Minggu, 24 Agustus 2014

WANITA PUALAM



Oleh: Mira Pasolong
(Tergabung dalam buku antologi Cerpen Move On)
Bulir bening itu mengalir deras.Isak menyayat sesekali terdengar.Bukanlah lemahnya sehingga air mata itu harus terkuras.Tidak.Sekali-kali tidak.Air mata yang menderas itu adalah bukti bakti.Air mata itu bukti kasih.Air mata itu tonggak yang memapah tubuhnya ketika dia terhuyung. Andai cintanya sudah pupus, maka dia yakin air mata itupun akan enggan pula mengalir. Cinta itu masih merah jambu, seperti ketika masih berumur delapan belas tahun, karenanya, air mata pun masih setia mengalir.
            “Kita menikah, ya.Aku akan menemui orang tuamu.”Lelaki itu berkata tegas.Sangatgentle.Wanita berusia delapan belas tahun itupun tersihir dan hanya mampu menggerakkan kepalanya ke atas.Setuju.Gayung bersambut.Dua bulan kemudian mereka sudah menyatu dalam sebuah naungan cinta bernama rumah tangga.Bahagia.Selama bertahun-tahun hanya kata itu yang mewarnai hari-hari mereka. Semakin lengkap ketika lima tahun kemudian dua nyawa kecil bersandar pada naungan kasih sayangnya. Pasangan ideal dengan dua anak yang lucu-lucu.Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika dua nyawa kecil itu telah beranjak dewasa, bahagia tetap setia menemani mereka.
            Hingga akhirnya, “Bu, minggu depan aku dilantik jadi kepala dinas.” Katanya berapi-api sambil memeluk isterinya.Dan mulailah dia dengan ritme kehidupan yang baru.Semakin lama semakin tenggelam dalam dunianya.Tak ada lagi jeda sejenak untuk sekedar membawa secawan canda bagi isteri dan dua anaknya.Tapi wanita itu tetap sabar.Mencoba mengerti.Mencoba menimbang rasa syukur dari setiap bulir air yang jatuh dari kelopak matanya. Pun ketika suatu hari dia mengetahui bahwa ada mahligai lain tempat suaminya  bertahta. Air bening itu tetaplah jadi penyemangatnya.
            Dua putri cantiknya tumbuh mengagumkan.Di sela isak yang semakin nyaring terdengar, selalu terselip seutas senyum untuk dua bidadarinya itu.Sesakit apapun hatinya, anak-anaknya tidak boleh tahu.Dia harus tetap tampak tegar dan kuat di hadapan mereka.Dia harus menyelamatkan jiwa anak-anaknya dari keterpurukan karena keadaan orang tuanya.
            Maya, nama perempuan berhati pualam itu. Dia adalah super hero.Wanita lembut yang tegar.Reranting rapuh justru terlukis di jiwa suaminya kini.Post power syndrome. Itu mungkin yang menyerang suaminya menjelang ulang tahunnya yang ke lima puluh lima. “Di mataku engkau tetaplah lelaki perkasa.”Gumamnya tanpa berani dilafadzkan di hadapan suaminya. Peristiwa beberapa tahun terakhir cukuplah membuatnya mengerti kalau suaminya tak lagi rindu akan nada-nada kasih yang selalu dinyanyikan lembut selama ini. “Mungkin ada hati lain yang bisa memberi kebeningan baginya.” Dia masih ber-positif thinking.Berharap mahligai kedua itu bisa menguatkan suaminya.
***
            “Apa? Pensiun?” suara seorang  wanita cantik. Histeris.  Mengiris jantung lelaki tua menjelang lima puluh lima tahun itu. Membuat miris.Kepalanya mengangguk mengiyakan.Ledakan suara selanjutnya lebih dahsyat.”Lantas apa yang bisa kau berikan padaku setelah ini?” geramnya.Membuat lelaki itu gemetar.Dia butuh tempat bersandar.Tapi semuanya nampak rapuh.Tak ada yang cukup kokoh yang bisa menopang tubuhnya. Hiasan-hiasan keramik dari kristal mahal memenuhi ruangan tempatnya berdiri. Dia tak boleh menyentuhnya.Dia tak boleh menyandarinya.Petakalah baginya jika sampai keramik itu pecah.
            “Kamu harus belajar hidup sederhana.”Suaranya membuat wanita cantik itu semakin kalap, menyambar, melalap semua yang ada di sekitarnya.Bukannya dia tak memahami tabiat isteri mudanya itu.Sejak awal menikahinya dia sudah tahu.Tapi kilau kecantikan fisik mengalahkan pikiran sehatnya.Bahkan setelahnya dia mati rasa.Dia hanya mampu merasakan kenikmatan duniawi, tanpa ketenangan ukhrawi. Terlena dengan jabatan, tenggelam dalam pelukan istri muda yang jelita, berkubang dalam liang dosa tak berkesudahan.
            Mata hatinya buta.Silau oleh pesona duniawi.Semua kemauan isteri mudanya dituruti.Dua anaknya tak pernah lagi merasakan hangat kasihnya. Terlebih lagi isteri tuanya yang juga sudah menua dimakan usia. Tak ada lagi yang mampu menarik hatinya untuk selalu berada di antara mereka.Waktunya hanyalah buat pekerjaan dan isteri mudanya.
“Kita cerai.”Dengan ringan kata itu meluncur dari mulut wanita cantik tersebut.Suaminya menganga.Segampang itu?Sementara semuanya sudah dia korbankan untuknya.Harta, jabatan, keluarga, bahkan idealisme dan harga dirinya.
***
            “Dugaan korupsi?” dua gadis berbeda usia sekitar empat tahun menjerit bersamaan. Koran pagi ini mengabarkan berita korupsi yang dilakukan ayahanda mereka.Diremasnya koran itu. Disembunyikan dari mata ibundanya.Tak ingin mereka menambah lagi keperihan itu.
            “Ayah khilaf, Nak. “ hanya itu yang meluncur dari bibir lelaki itu. Selebihnya sunyi.Dinding sel polisi membuat suasana di antara mereka semakin kaku.
            “Tapi untuk apa?” kicau Santi, anak bungsunya. Perih.Matanya berembun.Tersaput kabut duka.Selama ini mereka hidup pas-pasan.Ibunya hanya berdaster lusuh.Tak ada perhiasan mencolok. Tak pernah menikmati fasilitas kantor. Bahkan mobil dinas ayah merekapun tak pernah mereka sentuh. Lantas ke mana hasil korupsi itu dibawa?
            Sekilas Ranti, gadis yang lebih tua, termenung. Ada kilatan informasi yang berkelabatan di ranah ingatannya.Gosip tentang isteri muda ayahnya.Mata sembab ibunya sejak gosip itu merebak.Kehadiran ayahnya yang tak cukup sepekan dalam sebulan. Kini ada tanya teranyam di hatinya. Mungkinkah gosip itu benar adanya?
            “Apakah Ayah menyembunyikan sesuatu dari kami?” Ranti bertanya penuh selidik.
            “Berterus teranglah, Yah.Biar kami bisa sedikit lebih tenang.”Pinta si sulung itu.Lelaki tua itu hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya.Harapannya sudah sirna.Impiannya memudar.  Bahkan mungkin dia akan kehilangan putri-putrinya yang cantik itu.
            “Ayah khilaf, Nak.” Sekali lagi hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.Air mata kini membanjiri pelipis keriputnya.Air mata penyesalan yang datang terlambat.Terbayang wajah isterinya di rumah.Wajah cantik yang telah dirubahnya menjadi kuyuh, sayu dan layu.Hanya sedikit bias kecantikan yang masih tersisa. Perempuan lembut penuh kasih itu telah dibuatnya menderita.Air matanya semakin menderas.Betapa mata hatinya selama ini telah buta.Betapa dia selama ini serupa robot yang dengan lincah memamah semua perintah yang diterimanya.Dan pemilik robot itu adalah isteri mudanya.
            Lelaki itu mendesah.Kini ingatannya beralih ke isteri mudanya.Tepatnya mantan isteri mudanya. Wanita bahenol yang hanya selisih umur setahun dengan putri sulungnya. Senyum manis bergaris kemunafikan itu telah membuatnya tergerus. Hartanya terkuras.Kesetiaannya amblas.Idealismenya kandas.Semuanya karena pesona palsu wanita itu.
            “Semua karena perempuan itu. Dialah yang memaksa Ayah melakukannya.” Lelaki tua itu berteriak geram.Dua orang sipir segera mendekati selnya, memintanya untuk diam. Ranti dan Santi berpandangan.Teriakan ayahnya membuka tabir yang selama ini tertutup rapat.Gosip selama ini benar adanya. Ayahanda mereka memiliki wanita lain.
            Ingin rasanya dua gadis itu memaki dan bahkan memukul lelaki yang sudah merenta itu.Tapi kepasrahannya di balik jeruji kokoh membuat keduanya hanya mampu menitikkan air mata lirih. Mereka akan mencoba berbesar hati. Menerima keadaan ayahnya.Seperti ibunya yang tak pernah jenuh memintal sabar.
            “Ayah harus menebus kesalahan Ayah. Menetaplah dalam bui.”Kata Ranti sebelum menarik tangan adiknya.Berlalu.Meninggalkan lelaki tua itu dalam sesal tak berujung.
“Tunggu, Nak.” Serak suara lelaki itu memanggil. Kedua gadis itu tetap berjalan. Seakan tak mendengar teriakan ayahnya. “Tolong jaga ibumu untukku,Nak.” Ratapnya lemah.  Tak ada yang mendengar. Lelaki itu kini pasrah. Dia hanya berharap maaf dari anak-anak dan isterinya. Dia berharap, hukuman yang dijalaninya akan membukakan pintu maaf itu. Dia berjanji akan mengukir kebahagiaan baru untuk anak- anak dan isterinya. Walaupun tanpa kursi empuk lagi.
***
            Pagi yang cerah. Seperti biasa, setelah kedua anak gadisnya beraktifitas, Maya akan segera membersihkan rumah. Ditemani alunan merdu murottal Al-Qur’an dari DVD di ruang tengah, dia mulai memunguti kertas-kertas yang berceceran di lantai. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an selalu mampu menenangkan pikirannya dan mendamaikan hatinya.
            Sejak dia harus berbagi kebahagiaan dengan wanita yang tak sekalipun dilihatnya itu, Maya semakin mendekatkan diri pada Sang Pemilik jiwa raga. Dia yakin, hanya dengan mengadu kepada Allahlah segala luka hatinya bisa tertanggungkan. Walau tentu saja tetap akan susah sembuh. Bagi Maya, luka karena pengkhianatan terhadap kesetiaan, adalah luka yang paling perih. Mungkin rasa sakitnya semakin berkurang, tetapi lukanya tetap membekas dan setiap saat bisa kembali perih.
            “Masih saja seperti anak kecil.”Gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum tipis, melihat serpihan-serpihan kertas di lantai. Tak nampak rasa kesal di wajahnya. Dia masih merasa memiliki dua gadis cilik yang menggemaskan.walaupun nyatanya anak-anak gadisnya telah menjelma wanita usia dewasa yang cantik dan anggun. Ranti sebentar lagi akan memulai babak baru kehidupannya. Menjadi seorang isteri. Sementara Santi baru saja meniti karier sebagai pengacara.
            Tangan Maya terhenti pada tumpukan koran yang sudah kusut. Dia memungut dan merapikannya. “Koran hari ini.”Gumamnya lagi. Dia tak habis pikir kenapa koran tersebut sampai kusut. Disusurinya halaman pertama. Headline yang cukup besar membuat matanyatiba-tiba meredup. Nama lelaki yang telah hampir tiga puluh tahun menikahinya terpampang jelas di sana. Tangannya bergetar, seiring debaran jantung yang semakin berpacu.
            Hal yang lama ditakutkan kini terjadi. Suaminya terlibat korupsi. Sejak awal menduduki jabatan basah, Maya selalu mengingatkan suaminya untuk tetap jujur dalam bekerja. Tetapi Maya kemudian menjadi mahfum, suaranya tak lebih semilir angin yang sekedar mampir di telinga suaminya. Memenuhi segala keinginan wanita keduanya jauh lebih penting daripada sekedar mendengarkan petuah usang seorang wanita menjelang menopuse seperti Maya.
            Dilipatnya pelan kertas koran yang telah lusuh itu. Lusuh selusuh hatinya saat ini. Dia memang sudah lama tak merasakan nikmatnya menjadi seorang isteri, menjadi tempat berlabuh suami di kala penat. Tapi tetap saja ada nyeri ketika untuk hal sekrusial saat inipun, dia tak diberitahu.
            “Koran ini harus dimusnahkan.Ranti dan Santi tidak boleh melihatnya.”Gumam Maya sambil bergegas mencari korek api.
            Abu bekas pembakaran koran itu belum sepenuhnya diterbangkan angin ketika Ratih dan Santi memasuki pekarangan rumah. Melihat Maya sedang duduk memandangi tempat pembakaran sampah  di samping rumah, keduanya segera mendekat. Pasti ada yang sudah terjadi pada ibunya.Ratih dan Santi bertatapan cemas. Sebuah pikiran yang sama melintas di pikiran mereka.
            “Ibu kenapa?”
            “Tidak apa-apa. Ini tadi Ibu bakar sampah. Kenapa jam segini sudah pulang?” Tanya Maya. Coba disembunyikannya segala galau. Dia tak ingin keceriaan anak-anaknya hilang jika tahu hal yang menimpa ayah mereka.
            “Dia tak berhak membuat mereka bersedih.” Gumam Maya. Ranti memperhatikan ibunya mengucapkan sesuatu, namun tak terdengar jelas.
            “Ayo masuk ke dalam, Bu. Hari ini kami sengaja libur. Hari ini kan ulang tahun Ayah. Kita bikin kejutan buat Ayah ya, Bu.” Maya terdiam mendengar perkataan kedua anaknya. Dia tidak pernah lupa ulang tahun suaminya. Tapi dia juga sudah lama tak memberikan apa-apa di hari istimewa lelaki yang sampai saat ini masih disimpan di hatinya. Dan anak-anaknyapun melakukan hal yang sama.
            “Kenapa baru sekarang, Nak? Ketika Ayah kalian sudah bukan milik kita lagi?” Air bening hampir saja jatuh di kedua pipinya, jika tak ingat pantangannya untuk menangis di depan anak.
            “Bu, bukankah Ibu yang selalu bilang Ayah tidak hilang? Dia hanya lupa jalan pulang. Bukankah Ibu yang selalu mengingatkan kami bahwa ayah amnesia,sehingga melupakan anak-anak dan isterinya? Orang-orang yang dulu sangat dicintainya.” Santi memeluk Maya. Melabuhkan sedihnya di pundak perempuan ayu itu.
            “Tapi mungkin Ayah kalian tidak akan bisa datang.” Lirih suara Maya. Ranti dan Santi berpandangan. Mereka menjadi cemas jangan-jangan ibunya sudah tahu tentang Ayah yang dipenjara. Sementara dalam benak Maya berseliweran ide untuk menyembunyikan keadaan yang menimpa suaminya. Maya tak tahu bahwa kedua buah hatinya telah lebih dahulu mengetahui.
***
            “Tolonglah, Pak. Hanya dua jam.” Maya nampak memohon di depan lelaki berbadan tegap dengan seragam lengkap.
            “Kami tak ingin ambil resiko, Bu.Maaf.” Katanya lantang. Beranjak meninggalkan wanita itu. Maya tak putus asa. Dia mengikuti langkah-langkah tegap itu.
            “Bu Maya, suami anda koruptor kelas kakap. Tidak ada alasan untuk mengizinkannya keluar hanya demi keinginan konyol Ibu.” Petugas berseragam itu membentak. Tak peduli dengan wajah memelas Maya.
            Dibentak seperti itu, Maya sejenak terpaku. Terngiang kembali suara serak suaminya ketika marah. Terasa kembali ngilu bekas tendangan kaki-kaki kukuhnya. Perih merona nyeri di hatinya. Merasai ulang sembilu yang mengirisnya, ketika suaminya memutuskan pergi untuk wanita lain.
            Air matanya mengalir tak tertahankan. Namun sekejap kemudian bayang dua anak gadisnya menari di pelupuk mata. Senyum ceria yang sudah lama tersembunyi di balik tirai hati yang terkoyak. Maya tahu, anak-anaknya menderita dengan ketakhadiran ayah mereka.  Maka Maya bertekad akan menghadirkan kembali canda ceria itu di rumahnya. Hari ini.
            “Pak Polisi, saya hanyalah wanita biasa. Kebahagiaan keluarga bagi saya di atas segalanya. Saya mohon, demi kebahagiaan keluarga saya.” Maya kembali memelas.
            “Apakah Ibu akan bahagia hanya dengan dua jam itu?”Polisi tersebut bertanya keheranan.
            “Saya perempuan, Pak. Pengabdian terbesar saya setelah Allah danRasul-Nya adalah suami saya. Keluarga saya. Dan itulah sumber kebahagiaan saya yang sesungguhnya.” Polisi itu terkesima mendengar jawaban sederhana yang keluar dari mulut Maya. Dan hatinya mendadak luluh.
***
            Sepasang sejoli berusia menjelang senja berjalan pelan menyusuri koridor kantor polisi. Yang lelaki nampak tertunduk. Tepekur. Yang perempuan mengulas senyum ragu-ragu. Mereka berjalan berdampingan. Tangan-tangan mereka sesekali bergerak seakan ingin saling menggenggam. Namun jemari-jemari itu seakan enggan berpagut.
            Lelaki itu tetap berjalan menunduk. Ekor matanya sesekali melirik ke arah perempuan di sampingnya. Lirikan dengan kilatan cahaya beragam makna. Ada sesal. Ada malu. Terpancar pula cinta. Dadanya bergetar hebat. Degup jantungnya takberaturan. Dari mulutnya ingin terlontar kata betapa cinta itu masih sesemerbak dahulu. Sesuatu yang baru disadarinya. Hasratnya begitu ingin merengkuh perempuan ringkih itu dalam pelukannya. Menebus semua kealpaannya selama ini. Tapi dia sungguh malu. Malu pada kesabaran, ketegaran dan kesetiaan yang diberikan isterinya. “Perempuan berhati pualam. Indah  luar dalam.” Desahnya sendu. Terdengar bagai desiran angin di telinga Maya, perempuan itu.
            Ya, perempuan itu adalah Maya dan lelaki di sampingnya adalah suaminya. Maya akhirnya berhasil meyakinkan petugas agar memberikan izin keluar kepada suaminya. Walau mungkin resikonya sangat besar, terutama bagi petugas tersebut. Walau hanya diberi waktu dua jam beserta pngawalan ketat dari polisi, namun Maya bersyukur. Sebentar lagi anak-anaknya akan tertawa ceria melihat kedatangan ayahnya.
            Di samping Maya, suaminya tetap menunduk.Maya memberanikan diri menyentuh punggung tangannya. Maya tahu,suaminya pasti merasa segan untuk lebih dulu melakukannya.  Inisiatifnya ini semoga bisa meluluhkan benteng yang sejak tadi kokoh mngantarai mereka. Inisiatifnya tadi semoga dipahami suaminya sebagai bukti bahwa Maya tidak berubah. Maya tetap menunggu suaminya kmbali.
            Lelaki itu tersentak. Tak menyangka Maya akan menggenggam lembut tangannya. Genggaman yang menghentak  kesadarannya tentang kidung kasih yang tetap Maya dendangkan untuknya.
            “Maafkan saya, Bu. Saya telah memporakporandakan  mahligai kita.” Maya menunduk. Tersentuh dengan ucapan suaminya. Walau ragu itu tak mudah dihapus. Bahkan sempat terbersit tanya, mungkinkah semua lelaki baru akan menyadari kekeliruannya setelah terjatuh?
            “Bu, kalau masih ada tempat untukku, kita mulai dari awal  lagi. Saya ingin bahagia bersamamu. Di hari tua kita.” Lanjut suaminya. Air mata Maya merebak. Haru. Bahagia. Dua rasa menyatu. Dadanya berdegup kencang. Badannya bergetar. Dan tiba-tiba saja dia limbung. Suaminya dengan sigap memapahnya. Petugas bergegas membawanya ke Rumah sakit. Sayang sekali, tak berselang lama, suaminya tak merasakan lagi denyut kehidupan dari raga Maya. Maya menutup usia di pangkuan suami yang selalu dinantinya. Senyum tulus tersembul dari bibirnya. Dia meninggal dengan damai. Dalam  pelukan suaminya. ”Serangan jantung.” Kata dokter ketika memberikan penjelasan pada suaminya. 
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar