Oleh: Mira Pasolong
(Tergabung dalam buku antologi Cerpen Move On)
Bulir
bening itu mengalir deras.Isak menyayat sesekali terdengar.Bukanlah lemahnya
sehingga air mata itu harus terkuras.Tidak.Sekali-kali tidak.Air mata yang
menderas itu adalah bukti bakti.Air mata itu bukti kasih.Air mata itu tonggak
yang memapah tubuhnya ketika dia terhuyung. Andai cintanya sudah pupus, maka
dia yakin air mata itupun akan enggan pula mengalir. Cinta itu masih merah
jambu, seperti ketika masih berumur delapan belas tahun, karenanya, air mata pun masih setia mengalir.
“Kita menikah, ya.Aku akan menemui
orang tuamu.”Lelaki itu berkata tegas.Sangatgentle.Wanita
berusia delapan belas tahun itupun tersihir dan hanya mampu menggerakkan
kepalanya ke atas.Setuju.Gayung bersambut.Dua bulan kemudian mereka sudah
menyatu dalam sebuah naungan cinta bernama rumah tangga.Bahagia.Selama
bertahun-tahun hanya kata itu yang mewarnai hari-hari mereka. Semakin lengkap
ketika lima tahun kemudian
dua
nyawa kecil bersandar pada naungan kasih sayangnya. Pasangan ideal dengan dua
anak yang lucu-lucu.Sampai bertahun-tahun kemudian, ketika dua nyawa kecil itu
telah beranjak dewasa, bahagia tetap setia menemani mereka.
Hingga akhirnya, “Bu, minggu depan
aku dilantik jadi kepala dinas.” Katanya berapi-api sambil memeluk isterinya.Dan
mulailah dia dengan ritme kehidupan yang baru.Semakin lama semakin tenggelam
dalam dunianya.Tak ada lagi jeda sejenak untuk sekedar membawa secawan canda
bagi isteri dan dua anaknya.Tapi wanita itu tetap sabar.Mencoba
mengerti.Mencoba menimbang rasa syukur dari setiap bulir air yang jatuh dari
kelopak matanya. Pun ketika suatu hari dia mengetahui bahwa ada mahligai lain
tempat suaminya bertahta. Air bening itu
tetaplah jadi penyemangatnya.
Dua putri cantiknya tumbuh
mengagumkan.Di sela isak yang semakin nyaring terdengar, selalu terselip seutas
senyum untuk dua bidadarinya itu.Sesakit apapun hatinya, anak-anaknya tidak
boleh tahu.Dia harus tetap tampak
tegar dan kuat di hadapan
mereka.Dia
harus menyelamatkan jiwa anak-anaknya dari keterpurukan karena keadaan orang
tuanya.
Maya, nama perempuan berhati pualam itu. Dia
adalah super hero.Wanita lembut yang tegar.Reranting rapuh justru terlukis di
jiwa suaminya kini.Post power syndrome.
Itu mungkin yang menyerang suaminya menjelang ulang tahunnya yang ke lima puluh
lima. “Di mataku engkau tetaplah lelaki perkasa.”Gumamnya tanpa berani
dilafadzkan di hadapan suaminya. Peristiwa beberapa tahun terakhir cukuplah
membuatnya mengerti kalau suaminya tak lagi rindu akan nada-nada kasih yang
selalu dinyanyikan lembut selama ini. “Mungkin ada hati lain yang bisa memberi
kebeningan baginya.” Dia masih ber-positif thinking.Berharap
mahligai kedua itu bisa menguatkan suaminya.
***
“Apa? Pensiun?” suara seorang wanita cantik. Histeris. Mengiris jantung lelaki tua menjelang lima
puluh lima tahun itu. Membuat miris.Kepalanya mengangguk mengiyakan.Ledakan
suara selanjutnya lebih dahsyat.”Lantas apa yang bisa kau berikan padaku
setelah ini?” geramnya.Membuat lelaki itu gemetar.Dia butuh tempat bersandar.Tapi
semuanya nampak rapuh.Tak ada yang cukup kokoh yang bisa menopang tubuhnya.
Hiasan-hiasan keramik
dari kristal mahal memenuhi ruangan tempatnya berdiri. Dia tak boleh
menyentuhnya.Dia tak boleh menyandarinya.Petakalah baginya jika sampai keramik
itu pecah.
“Kamu harus belajar hidup
sederhana.”Suaranya membuat wanita cantik itu semakin kalap, menyambar, melalap
semua yang ada di sekitarnya.Bukannya dia tak memahami tabiat isteri mudanya
itu.Sejak awal menikahinya dia sudah tahu.Tapi kilau kecantikan fisik
mengalahkan pikiran sehatnya.Bahkan setelahnya dia mati rasa.Dia hanya mampu
merasakan kenikmatan duniawi, tanpa ketenangan ukhrawi. Terlena dengan jabatan,
tenggelam dalam pelukan istri muda yang jelita, berkubang dalam liang dosa tak
berkesudahan.
Mata hatinya buta.Silau oleh pesona
duniawi.Semua kemauan isteri mudanya dituruti.Dua anaknya tak pernah lagi
merasakan hangat kasihnya. Terlebih lagi isteri tuanya yang juga sudah menua dimakan
usia. Tak ada lagi yang mampu menarik hatinya untuk selalu berada di antara mereka.Waktunya
hanyalah buat pekerjaan dan isteri mudanya.
“Kita
cerai.”Dengan ringan kata itu meluncur dari mulut wanita cantik
tersebut.Suaminya menganga.Segampang itu?Sementara semuanya sudah dia korbankan
untuknya.Harta, jabatan, keluarga, bahkan idealisme dan harga dirinya.
***
“Dugaan korupsi?” dua gadis berbeda
usia sekitar empat tahun menjerit bersamaan. Koran pagi ini mengabarkan berita
korupsi yang dilakukan ayahanda mereka.Diremasnya koran itu. Disembunyikan dari
mata ibundanya.Tak ingin mereka menambah lagi keperihan itu.
“Ayah khilaf, Nak. “ hanya itu yang
meluncur dari bibir lelaki itu. Selebihnya sunyi.Dinding sel polisi membuat
suasana di antara mereka semakin kaku.
“Tapi untuk apa?” kicau Santi, anak bungsunya. Perih.Matanya
berembun.Tersaput kabut duka.Selama ini mereka hidup pas-pasan.Ibunya hanya
berdaster lusuh.Tak ada perhiasan mencolok. Tak pernah menikmati fasilitas
kantor. Bahkan mobil dinas ayah merekapun tak pernah mereka sentuh. Lantas ke
mana hasil korupsi itu dibawa?
Sekilas Ranti, gadis yang lebih tua, termenung. Ada kilatan informasi yang
berkelabatan di ranah ingatannya.Gosip tentang isteri muda ayahnya.Mata sembab
ibunya sejak gosip itu merebak.Kehadiran ayahnya yang tak cukup sepekan dalam
sebulan. Kini ada tanya teranyam di hatinya. Mungkinkah gosip itu benar adanya?
“Apakah Ayah menyembunyikan sesuatu
dari kami?” Ranti
bertanya penuh selidik.
“Berterus teranglah, Yah.Biar kami
bisa sedikit lebih tenang.”Pinta si sulung itu.Lelaki tua itu hanya mampu
menggeleng-gelengkan kepalanya.Harapannya sudah sirna.Impiannya memudar. Bahkan mungkin dia akan kehilangan putri-putrinya
yang cantik itu.
“Ayah khilaf, Nak.” Sekali lagi
hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.Air mata kini membanjiri pelipis
keriputnya.Air mata penyesalan yang datang terlambat.Terbayang wajah isterinya
di rumah.Wajah cantik yang telah dirubahnya menjadi kuyuh, sayu dan layu.Hanya
sedikit bias kecantikan yang masih tersisa. Perempuan lembut penuh kasih itu
telah dibuatnya menderita.Air matanya semakin menderas.Betapa mata hatinya
selama ini telah buta.Betapa dia selama ini serupa robot yang dengan lincah
memamah semua perintah yang diterimanya.Dan pemilik robot itu adalah isteri
mudanya.
Lelaki itu mendesah.Kini ingatannya
beralih ke isteri mudanya.Tepatnya mantan isteri mudanya. Wanita bahenol yang hanya selisih umur setahun dengan
putri sulungnya. Senyum manis bergaris kemunafikan itu
telah membuatnya tergerus. Hartanya terkuras.Kesetiaannya amblas.Idealismenya
kandas.Semuanya karena pesona palsu wanita itu.
“Semua karena perempuan itu. Dialah
yang memaksa Ayah melakukannya.” Lelaki tua itu berteriak geram.Dua orang sipir
segera mendekati selnya, memintanya untuk diam. Ranti dan Santi
berpandangan.Teriakan ayahnya membuka tabir yang selama ini tertutup rapat.Gosip
selama ini benar adanya. Ayahanda mereka memiliki wanita lain.
Ingin rasanya dua gadis itu memaki
dan bahkan memukul lelaki yang sudah merenta itu.Tapi kepasrahannya di balik
jeruji kokoh membuat keduanya hanya mampu menitikkan air mata lirih. Mereka
akan mencoba berbesar hati. Menerima keadaan ayahnya.Seperti ibunya yang tak
pernah jenuh memintal sabar.
“Ayah harus menebus kesalahan Ayah.
Menetaplah dalam bui.”Kata Ranti sebelum menarik tangan
adiknya.Berlalu.Meninggalkan lelaki tua itu dalam sesal tak berujung.
“Tunggu, Nak.” Serak suara lelaki itu memanggil. Kedua
gadis itu tetap berjalan. Seakan tak mendengar teriakan ayahnya. “Tolong jaga
ibumu untukku,Nak.” Ratapnya lemah. Tak
ada yang mendengar. Lelaki itu kini pasrah. Dia hanya berharap maaf
dari anak-anak dan isterinya. Dia berharap, hukuman yang dijalaninya akan
membukakan pintu maaf itu. Dia berjanji akan mengukir kebahagiaan baru untuk
anak- anak dan isterinya. Walaupun tanpa kursi empuk lagi.
***
Pagi
yang cerah. Seperti biasa, setelah kedua anak gadisnya beraktifitas, Maya akan
segera membersihkan rumah. Ditemani alunan merdu murottal Al-Qur’an dari DVD di
ruang tengah, dia mulai memunguti kertas-kertas yang berceceran di lantai.
Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an selalu mampu menenangkan pikirannya dan
mendamaikan hatinya.
Sejak
dia harus berbagi kebahagiaan dengan wanita yang tak sekalipun dilihatnya itu,
Maya semakin mendekatkan diri pada Sang Pemilik jiwa raga. Dia yakin, hanya
dengan mengadu kepada Allahlah segala luka hatinya bisa tertanggungkan. Walau
tentu saja tetap akan susah sembuh. Bagi Maya, luka karena pengkhianatan
terhadap kesetiaan, adalah luka yang paling perih. Mungkin rasa sakitnya
semakin berkurang, tetapi lukanya tetap membekas dan setiap saat bisa kembali
perih.
“Masih
saja seperti anak kecil.”Gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum tipis,
melihat serpihan-serpihan kertas di lantai. Tak nampak rasa kesal di wajahnya.
Dia masih merasa memiliki dua gadis cilik yang menggemaskan.walaupun nyatanya anak-anak
gadisnya telah menjelma wanita usia dewasa yang cantik dan anggun. Ranti
sebentar lagi akan memulai babak baru kehidupannya. Menjadi seorang isteri.
Sementara Santi baru saja meniti karier sebagai pengacara.
Tangan
Maya terhenti pada tumpukan koran yang sudah kusut. Dia memungut dan
merapikannya. “Koran hari ini.”Gumamnya lagi. Dia tak habis pikir kenapa koran
tersebut sampai kusut. Disusurinya halaman pertama. Headline yang cukup besar
membuat matanyatiba-tiba meredup. Nama lelaki yang telah hampir tiga puluh
tahun menikahinya terpampang jelas di sana. Tangannya bergetar, seiring debaran
jantung yang semakin berpacu.
Hal yang
lama ditakutkan kini terjadi. Suaminya terlibat korupsi. Sejak awal menduduki
jabatan basah, Maya selalu mengingatkan suaminya untuk tetap jujur dalam
bekerja. Tetapi Maya kemudian menjadi mahfum, suaranya tak lebih semilir angin
yang sekedar mampir di telinga suaminya. Memenuhi segala keinginan wanita
keduanya jauh lebih penting daripada sekedar mendengarkan petuah usang seorang
wanita menjelang menopuse seperti
Maya.
Dilipatnya
pelan kertas koran yang telah lusuh itu. Lusuh selusuh hatinya saat ini. Dia
memang sudah lama tak merasakan nikmatnya menjadi seorang isteri, menjadi
tempat berlabuh suami di kala penat. Tapi tetap saja ada nyeri ketika untuk hal
sekrusial saat inipun, dia tak diberitahu.
“Koran
ini harus dimusnahkan.Ranti dan Santi tidak boleh melihatnya.”Gumam Maya sambil
bergegas mencari korek api.
Abu bekas
pembakaran koran itu belum sepenuhnya diterbangkan angin ketika Ratih dan Santi
memasuki pekarangan rumah. Melihat Maya sedang duduk memandangi tempat
pembakaran sampah di samping rumah,
keduanya segera mendekat. Pasti ada yang sudah terjadi pada ibunya.Ratih dan
Santi bertatapan cemas. Sebuah pikiran yang sama melintas di pikiran mereka.
“Ibu
kenapa?”
“Tidak
apa-apa. Ini tadi Ibu bakar sampah. Kenapa jam segini sudah pulang?” Tanya
Maya. Coba disembunyikannya segala galau. Dia tak ingin keceriaan anak-anaknya
hilang jika tahu hal yang menimpa ayah mereka.
“Dia tak
berhak membuat mereka bersedih.” Gumam Maya. Ranti memperhatikan ibunya
mengucapkan sesuatu, namun tak terdengar jelas.
“Ayo
masuk ke dalam, Bu. Hari ini kami sengaja libur. Hari ini kan ulang tahun Ayah.
Kita bikin kejutan buat Ayah ya, Bu.” Maya terdiam mendengar perkataan kedua
anaknya. Dia tidak pernah lupa ulang tahun suaminya. Tapi dia juga sudah lama
tak memberikan apa-apa di hari istimewa lelaki yang sampai saat ini masih
disimpan di hatinya. Dan anak-anaknyapun melakukan hal yang sama.
“Kenapa
baru sekarang, Nak? Ketika Ayah kalian sudah bukan milik kita lagi?” Air bening
hampir saja jatuh di kedua pipinya, jika tak ingat pantangannya untuk menangis
di depan anak.
“Bu,
bukankah Ibu yang selalu bilang Ayah tidak hilang? Dia hanya lupa jalan pulang.
Bukankah Ibu yang selalu mengingatkan kami bahwa ayah amnesia,sehingga melupakan
anak-anak dan isterinya? Orang-orang yang dulu sangat dicintainya.” Santi
memeluk Maya. Melabuhkan sedihnya di pundak perempuan ayu itu.
“Tapi
mungkin Ayah kalian tidak akan bisa datang.” Lirih suara Maya. Ranti dan Santi
berpandangan. Mereka menjadi cemas jangan-jangan ibunya sudah tahu tentang Ayah
yang dipenjara. Sementara dalam benak Maya berseliweran ide untuk
menyembunyikan keadaan yang menimpa suaminya. Maya tak tahu bahwa kedua buah
hatinya telah lebih dahulu mengetahui.
***
“Tolonglah,
Pak. Hanya dua jam.” Maya nampak memohon di depan lelaki berbadan tegap dengan
seragam lengkap.
“Kami
tak ingin ambil resiko, Bu.Maaf.” Katanya lantang. Beranjak meninggalkan wanita
itu. Maya tak putus asa. Dia mengikuti langkah-langkah tegap itu.
“Bu
Maya, suami anda koruptor kelas kakap. Tidak ada alasan untuk mengizinkannya
keluar hanya demi keinginan konyol Ibu.” Petugas berseragam itu membentak. Tak
peduli dengan wajah memelas Maya.
Dibentak
seperti itu, Maya sejenak terpaku. Terngiang kembali suara serak suaminya
ketika marah. Terasa kembali ngilu bekas tendangan kaki-kaki kukuhnya. Perih
merona nyeri di hatinya. Merasai ulang sembilu yang mengirisnya, ketika
suaminya memutuskan pergi untuk wanita lain.
Air
matanya mengalir tak tertahankan. Namun sekejap kemudian bayang dua anak
gadisnya menari di pelupuk mata. Senyum ceria yang sudah lama tersembunyi di
balik tirai hati yang terkoyak. Maya tahu, anak-anaknya menderita dengan
ketakhadiran ayah mereka. Maka Maya
bertekad akan menghadirkan kembali canda ceria itu di rumahnya. Hari ini.
“Pak
Polisi, saya hanyalah wanita biasa. Kebahagiaan keluarga bagi saya di atas
segalanya. Saya mohon, demi kebahagiaan keluarga saya.” Maya kembali memelas.
“Apakah
Ibu akan bahagia hanya dengan dua jam itu?”Polisi tersebut bertanya keheranan.
“Saya
perempuan, Pak. Pengabdian terbesar saya setelah Allah danRasul-Nya adalah
suami saya. Keluarga saya. Dan itulah sumber kebahagiaan saya yang
sesungguhnya.” Polisi itu terkesima mendengar jawaban sederhana yang keluar
dari mulut Maya. Dan hatinya mendadak luluh.
***
Sepasang
sejoli berusia menjelang senja berjalan pelan menyusuri koridor kantor polisi. Yang
lelaki nampak tertunduk. Tepekur. Yang perempuan mengulas senyum ragu-ragu.
Mereka berjalan berdampingan. Tangan-tangan mereka sesekali bergerak seakan
ingin saling menggenggam. Namun jemari-jemari itu seakan enggan berpagut.
Lelaki
itu tetap berjalan menunduk. Ekor matanya sesekali melirik ke arah perempuan di
sampingnya. Lirikan dengan kilatan cahaya beragam makna. Ada sesal. Ada malu.
Terpancar pula cinta. Dadanya bergetar hebat. Degup jantungnya takberaturan.
Dari mulutnya ingin terlontar kata betapa cinta itu masih sesemerbak dahulu.
Sesuatu yang baru disadarinya. Hasratnya begitu ingin merengkuh perempuan
ringkih itu dalam pelukannya. Menebus semua kealpaannya selama ini. Tapi dia
sungguh malu. Malu pada kesabaran, ketegaran dan kesetiaan yang diberikan
isterinya. “Perempuan berhati pualam. Indah
luar dalam.” Desahnya sendu. Terdengar bagai desiran angin di telinga
Maya, perempuan itu.
Ya,
perempuan itu adalah Maya dan lelaki di sampingnya adalah suaminya. Maya
akhirnya berhasil meyakinkan petugas agar memberikan izin keluar kepada
suaminya. Walau mungkin resikonya sangat besar, terutama bagi petugas tersebut.
Walau hanya diberi waktu dua jam beserta pngawalan ketat dari polisi, namun
Maya bersyukur. Sebentar lagi anak-anaknya akan tertawa ceria melihat
kedatangan ayahnya.
Di
samping Maya, suaminya tetap menunduk.Maya memberanikan diri menyentuh punggung
tangannya. Maya tahu,suaminya pasti merasa segan untuk lebih dulu
melakukannya. Inisiatifnya ini semoga
bisa meluluhkan benteng yang sejak tadi kokoh mngantarai mereka. Inisiatifnya
tadi semoga dipahami suaminya sebagai bukti bahwa Maya tidak berubah. Maya
tetap menunggu suaminya kmbali.
Lelaki
itu tersentak. Tak menyangka Maya akan menggenggam lembut tangannya. Genggaman
yang menghentak kesadarannya tentang
kidung kasih yang tetap Maya dendangkan untuknya.
“Maafkan
saya, Bu. Saya telah memporakporandakan
mahligai kita.” Maya menunduk. Tersentuh dengan ucapan suaminya. Walau
ragu itu tak mudah dihapus. Bahkan sempat terbersit tanya, mungkinkah semua
lelaki baru akan menyadari kekeliruannya setelah terjatuh?
“Bu,
kalau masih ada tempat untukku, kita mulai dari awal lagi. Saya ingin bahagia bersamamu. Di hari
tua kita.” Lanjut suaminya. Air mata Maya merebak. Haru. Bahagia. Dua rasa
menyatu. Dadanya berdegup kencang. Badannya bergetar. Dan tiba-tiba saja dia
limbung. Suaminya dengan sigap memapahnya. Petugas bergegas membawanya ke Rumah
sakit. Sayang sekali, tak berselang lama, suaminya tak merasakan lagi denyut
kehidupan dari raga Maya. Maya menutup usia di pangkuan suami yang selalu
dinantinya. Senyum tulus tersembul dari bibirnya. Dia meninggal dengan damai.
Dalam pelukan suaminya. ”Serangan
jantung.” Kata dokter ketika memberikan penjelasan pada suaminya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar