Oleh : Mira Pasolong
(tergabung dalam buku antologi Wanita Kedua)
Aku menyeret kaki perlahan. Tenagaku sudah
nyaris habis terkuras. Namun aku harus sampai di rumah Bu Aji, orang terkaya di
kampung ini. Hanya dia yang bisa membantu.
Terik matahari tak kupeduli. Panas telapak
kaki tanpa alas tak kuhiraukan. Yang ada dalam pikiranku sekarang bagaimana
anak- anakku bisa makan hari ini. Pun aku harus memikirkan bagaimana
menyembuhkan sakit suamiku.
"Kamu punya barang apa yang bisa jadi
jaminan?" akhirnya sampai juga aku di hadapan Bu Aji. Meski sambutannya
kurang bersahabat, namun aku mencoba menghadapinya dengan sabar.
"Hei, kenapa kamu diam saja? Kamu tahu kan
tidak ada yang gratis di dunia ini?" lanjutnya ketus melihat aku hanya
terdiam menunduk di depannya. Aku menggeleng sambil menatap kantongan kresek di
depanku. Selembar baju terbaikku. Baju
yang dibelikan suamiku di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke lima
bertahun silam.
Berat rasanya harus melepaskan baju itu. Aku
tahu di setiap ruas benangnya, ada tetes keringat suamiku. Berbulan- bulan dia
menata lembar demi lembar uang hasil jerih payahnya, hingga kemudian cukup
untuk sehelai baju itu. Dan di suatu pagi, ketika burung sedang berkicau riang
mengintip mentari yang mulai menyembul malu- malu, suamiku menghadiahiku sebuah
bingkisan. Selembar baju merah hati bergambar dua hati. Indah. Seindah talu
hatiku ketika baju itu menyentuh kulitku.
“Ini hadiah atas kesabaranmu. Terima kasih
telah rela mendampingiku. Terima kasih atas ichlasmu menelusuri lembah penuh
derita bersamaku. Tetaplah menjadi ratuku. Walau istana kita hanya berdinding bilah-
bilah triplex bekas, berlantai tanah dan beratap seng karatan. “ katanya
sembari menggenggam tanganku lembut. Anak yang sedang ada di kandunganku
menggeliat. Bangga memiliki ayah yang penuh kasih. Suamiku memang romantis.
Sampai kemudian petaka itu menimpa kami.
Tangan- tangan kokoh suamiku tak lagi mampu pun sekedar memeluk tubuhku. Tapi
aku tahu tangan cintanya selalu bisa merengkuh hatiku. Aku kemudian harus
menggantikan tugasnya. Mengais rezeki agar asap di istana kami tetap mengepul.
Aku tak punya keterampilan yang bisa jadi bekal mencari lahan penghasilan. Aku
juga tak punya modal untuk membuka usaha. Maka satu persatu barang yang kami
punya melayang dan menjelma menjadi seliter dua liter beras. Baju hadiah dari
suamiku adalah harta paling berhargaku. Tapi aku tak punya pilihan lain. Tak ada
lagi yang bisa digadaikan. Aku hanya punya cinta dan kasih sayang yang
terbingkai indah dalam hatiku. Tapi itu tidak akan kugadaikan. Sesulit apapun
diriku. Maka baju itulah pilihan terakhirku.
“Saya hanya punya baju ini.” Jawabku lirih.
Kuangsurkan tanganku memberikan bungkusan di tangan. Bu Aji menatapku semakin
sinis. Mungkin di matanya aku ini srrupa benalu yang gemar menyebar di
reranting yang kokoh. Aku mencoba bertahan.
"Saya bisa kerja jadi pembantu di sini, Ji."
lanjutku menawarkan diri. Sejenak Bu Aji nampak berpikir.
"Dengan perut membuncit begitu?"
sinis dia memandang ke arah perutku yang memang sudah kelihatan buncit. Aku
sedang mengandung anakku yang ke lima.
Kuseret kembali langkah kakiku dengan lemas.
Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Aku beranjak meninggalkan rumah Bu Aji,
diiringi tatapan yang entah bermakna apa. Air mataku perlahan menetes. Menembus celah pori – pori wajahku
yang tak pernah tersentuh bedak. Empat anak yang masih kecil dan suami yang
terbaring tak berdaya, sekarang sedang menantikan kedatanganku. Mereka pasti
sudah kelaparan. Dan hanya akulah harapan mereka satu- satunya.
Sepintas terlintas tawaran Pak Makmur, juragan
terkaya di kampong kami. Entah. Tiba- tiba saja tawarannya bermain di relung
pikirku. Terngiang kalimatnya yang diucapkan dengan nada penuh harap.
“Kamu masih muda, Salma. Cantik lagi. Rasanya
tidak pantas kamu berkubang dalam lubang nestapa.” Katanya sambil menatapku
tanpa kedip. Ketika itu aku menjadi tukang cuci di rumahnya.
“Tapi saya ichlas melakukannya, Pak. Karena
saya mencintai suami dan anak- anak saya.” Tegasku. Pak Makmur tertawa.
Suaranya menggelegar serupa guntur. Aku bergidik mendengarnya.
“Menikahlah denganku dan kamu akan bahagia.”
Katanya kemudian tanpa basa basi. Aku terkesima. Ada kebencian yang tiba- tiba
saja berkelebat di hatiku. Kulapadzkan istighfar untuk meredakan gejolak yang
menyeruak di hati. Aku muak mendengarnya. Tapi aku tidak boleh memperlihatkan
rasa itu. Bagaimanapun juga pria bertubuh gembur ini adalah majikanku.
Dan hari itu menjadi akhir karierku sebagai
tukang cuci di rumah Pak Makmur. Aku tidak ingin mengambil resiko yang nantinya
akan mencipta retak pada bangunan rumah tanggaku. Walau aku tahu tidaklah
gampang mencari pekerjaan. Dan sejak saat itu aku tdak punya pekerjaan tetap.
Kucoba mengusik ingatan yang tiba- tiba saja
datang menyapa. Aku tidak boleh memikirkan tawaran tidak masuk akal itu. Aku
mencintai keluargaku. Dan aku tahu suami dan anak- anakku pun sangat
mencintaiku. Maka cukuplah cinta kami menjadi penyemangat untuk bisa tetap
mengais rezeki di jalan yang Allah ridhoi.
"Ya, Allah, bimbinglah hamba- Mu ini agar
tak salah langkah." doaku dalam galau yang teramat pedih.
***
Sudah lebih dari sepuluh menit aku berdiri di
depan pintu rumah bercat hijau lumut ini. Berkali- kali kuketuk pintunya, namun
belum juga ada yang beranjak membukanya.
Padahal bunyi televisi, suara piring beradu, dan wangi masakan menunjukkan
bahwa rumah ini sedang tidak kosong. Perutku semakin kriuk ketika wangi masakan
dari dalam rumah mewah itu semakin menusuk hidungku.
Ini rumah ke sembilan yang aku datangi.
Setelah dari rumah Bu Aji, aku memutuskan mendatangi beberapa rumah yang
kuanggap sangat layak untuk berbagi dengan orang seperti aku. Tapi belum satupun
yang terketuk jiwanya melihat keadaanku. Bahkan beberapa di antara mereka
mengira aku berpura- pura hamil.
Yang lebih mendera nyeri hatiku, di rumah ketiga tadi, hatiku menjerit lara
mendengar kalimat- kalimat bahkan tindakan pelecehan dari lelaki pemilik rumah
tersebut.
Lelaki tersebut sedang sendirian. Entah
isterinya berada di mana. Sempat hatiku riang ketika pintu rumah terkuak pada ketukan
yang pertama. Tapi ternyata bukan hati tulusnya yang membuat pintu rumahnya
terbuka, tetapi karena nafsu bejadnya.
Dengan ramah dipersilahkannya aku duduk di
kursi empuknya, ketika aku memilih duduk di lantai. Aku menurutinya. Namun hatiku
menjadi tidak tenang ketika melihat dia mengunci pintu.
"Ibu pasti membutuhkan sesuatu kan?"
tebaknya jitu sambil mengerling nakal. Perasaanku semakin tidak enak. Mungkin
dari penampilanku yang kumuhlah sehingga dia bisa menebak bahwa aku tak lebih
hanyalah seorang pengemis. Duh, sakit rasanya hati ini. Aku ingin berlari dari
tempat itu, namun lagi- lagi bayangan suami dan anak- anakku seakan menahanku.
"Maaf, Pak, Ibu ada di rumah? Saya mau
menawarkan baju ini." kataku memberanikan diri sambil menyodorkan
kantongan yang kupegang. Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah beranjak duduk
tepat di sampingku.
"itu gampang, Bu. Saya bahkan bisa
memberi uang berapapun yang Ibu minta,
asalkan......." kali ini kalimatnya menggantung, tapi tangannya sudah
menunjukkan apa maksud kalimatnya. Harga diriku terasa terkoyak- koyak. Segera
kutepis tangan lelaki tak berperasaan itu. "tidak usah marah, Bu. Ini
kalau Ibu mau. Daripada Ibu kelaparan." lanjutnya. Kali ini dikibas-
kibaskannya uang ratusan ribu. Lima lembar. Hatiku galau. Bahkan selembar uang
plastik merah itupun tak pernah mampir di tanganku.
Bayangan wajah anak- anakku yang kelaparan,
suamiku yang kesakitan, kembali menggodaku. Uang itu jauh lebih dari cukup
bagiku. Hatiku berperang. "terima saja tawaran lelaki itu. Toch hanya sekali
ini dan juga demi keluargamu." suara hatiku sumbang.
"Jangan. Takutlah kepada Allah. Bukan
lelaki ini yang akan memberi kamu rezeki, tetapi Allah." suara bening
sudut hatiku yang lain.
"Bagaimana, Bu?" melihatku terdiam
lelaki itu semakin berani. Aku menarik nafas panjang. Terbayang kegigihan
suamiku bekerja apa saja asalkan halal, sebelum dia terbaring dalam sakitnya
yang tak kunjung sembuh. Teringat nasehat- nasehat bijaknya. Terbayang betapa
sayang dia padaku dan anak- anak kami. Hatiku mendadak mantap menentukan
pilihan. Menolak. Tapi bagaimana caranya? Lelaki itu kini semakin berani.
Wajah teduh suamiku melambai di pelupuk
mataku. Senyum tulusnya seakan
memompakan berjuta energi padaku. Tiba- tiba aku berteriak meminta tolong sekuat tenaga. Lelaki itu kaget dan refleks
menghentikan aktifitasnya. Pada saat yang bersamaan, seorang pembantunya segera
berlari tergopoh- gopoh dari dalam. Rupanya dia terkejut mendengar teriakanku.
Alhamdulillah akhirnya aku bisa lolos dari
rumah itu. Lelaki yang hampir saja mengoyak kehormatanku itu beralasan kepada
pembantunya bahwa aku orang gila yang kesasar.
Tak apalah. Yang penting sekarang aku selamat.
Allah telah menjaga diriku, dan cintaku yang tetap utuh dalam bingkai hatiku.
Maka dengan sisa tenaga yang ada, aku melanjutkan perjalanan.
***
Sekali lagi kuketuk pintu rumah tersebut.
Entah mengapa hatiku yakin penghuni rumah ini beda dengan delapan rumah
sebelumnya. Akhirnya pintu rumah itu terkuak. Sosok cantik berjilbab lebar kini
berdiri di depanku, dengan senyum ramah nan renyah. Menjabat tanganku tanpa
rasa jijik dengan keadaanku, mempersilahkanku masuk dan segera menyuguhiku
segelas sirup dingin. Sejuk terasa mengaliri seluruh persendian tubuhku.
"Ibu ada perlu apa?" tanyanya masih
dengan keramahan yang sama. Aku menyodorkan kantongan yang kupegang sambil
menjelaskan maksudku.
"Ibu belum makan?” Tanyanya lagi.
Kantongan itu dibukanya. Aku menggeleng.
"Sholat Ashar?" kali ini akupun
menggeleng. Tersentak aku melihat ke arah jam besar yang tergantung di dinding.
Astagfirullah. Hampir saja aku melupakan kewajibanku pada Allah. Ibu yang baik
hati itu segera menuntunku ke dalam rumahnya untuk sholat dan kemudian dia
menyuguhiku makanan. Masakan yang wangi tadi itu sekarang terhidang di
hadapanku. Nikmat. Aku sudah akan menyuap ke mulutku, ketika tiba- tiba terbayang
mulut- mulut kecil anakku yang sedang kelaparan.
"Bu, maaf, bisa saya bungkus saja yang di
piring saya ini?" Ibu itu terkejut. Ada keheranan bermain di pelupuk
matanya.
"Saya tidak tega, Bu. Anak- anak dan
suami saya sedang kelaparan di rumah. Biarlah kami makan sama- sama di
rumah." jawabku sambil menahan rasa malu. Ibu itu tersenyum mengerti.
Dengan wajah penuh ketulusan, dia membungkuskan makanan untukku, bukan hanya yang
tadi ada di piringku, yang belum sempat aku makan, tetapi dia juga menambahkannya
hingga mungkin akan cukup untuk kami makan dua kali.
"Jika tidak keberatan, Ibu bisa membantu-
bantu saya di sini setelah melahirkan nanti." tawar Ibu yang ternyata
bernama Yanti itu dengan ramah. Aku terkesima. Dan tanpa pikir panjang
menyanggupinya.
"Ini ambillah sedikit untuk Ibu."
kembali aku terkejut melihat lima lembar uang seratus ribu disodorkan padaku.
“Dan baju ini, ambillah. Ibu lebih
membutuhkannya.” Lanjutnya sambil mengangsurkan kantongan yang tadi aku berikan
padanya. Air mata ini tak terbendung lagi. Kupeluk erat- erat kantongan itu,
seakan isinya adalah sesuatu yang sangat berharga. Aku bahagia, baju itu tetap
jadi milikku. Baju merah hati bergambar hati hadiah dari suamiku.
Aku bersujud syukur. Allah maha melihat, Allah
sungguh maha pengasih. Terbayang jerit
kelaparan anak- anakku dan keluh kesakitan suamiku akan segera tergantikan
senyum indah di wajah- wajah mereka.
***
BIODATA
SINGKAT PENULIS
Mira
Pasolong, lahir di Selayar
pada tanggal 4 Maret. Sejak kecil senang membaca dan menulis. Beberapa
tulisannya berupa Cerpen, Puisi dan
artikel dimuat di surat kabar lokal Radar Sulbar dan Harian Fajar Makassar.
Sampai sekarang tetap aktif menulis puisi dan cerpen. Penulis berhasil meraih
Juara III Sayembara Penulisan Buku Pengayaan Tk. Nasional 2010 untuk kategori
NOVEL SMA pada Sayembara penulisan Buku pengayaan yang diselenggarakan oleh
Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan
Nasional. Buku yang sudah terbit adalah Singgasana Tak Bertuah (Novel). Bisa
dihubungi via e-mail: pmirawati@yahoo.com dan
Facebook atas nama Mira Pasolong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar