Minggu, 24 Agustus 2014

CINTA TAK TERGADAI



Oleh : Mira Pasolong
(tergabung dalam buku antologi Wanita Kedua)
Aku menyeret kaki perlahan. Tenagaku sudah nyaris habis terkuras. Namun aku harus sampai di rumah Bu Aji, orang terkaya di kampung ini. Hanya dia yang bisa membantu.
Terik matahari tak kupeduli. Panas telapak kaki tanpa alas tak kuhiraukan. Yang ada dalam pikiranku sekarang bagaimana anak- anakku bisa makan hari ini. Pun aku harus memikirkan bagaimana menyembuhkan sakit suamiku.
"Kamu punya barang apa yang bisa jadi jaminan?" akhirnya sampai juga aku di hadapan Bu Aji. Meski sambutannya kurang bersahabat, namun aku mencoba menghadapinya dengan sabar.
"Hei, kenapa kamu diam saja? Kamu tahu kan tidak ada yang gratis di dunia ini?" lanjutnya ketus melihat aku hanya terdiam menunduk di depannya. Aku menggeleng sambil menatap kantongan kresek di depanku.  Selembar baju terbaikku. Baju yang dibelikan suamiku di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke lima bertahun silam.
Berat rasanya harus melepaskan baju itu. Aku tahu di setiap ruas benangnya, ada tetes keringat suamiku. Berbulan- bulan dia menata lembar demi lembar uang hasil jerih payahnya, hingga kemudian cukup untuk sehelai baju itu. Dan di suatu pagi, ketika burung sedang berkicau riang mengintip mentari yang mulai menyembul malu- malu, suamiku menghadiahiku sebuah bingkisan. Selembar baju merah hati bergambar dua hati. Indah. Seindah talu hatiku ketika baju itu menyentuh kulitku.
“Ini hadiah atas kesabaranmu. Terima kasih telah rela mendampingiku. Terima kasih atas ichlasmu menelusuri lembah penuh derita bersamaku. Tetaplah menjadi ratuku. Walau istana kita hanya berdinding bilah- bilah triplex bekas, berlantai tanah dan beratap seng karatan. “ katanya sembari menggenggam tanganku lembut. Anak yang sedang ada di kandunganku menggeliat. Bangga memiliki ayah yang penuh kasih. Suamiku memang  romantis.
Sampai kemudian petaka itu menimpa kami. Tangan- tangan kokoh suamiku tak lagi mampu pun sekedar memeluk tubuhku. Tapi aku tahu tangan cintanya selalu bisa merengkuh hatiku. Aku kemudian harus menggantikan tugasnya. Mengais rezeki agar asap di istana kami tetap mengepul. Aku tak punya keterampilan yang bisa jadi bekal mencari lahan penghasilan. Aku juga tak punya modal untuk membuka usaha. Maka satu persatu barang yang kami punya melayang dan menjelma menjadi seliter dua liter beras. Baju hadiah dari suamiku adalah harta paling berhargaku. Tapi aku tak punya pilihan lain. Tak ada lagi yang bisa digadaikan. Aku hanya punya cinta dan kasih sayang yang terbingkai indah dalam hatiku. Tapi itu tidak akan kugadaikan. Sesulit apapun diriku. Maka baju itulah pilihan terakhirku.
“Saya hanya punya baju ini.” Jawabku lirih. Kuangsurkan tanganku memberikan bungkusan di tangan. Bu Aji menatapku semakin sinis. Mungkin di matanya aku ini srrupa benalu yang gemar menyebar di reranting yang kokoh. Aku mencoba bertahan.
"Saya bisa kerja jadi pembantu di sini, Ji." lanjutku menawarkan diri. Sejenak Bu Aji nampak berpikir.
"Dengan perut membuncit begitu?" sinis dia memandang ke arah perutku yang memang sudah kelihatan buncit. Aku sedang mengandung anakku yang ke lima.
Kuseret kembali langkah kakiku dengan lemas. Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Aku beranjak meninggalkan rumah Bu Aji, diiringi tatapan yang entah bermakna apa. Air mataku perlahan  menetes. Menembus celah pori – pori wajahku yang tak pernah tersentuh bedak. Empat anak yang masih kecil dan suami yang terbaring tak berdaya, sekarang sedang menantikan kedatanganku. Mereka pasti sudah kelaparan. Dan hanya akulah harapan mereka satu- satunya.
Sepintas terlintas tawaran Pak Makmur, juragan terkaya di kampong kami. Entah. Tiba- tiba saja tawarannya bermain di relung pikirku. Terngiang kalimatnya yang diucapkan dengan nada penuh harap.
“Kamu masih muda, Salma. Cantik lagi. Rasanya tidak pantas kamu berkubang dalam lubang nestapa.” Katanya sambil menatapku tanpa kedip. Ketika itu aku menjadi tukang cuci di rumahnya. 
“Tapi saya ichlas melakukannya, Pak. Karena saya mencintai suami dan anak- anak saya.” Tegasku. Pak Makmur tertawa. Suaranya menggelegar serupa guntur. Aku bergidik mendengarnya.
“Menikahlah denganku dan kamu akan bahagia.” Katanya kemudian tanpa basa basi. Aku terkesima. Ada kebencian yang tiba- tiba saja berkelebat di hatiku. Kulapadzkan istighfar untuk meredakan gejolak yang menyeruak di hati. Aku muak mendengarnya. Tapi aku tidak boleh memperlihatkan rasa itu. Bagaimanapun juga pria bertubuh gembur ini adalah majikanku.
Dan hari itu menjadi akhir karierku sebagai tukang cuci di rumah Pak Makmur. Aku tidak ingin mengambil resiko yang nantinya akan mencipta retak pada bangunan rumah tanggaku. Walau aku tahu tidaklah gampang mencari pekerjaan. Dan sejak saat itu aku tdak punya pekerjaan tetap.
Kucoba mengusik ingatan yang tiba- tiba saja datang menyapa. Aku tidak boleh memikirkan tawaran tidak masuk akal itu. Aku mencintai keluargaku. Dan aku tahu suami dan anak- anakku pun sangat mencintaiku. Maka cukuplah cinta kami menjadi penyemangat untuk bisa tetap mengais rezeki di jalan yang Allah ridhoi.
"Ya, Allah, bimbinglah hamba- Mu ini agar tak salah langkah." doaku dalam galau yang teramat pedih.
***
Sudah lebih dari sepuluh menit aku berdiri di depan pintu rumah bercat hijau lumut ini. Berkali- kali kuketuk pintunya, namun  belum juga ada yang beranjak membukanya. Padahal bunyi televisi, suara piring beradu, dan wangi masakan menunjukkan bahwa rumah ini sedang tidak kosong. Perutku semakin kriuk ketika wangi masakan dari dalam rumah mewah itu semakin menusuk hidungku.
Ini rumah ke sembilan yang aku datangi. Setelah dari rumah Bu Aji, aku memutuskan mendatangi beberapa rumah yang kuanggap sangat layak untuk berbagi dengan orang seperti aku. Tapi belum satupun yang terketuk jiwanya melihat keadaanku. Bahkan beberapa di antara mereka mengira aku berpura- pura hamil.
Yang lebih mendera nyeri hatiku,  di rumah ketiga tadi, hatiku menjerit lara mendengar kalimat- kalimat bahkan tindakan pelecehan dari lelaki pemilik rumah tersebut.
Lelaki tersebut sedang sendirian. Entah isterinya berada di mana. Sempat hatiku riang ketika pintu rumah terkuak pada ketukan yang pertama. Tapi ternyata bukan hati tulusnya yang membuat pintu rumahnya terbuka, tetapi karena nafsu bejadnya.
Dengan ramah dipersilahkannya aku duduk di kursi empuknya, ketika aku memilih duduk di lantai. Aku menurutinya. Namun hatiku menjadi tidak tenang ketika melihat dia mengunci pintu.
"Ibu pasti membutuhkan sesuatu kan?" tebaknya jitu sambil mengerling nakal. Perasaanku semakin tidak enak. Mungkin dari penampilanku yang kumuhlah sehingga dia bisa menebak bahwa aku tak lebih hanyalah seorang pengemis. Duh, sakit rasanya hati ini. Aku ingin berlari dari tempat itu, namun lagi- lagi bayangan suami dan anak- anakku seakan menahanku.
"Maaf, Pak, Ibu ada di rumah? Saya mau menawarkan baju ini." kataku memberanikan diri sambil menyodorkan kantongan yang kupegang. Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah beranjak duduk tepat di sampingku.
"itu gampang, Bu. Saya bahkan bisa memberi  uang berapapun yang Ibu minta, asalkan......." kali ini kalimatnya menggantung, tapi tangannya sudah menunjukkan apa maksud kalimatnya. Harga diriku terasa terkoyak- koyak. Segera kutepis tangan lelaki tak berperasaan itu. "tidak usah marah, Bu. Ini kalau Ibu mau. Daripada Ibu kelaparan." lanjutnya. Kali ini dikibas- kibaskannya uang ratusan ribu. Lima lembar. Hatiku galau. Bahkan selembar uang plastik merah itupun tak pernah mampir di tanganku.
Bayangan wajah anak- anakku yang kelaparan, suamiku yang kesakitan, kembali menggodaku. Uang itu jauh lebih dari cukup bagiku. Hatiku berperang. "terima saja tawaran lelaki itu. Toch hanya sekali ini dan juga demi keluargamu." suara hatiku sumbang.
"Jangan. Takutlah kepada Allah. Bukan lelaki ini yang akan memberi kamu rezeki, tetapi Allah." suara bening sudut hatiku yang lain.
"Bagaimana, Bu?" melihatku terdiam lelaki itu semakin berani. Aku menarik nafas panjang. Terbayang kegigihan suamiku bekerja apa saja asalkan halal, sebelum dia terbaring dalam sakitnya yang tak kunjung sembuh. Teringat nasehat- nasehat bijaknya. Terbayang betapa sayang dia padaku dan anak- anak kami. Hatiku mendadak mantap menentukan pilihan. Menolak. Tapi bagaimana caranya? Lelaki itu kini semakin berani.
Wajah teduh suamiku melambai di pelupuk mataku. Senyum  tulusnya seakan memompakan berjuta energi padaku. Tiba- tiba aku berteriak meminta tolong  sekuat tenaga. Lelaki itu kaget dan refleks menghentikan aktifitasnya. Pada saat yang bersamaan, seorang pembantunya segera berlari tergopoh- gopoh dari dalam. Rupanya dia terkejut mendengar teriakanku.
Alhamdulillah akhirnya aku bisa lolos dari rumah itu. Lelaki yang hampir saja mengoyak kehormatanku itu beralasan kepada pembantunya bahwa aku orang gila yang kesasar.
Tak apalah. Yang penting sekarang aku selamat. Allah telah menjaga diriku, dan cintaku yang tetap utuh dalam bingkai hatiku. Maka dengan sisa tenaga yang ada, aku melanjutkan perjalanan.
***
Sekali lagi kuketuk pintu rumah tersebut. Entah mengapa hatiku yakin penghuni rumah ini beda dengan delapan rumah sebelumnya. Akhirnya pintu rumah itu terkuak. Sosok cantik berjilbab lebar kini berdiri di depanku, dengan senyum ramah nan renyah. Menjabat tanganku tanpa rasa jijik dengan keadaanku, mempersilahkanku masuk dan segera menyuguhiku segelas sirup dingin. Sejuk terasa mengaliri seluruh persendian tubuhku.
"Ibu ada perlu apa?" tanyanya masih dengan keramahan yang sama. Aku menyodorkan kantongan yang kupegang sambil menjelaskan maksudku.
"Ibu belum makan?” Tanyanya lagi. Kantongan itu dibukanya. Aku menggeleng.
"Sholat Ashar?" kali ini akupun menggeleng. Tersentak aku melihat ke arah jam besar yang tergantung di dinding. Astagfirullah. Hampir saja aku melupakan kewajibanku pada Allah. Ibu yang baik hati itu segera menuntunku ke dalam rumahnya untuk sholat dan kemudian dia menyuguhiku makanan. Masakan yang wangi tadi itu sekarang terhidang di hadapanku. Nikmat. Aku sudah akan menyuap ke mulutku, ketika tiba- tiba terbayang mulut- mulut kecil anakku yang sedang kelaparan.
"Bu, maaf, bisa saya bungkus saja yang di piring saya ini?" Ibu itu terkejut. Ada keheranan bermain di pelupuk matanya.
"Saya tidak tega, Bu. Anak- anak dan suami saya sedang kelaparan di rumah. Biarlah kami makan sama- sama di rumah." jawabku sambil menahan rasa malu. Ibu itu tersenyum mengerti. Dengan wajah penuh ketulusan, dia membungkuskan makanan untukku, bukan hanya yang tadi ada di piringku, yang belum sempat aku makan, tetapi dia juga menambahkannya hingga mungkin akan cukup untuk kami makan dua kali.
"Jika tidak keberatan, Ibu bisa membantu- bantu saya di sini setelah melahirkan nanti." tawar Ibu yang ternyata bernama Yanti itu dengan ramah. Aku terkesima. Dan tanpa pikir panjang menyanggupinya.
"Ini ambillah sedikit untuk Ibu." kembali aku terkejut melihat lima lembar uang seratus ribu disodorkan padaku.
“Dan baju ini, ambillah. Ibu lebih membutuhkannya.” Lanjutnya sambil mengangsurkan kantongan yang tadi aku berikan padanya. Air mata ini tak terbendung lagi. Kupeluk erat- erat kantongan itu, seakan isinya adalah sesuatu yang sangat berharga. Aku bahagia, baju itu tetap jadi milikku. Baju merah hati bergambar hati hadiah dari suamiku.
Aku bersujud syukur. Allah maha melihat, Allah sungguh maha pengasih.  Terbayang jerit kelaparan anak- anakku dan keluh kesakitan suamiku akan segera tergantikan senyum indah di wajah- wajah mereka.
***
BIODATA SINGKAT PENULIS
Mira Pasolong,  lahir di Selayar pada tanggal 4 Maret. Sejak kecil senang membaca dan menulis. Beberapa tulisannya  berupa Cerpen, Puisi dan artikel dimuat di surat kabar lokal Radar Sulbar dan Harian Fajar Makassar. Sampai sekarang tetap aktif menulis puisi dan cerpen. Penulis berhasil meraih Juara III Sayembara Penulisan Buku Pengayaan Tk. Nasional 2010 untuk kategori NOVEL SMA pada Sayembara penulisan Buku pengayaan yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Kementerian  Pendidikan Nasional. Buku yang sudah terbit adalah Singgasana Tak Bertuah (Novel). Bisa dihubungi via e-mail: pmirawati@yahoo.com dan Facebook atas nama Mira Pasolong.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar