Oleh : Mira
Pasolong
(dimuat di Harian Fajar, Edisi Minggu tgl 03 Agustus 2014)
“Sa,
untukmu, ujung dunia tak terasa jauh. Aku akan tetap mengejarmu. Itu janjiku.”
Kau menjajari langkahku.
“Maaf kalau belum kurasa seriusmu.
Semua masih kabur dalam hijab rasa tak terkata.” Sergahku. Kulewati koridor kampus
dengan kecepatan di atas normal. Ingin segera berlalu dari hadapanmu. Tapi
kaupun turut memperlebar langkah.
“Aku tak pernah lupa pada apa yang
telah kuikrarkan, Sa.” Daun telingaku memerah. Marah. Tak tahu harus dengan apa
mengusirmu dari sini.
“Jangan keras kepala. Aku tahu,
cinta itu masih milik kita.” Kau kembali memaksa. Mencoba menghadirkan bayang
cinta monyet masa SMA kita.
Aku
berlari-lari kecil. Dari jauh nampak Indra berjalan mendekat. Inilah kesempatan
untuk berlalu darimu. Kesalahanmu tak termaafkan. Aku pengagum kesetiaan.
***
Tapi siapakah yang mampu mengingkari
hati? Rindu itu selalu menjelma dalam angan yang memagut sepi. Rindu padamu.
Kita diwisuda dan tak pernah lagi ada semilir yang membawa beritamu.
Hingga
hari itu, delapan tahun yang lalu, setelah berpisah hampir lima tahun, tanpa
rekayasa, kita bertemu kembali pada sebuah acara dialog. Sebuah organisasi
kepenulisan mempertemukan kita. Saat berjabat tangan denganmu, ada degup indah
yang diam-diam kembali mengguncang dada. Sementara kini, di sisimu, berdiri
anggun wanita berparas seindah purnama. Di sampingkupun, mendampingi dengan
setia seorang pangeran, Indra.
“Ini pertemuan yang terlambat, Sa.”
Bisikmu saat kita berdampingan di atas forum. Aku yakin, saat itu, mata
bidadarimu dan juga mata pangeranku membelalak melihat kita saling berbisik.
Atau bahkan mungkin sudah tersulut api dalam dada mereka berdua. Tapi kita
acuh. Tetap asyik dengan canda gurih, sebelum moderator mempersilahkan kita,
secara bergantian, berbicara.
Setelah itu, tak ada lagi
persinggungan. Pertemuan yang terlambat itu, seakan tanpa kesan. Kita melangkah,
menapak di hidup masing-masing. Lebur dalam kesibukan yang tak berujung.
Namun kalimat terakhir yang kau
bisikkan sebelum kita berpisah hari itu, seakan duri yang menggerogoti hati.
Betapa binar cinta tak mampu kusembunyikan, betapa degup jantung tak mampu
kukendalikan, saat dengan wajah sendu engkau mengucap janji itu. Sebuah janji
yang mungkin terlontar di luar kesadaran.
“Love
will lead me back. Believe me!” Bisikmu sepintas saat melangkah di
sampingku. Sedetik kemudian, tangan bidadarimu telah kau genggam. Berlalu.
Diantar oleh gamang yang kau cipta dalam sekejap. Aku mengawang di alam mimpi.
Genggaman tangan pangeranku, yang mengajakku pulang, tak mampu membangunkanku,
dari mimpi yang melenakan itu.
***
Dan aku percaya pada bisikanmu itu.
Tetap percaya. Pun jelita purnama telah mengantarai
kita berbilang puluh. Tahukah kau? Jingga lembayung senja, rinai hujan, riak
sibuk para penjaja makanan, desah ombak, kerlip nakal lampu. adalah kenangan
yang selalu mekar merona dalam hati. Kenangan saat kita masih berseragam
abu-abu. Saat belum jelas bagi kita bagaimana rupa cinta sejati itu.
Siksakah
yang aku undang dalam hidupku, menanti seseorang yang telah bertahta di atas
mahligai cinta perempuan lain? Duh, penantian ini tak lagi kuanggap siksa. Ia
lebih merupa rutinitas yang melengkapiku. Maka tak ada alasan untuk memalingkan
hati hanya karena pengembaraanmu yang entah kapan bermuara di samudera hatiku.
Aku
menikmati penantianku sebagaimana orang-orang menikmati kebersamaan dengan
orang yang dicintainya. Aku tahu, penantian ini bagaikan menanti setetes air
dari langit di tengah kemarau yang menggigit. Hampir mustahil. Tapi bisikanmu
sungguh telah tertanam di lubuk hati terdalam. Walau aku sendiri tidak tahu,
dengan apa kau akan datang memenuhi janji itu. Meninggalkan bidadarimu, dan
kemudian aku berpaling dari pangeranku? Rasanya masalahnya tak akan sesederhana
itu. Ada jiwa-jiwa lain yang harus dipikirkan.
Kebahagiaan?
Ah, sudah lama kata itu kuhapus dari kamus hatiku. Bahagiaku adalah bersamamu.
Sejak hari itu. Kau mungkin tak akan pernah tahu, betapa rindu yang ada telah
kularung ke dasar mimpi yang paling ghaib. Aku tak ingin lagi riak yang
menggetarkan itu menyambangi sepiku. Biarlah pergimu menjadi penanda bahwa aku
telah bersekutu dengan sepi. Bahkan aku tak peduli saat orang-orang
menganggapku gila, karena sering tersenyum dan berbicara sendiri dalam sepi
yang memagut. Indra, lelaki yang terpaksa kuterima menjadi suamiku, dan telah
memberiku seorang anak, tetap setia mendampingi.
“Bawalah
aku pergi ke sebuah oase bernama damai. Ingin kulebur diriku dalam hening tanpa
riuh. Ingin kuurai segala cemarut, agar bahagia teranyam.” Kataku, sambil
menatap lirih bulan bulat penuh yang di mataku sangat memikat. Di sampingku, Indra dengan sabar menunggu
hingga aku beranjak ke dalam rumah yang sudah kutempati hampir delapan tahun.
Tak lama setelah pertemuan kita. Selalu begitu.
***
Bayangan-bayangan itu mengejarku. Sesosok
bidadari berwajah sendu, pangeran berwajah teduh, dan lima anak kecil yang
tampan dan cantik. Wajah-wajah yang memelas padaku, dan lalu marah karena aku
tetap pada pendirianku, memelihara rindu terlarang ini. Bidadarimu, pangeranku,
dan anak-anak kita.
Mereka
terus mengejar. Tak peduli seberapa lelah tubuh ini. Aku terseok membawa kaki
yang berdarah teriris jeruji besi yang kulompati. Bayangan-bayangan itu kini
semakin dekat dan menjelma monster yang siap menerkamku. Aku lemas tak
bertenaga. Sekuat tenaga kupaksakan berteriak. Aliran darah di kaki semakin
menderas. Keringat dingin mengucur tak kalah derasnya.
“Shasa, bangun. Bangunlah, Nak. Kau
mengigau lagi.” Sebuah tepukan lembut membangunkanku dari mimpi yang telah
bertahun-tahun bertandang ke alam bawah sadarku. Bahkan aku semakin gamang, tak
mampu membedakan antara mimpi dan dunia nyata.
“Mimpi itu lagi?” Tanya Ibu lembut.
Aku mengangguk dan melabuhkan tangisku di pelukan Ibu.
“Sudahlah, Nak. Kasihan suamimu. Ia
kehilangan semangat, melihat kau seperti ini. Sudah hampir delapan tahun.” Aku
tersentak. Ibu menangis di depanku. Kupandangi dipan berseprei putih yang
kutempati. Seorang perempuan muda berseragam putih berdiri di samping Ibu. Aku
mencari suamiku. Juga anakku. Namun tak seorangpun yang kutemukan.
“Indra dan Aldi di mana, Bu? Saya
ada di mana?” Kepalaku berputar pusing, dan kemudian yang ada dalam bayanganku
hanyalah gelap, lalu suara panik seorang perempuan yang memanggil dokter.
***
PROFIL
SINGKAT
Mira Pasolong, lahir di Selayar, sebuah pulau kecil di
selatan Sulawesi Selatan, pada tanggal 4
Maret. Sejak kecil senang membaca dan menulis. Beberapa tulisannya berupa Cerpen, Puisi dan artikel dimuat di surat
kabar lokal Radar Sulbar dan Fajar Makassar. Sampai sekarang tetap aktif menulis
novel dan cerpen. Bulan Juni 2010 yang lalu, naskah novelnya berhasil menjadi
juara III pada Sayembara penulisan buku pengayaan yang diadakan oleh Pusat
Perbukuan untuk kategori NOVEL SMA. Novelnya yang sudah terbit berjudul
SINGGASANA TAK BERTUAH dan SIMPUL HATI. Sementara novel PURNAMA DI LANGIT
BISSORANG masih dalam tahap cetak. Karyanya juga tergabung dalam beberapa
antologi bersama. Sehari- harinya bekerja sebagai Guru Bahasa Inggris di SMK
Negeri I Rangas Mamuju. Bagi yang ingin berkomunikasi silahkan add FB atas nama
Mira Pasolong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar