Ah, sudah lama kata itu kuhapus dari kamus hatiku. Bahagiaku adalah bersamamu. Sejak hari itu. Kau mungkin tak akan pernah tahu, betapa rindu yang ada telah kularung ke dasar mimpi yang paling ghaib. Aku tak ingin lagi riak yang menggetarkan itu menyambangi sepiku. Biarlah pergimu menjadi penanda bahwa aku telah bersekutu dengan sepi. Bahkan aku tak peduli saat orang-orang menganggapku gila, karena sering tersenyum dan berbicara sendiri dalam sepi yang memagut. Indra, lelaki yang terpaksa kuterima menjadi suamiku, dan telah memberiku seorang anak, tetap setia mendampingi.
“Bawalah aku pergi ke sebuah oase bernama damai. Ingin kulebur diriku dalam hening tanpa riuh. Ingin kuurai segala cemarut, agar bahagia teranyam.” Kataku, sambil menatap lirih bulan bulat penuh yang di mataku sangat memikat.  Di sampingku, Indra dengan sabar menunggu hingga aku beranjak ke dalam rumah yang sudah kutempati hampir delapan tahun. Tak lama setelah pertemuan kita. Selalu begitu.
***
            Bayangan-bayangan itu mengejarku. Sesosok bidadari berwajah sendu, pangeran berwajah teduh, dan lima anak kecil yang tampan dan cantik. Wajah-wajah yang memelas padaku, dan lalu marah karena aku tetap pada pendirianku, memelihara rindu terlarang ini. Bidadarimu, pangeranku, dan anak-anak kita.
Mereka terus mengejar. Tak peduli seberapa lelah tubuh ini. Aku terseok membawa kaki yang berdarah teriris jeruji besi yang kulompati. Bayangan-bayangan itu kini semakin dekat dan menjelma monster yang siap menerkamku. Aku lemas tak bertenaga. Sekuat tenaga kupaksakan berteriak. Aliran darah di kaki semakin menderas. Keringat dingin mengucur tak kalah derasnya.
            “Shasa, bangun. Bangunlah, Nak. Kau mengigau lagi.” Sebuah tepukan lembut membangunkanku dari mimpi yang telah bertahun-tahun bertandang ke alam bawah sadarku. Bahkan aku semakin gamang, tak mampu membedakan antara mimpi dan dunia nyata.
            “Mimpi itu lagi?” Tanya Ibu lembut. Aku mengangguk dan melabuhkan tangisku di pelukan Ibu.
            “Sudahlah, Nak. Kasihan suamimu. Ia kehilangan semangat, melihat kau seperti ini. Sudah hampir delapan tahun.” Aku tersentak. Ibu menangis di depanku. Kupandangi dipan berseprei putih yang kutempati. Seorang perempuan muda berseragam putih berdiri di samping Ibu. Aku mencari suamiku. Juga anakku. Namun tak seorangpun yang kutemukan.
            “Indra dan Aldi di mana, Bu? Saya ada di mana?” Kepalaku berputar pusing, dan kemudian yang ada dalam bayanganku hanyalah gelap, lalu suara panik seorang perempuan yang memanggil dokter.
***
PROFIL SINGKAT

Mira Pasolong,  lahir di Selayar, sebuah pulau kecil di selatan Sulawesi Selatan,  pada tanggal 4 Maret. Sejak kecil senang membaca dan menulis. Beberapa tulisannya  berupa Cerpen, Puisi dan artikel dimuat di surat kabar lokal Radar Sulbar dan Fajar Makassar. Sampai sekarang tetap aktif menulis novel dan cerpen. Bulan Juni 2010 yang lalu, naskah novelnya berhasil menjadi juara III pada Sayembara penulisan buku pengayaan yang diadakan oleh Pusat Perbukuan untuk kategori NOVEL SMA. Novelnya yang sudah terbit berjudul SINGGASANA TAK BERTUAH dan SIMPUL HATI. Sementara novel PURNAMA DI LANGIT BISSORANG masih dalam tahap cetak. Karyanya juga tergabung dalam beberapa antologi bersama. Sehari- harinya bekerja sebagai Guru Bahasa Inggris di SMK Negeri I Rangas Mamuju. Bagi yang ingin berkomunikasi silahkan add FB atas nama Mira Pasolong.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar